Saham

Sinergi KIJA & Pertamina Bangun Kawasan Industri Hijau

Ringkasan Cepat

PT Jababeka Tbk (KIJA) dan PT Pertamina (Persero) memperkuat kolaborasi untuk mewujudkan kawasan industri hijau dengan target emisi nol bersih (net zero emission). Sinergi ini mencakup penyediaan energi bersih seperti PLTS atap, gas, hingga eksplorasi hidrogen hijau guna mendukung dekarbonisasi tenant. Ekosistem keberlanjutan ini diyakini mengunci daya saing KIJA dalam menarik korporasi asing yang terikat kepatuhan ESG global.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi panel surya atap dan infrastruktur ramah lingkungan di Kawasan Industri Jababeka yang terintegrasi dengan suplai energi bersih.

Ilustrasi panel surya atap dan infrastruktur ramah lingkungan di Kawasan Industri Jababeka yang terintegrasi dengan suplai energi bersih. (Foto:KIJA)

Emitenhub.com - PT Jababeka Tbk (KIJA) mempertegas arah bisnis kawasan industri hijau melalui kemitraan strategis dekarbonisasi bersama PT Pertamina (Persero). Langkah transisi energi ini memfasilitasi perusahaan di dalam kawasan untuk memangkas emisi karbon, sekaligus memperkuat daya saing KIJA dalam menarik investasi asing yang kian mengetatkan standar keberlanjutan.

Rencana kolaborasi tersebut disampaikan oleh Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono bersama Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi di Cikarang, Bekasi. Ekspansi energi bersih ini digerakkan melalui Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC), sebuah wadah komunitas penyewa (tenant) yang berfokus mempercepat adopsi industri hijau lewat kemitraan business to business (B2B) dan government to business (G2B).

Fokus pada target emisi nol bersih ini melanjutkan rancangan awal Jababeka sebagai pionir kawasan industri swasta di Indonesia. Sejak berdiri pada 1989, kawasan ini langsung dibangun dengan standar eco-industrial estate hasil kerja sama teknis antara Kementerian Lingkungan Hidup dan pemerintah Jerman melalui ProLH GTZ. Infrastruktur berwawasan lingkungan ini dirancang secara khusus untuk memfasilitasi kebutuhan ekspansi industri skala global.

Ekosistem Berkelanjutan dan Objek Vital Nasional

Komitmen keberlanjutan KIJA tecermin pada fasilitas infrastruktur dasar yang terintegrasi. Selama 35 tahun terakhir, kawasan ini mengoperasikan pembangkit listrik swasta berbahan bakar gas tanpa batu bara, pengolahan air bersih (water treatment plant) berbasis air permukaan, dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpadu.

Manajemen perseroan juga memberlakukan tata tertib lingkungan yang ketat bagi para penyewa. Untuk menekan emisi logistik dan pergerakan truk muatan berlebih (ODOL), Jababeka membangun pelabuhan darat (dry port) yang terkoneksi langsung dengan jaringan kereta api laut, serta menyediakan fasilitas angkutan massal untuk pekerja.

"Lewat sinergi infrastruktur modern dan konsep eko-industri mandiri, Jababeka berhasil menciptakan efek berganda bagi lapangan kerja, UMKM, serta pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Didik.

Dalam tiga dekade, keberadaan Jababeka mendorong Bekasi menjadi pusat manufaktur dengan serapan investasi tertinggi di Jawa Barat dan nasional. Secara kumulatif, kawasan ini telah membuka 1,1 juta lapangan kerja dengan tingkat pendapatan per kapita menembus US$35.000. Saat ini, wilayah Bekasi menyumbang 22 hingga 45 persen dari total ekspor manufaktur Indonesia.

Mengingat kontribusi makro ekonomi yang masif tersebut, pemerintah menetapkan Kawasan Industri Jababeka sebagai Objek Vital Nasional melalui serangkaian beleid, mulai dari Keputusan Presiden pada 2004 hingga revisi Keputusan Menteri Perindustrian pada 2025. Status hukum ini menjamin keamanan absolut terhadap kelangsungan operasional infrastruktur inti kawasan seperti pembangkit listrik, pasokan gas, pengolahan air, hingga arus distribusi barang di dry port.

Ekspansi PLTS dan Peta Jalan Energi Hijau

Transformasi kawasan berlanjut melalui instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 230 kilowatt peak (kWp) di fasilitas pengolahan air KIJA. Proyek hasil kerja sama dengan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) ini telah menyala sejak 2023 dan memproduksi listrik sebesar 858,21 megawatt jam (MWh), setara dengan pemangkasan emisi karbon hingga 734 ton CO2e.

Langkah efisiensi ini diikuti oleh para penyewa kawasan. Hingga September 2026, sebanyak 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka tercatat telah memasang panel surya secara mandiri dengan total kapasitas mencapai 14,5 megawatt peak (MWp).

Mengacu pada kesepakatan awal saat B20 Summit dan World Economic Forum 2022, KIJA dan Pertamina kini memfokuskan penyediaan infrastruktur energi bersih terpusat. Skema kerja sama lanjutan ini mencakup pasokan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, sistem penyimpanan energi baterai (BESS), hingga optimalisasi nilai ekonomi melalui mekanisme kredit karbon.

Selain itu, kedua belah pihak mulai menjajaki pemanfaatan hidrogen hijau untuk menyokong kebutuhan transportasi rendah emisi dalam rancangan kawasan berbasis transit (Transit Oriented Development/TOD).

Eksekusi Dekarbonisasi Penyewa Kawasan

Menatap 2027, Agung menargetkan pengembangan energi bersih ini diperluas pada alternatif lain seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi. Ia menilai komitmen dekarbonisasi di Jababeka tidak sebatas wacana, melainkan telah masuk fase eksekusi oleh para penyewa kawasan.

Sebagai bukti nyata, Unilever saat ini tengah mengembangkan biometana sebagai sumber gas ramah lingkungan bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Sementara itu, Astemo tercatat telah meningkatkan kapasitas panel surya atap dari 1,2 megawatt (MW) menjadi lebih dari 2 MW dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Merespons inisiatif tersebut, PGN dan Pertamina NRE memastikan kesiapan penuh untuk memfasilitasi kebutuhan energi bersih para tenant. Dukungan infrastruktur ini juga akan merambah pada teknologi pengolahan limbah menjadi energi (waste to energy) serta konversi gas limbah menjadi hidrogen untuk memasok kebutuhan energi kawasan industri dan sektor transportasi.

Dari kacamata pasar modal, ketersediaan ekosistem energi hijau yang terintegrasi menjadi faktor krusial bagi kekuatan fundamental KIJA. Fasilitas dekarbonisasi komprehensif ini mampu mengunci loyalitas korporasi multinasional yang terikat target kepatuhan environmental, social, and governance (ESG) global. Keunggulan daya saing operasional ini pada akhirnya akan menjadi katalis positif untuk mengamankan stabilitas pendapatan berulang (recurring income) perseroan secara jangka panjang.

Iklan