Saham

Karya Pacific Caplok 3,08 Miliar Saham IATA Rp230 Miliar, Kuasai 60,35% Usai Tendang MNC Group

Karya Pacific Investama menyerok 3,08 miliar saham Karya Pacific Energy (IATA) senilai Rp230,35 miliar, mengerek kepemilikannya menjadi 60,35% dan mengukuhkan diri sebagai pengendali penuh. Aksi ini menuntaskan hengkangnya MNC Asia Holding (BHIT) yang melego habis sahamnya, sekaligus diiringi peluncuran logo baru IATA yang harganya melejit 117,24% dalam 11 hari bursa.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Karya Pacific Investama menguasai 60,35% saham IATA senilai Rp230 miliar usai MNC Group melepas pengendalian

Ilustrasi Karya Pacific Investama menguasai 60,35% saham IATA senilai Rp230 miliar usai MNC Group melepas pengendalian (Foto:MNC)

Emitenhub.com - Karya Pacific Investama memperbesar timbunan saham Karya Pacific Energy (IATA). Perusahaan itu menyerok 3.080.669.500 helai atau 3,08 miliar saham emiten eks besutan Hary Tanoesoedibjo tersebut. Aksinya dieksekusi lewat dua transaksi, masing-masing pada 28 Juli 2026 dan 6 Agustus 2026.

Pembelian ditempuh pada kisaran harga Rp60 hingga Rp90 per lembar. Menyusul skema harga itu, Karya Investama merogoh kocek Rp230,35 miliar. Rincian transaksinya sebagai berikut.

Pada aksi perdana 28 Juli 2026, sang pengendali anyar IATA menjala 1,56 miliar lembar di harga Rp60 per saham senilai Rp93,82 miliar. Lalu pada transaksi kedua 6 Agustus 2026, Karya Investama menyedot 1,51 miliar eksemplar di harga Rp90 per lembar sejumlah Rp136,51 miliar.

Berkat rampungnya transaksi bertujuan investasi itu, timbunan saham IATA dalam pangkuan Karya Investama menjadi 18,87 miliar eksemplar, setara porsi kepemilikan 60,35%. Angka itu melonjak 9,85% dari posisi sebelum transaksi yang tercatat 15,79 miliar saham atau setara 50,50%.

Dengan fakta itu, Karya Investama mengukuhkan diri sebagai pengendali penuh IATA sepeninggal MNC Asia Holding (BHIT). Pecah kongsi tersebut ditandai dengan langkah BHIT melego habis 1,79 miliar saham IATA di kisaran Rp59 hingga Rp60. Lewat divestasi setara 5,74% itu, mantan pengendali lama IATA mengoleksi dana taktis Rp107,73 miliar.

Aksi divestasi dieksekusi dalam dua tahap. Pada 21 Juli 2026, BHIT melepas 8.475.000 lembar di harga Rp59 senilai Rp500 juta. Kemudian pada 28 Juli 2026, BHIT melego 1,78 miliar saham di harga Rp60 per helai sejumlah Rp107,23 miliar. Rampungnya transaksi itu membuat BHIT tak lagi menggenggam saham IATA sehelai pun.

Pada perdagangan kemarin, saham IATA tak luput dari koreksi. Maklum, Indeks Harga Saham Gabungan juga tengah tertekan hebat. Alhasil, saham IATA terpangkas 2,33% atau 3 poin menjadi Rp126 per helai.

Dalam lima hari terakhir, saham IATA melonjak 35,48% dari posisi 5 Agustus 2026 di kisaran Rp93 per eksemplar. Namun, bila ditelisik sejak BHIT mendivestasi saham IATA pada 29 Juli 2026 di level Rp58, penguatannya tergolong signifikan.

Dari titik itu, saham IATA melejit 68 poin atau 117,24% menjadi Rp126 per lembar. Ledakan tersebut terjadi hanya dalam tempo 11 hari bursa sejak MNC Group asuhan Hary Tanoesoedibjo melepas pengendalian. IATA kini diperkuat kapitalisasi pasar Rp3,94 triliun dengan price earning ratio 70,35 kali.

Ganti Baju: IATA Perkenalkan Logo Anyar

IATA memperkenalkan logo baru seiring pergantian pengendali perseroan. Langkah ini sekaligus menjadi tindak lanjut usai IATA terbebas dari bayang-bayang MNC Group. Perubahan tersebut telah mengantongi restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Juni 2026.

"Transformasi identitas ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan perseroan menuju fase pertumbuhan berikutnya. Dengan dukungan pengendali baru, perseroan optimistis dapat memperkuat kapabilitas usaha dengan memanfaatkan integrasi dalam ekosistem Karya Pacific Group," tegas Presiden Direktur IATA Suryo Eko Hadianto.

Suryo menegaskan perubahan identitas visual itu tidak memengaruhi kegiatan operasional maupun komitmen Perseroan kepada pelanggan, mitra usaha, investor, kreditur, dan seluruh pemangku kepentingan.

"Logo baru Perseroan akan mulai digunakan secara bertahap pada seluruh media komunikasi, dokumen resmi, platform digital, dan aset korporasi lainnya," tuturnya.

Iklan