Saham

Pefindo Kunci Peringkat idA+ Petrosea, Ini Syarat Biar Naik Kelas

Ringkasan Cepat

Pefindo menegaskan peringkat idA+ untuk PT Petrosea Tbk. (PTRO) beserta obligasi dan sukuk ijarahnya dengan prospek stabil pada 22 September 2026. Peringkat ditopang posisi bisnis dan keuangan yang kuat, tetapi dibatasi persaingan ketat dan risiko harga komoditas. Kenaikan peringkat bergantung pada diversifikasi pendapatan di luar batu bara.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Alat berat operasi kontraktor tambang PT Petrosea Tbk (PTRO) terkait penegasan peringkat idA+ dari Pefindo

Alat berat operasi kontraktor tambang PT Petrosea Tbk (PTRO) terkait penegasan peringkat idA+ dari Pefindo (Foto:PTRO)

Emitenhub.com - Peringkat idA+ untuk PT Petrosea Tbk. (PTRO) kembali dipertegas PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), lengkap dengan Obligasi Berkelanjutan I milik emiten. Pada Selasa (22/9), lembaga tersebut sekaligus menyematkan idA+(sy) untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Petrosea. Prospeknya dipatok stabil.

Fondasi peringkat ini datang dari tiga kekuatan: posisi bisnis Petrosea yang kokoh, layanan yang terintegrasi, dan profil keuangan yang solid. Sebagai kontraktor tambang, gerak perusahaan tetap dibatasi persaingan industri yang sengit, ayunan harga komoditas, serta risiko lingkungan.

Jalan menuju kenaikan peringkat sudah dipetakan Pefindo. Syarat utamanya, Petrosea perlu memperkuat posisi bisnis lewat diversifikasi pendapatan yang benar-benar keluar dari orbit pertambangan dan batu bara.

"Peringkat dapat dinaikkan jika Petrosea berhasil memperkuat posisi bisnisnya dengan cara meningkatkan diversifikasi usaha yang signifikan pada pendapatan yang tidak berkaitan dengan pertambangan dan batu bara," tulis Pefindo dalam rilis resminya pada Selasa (22/9).

Selain diversifikasi, lembaga ini menuntut pengelolaan backlog kontrak jangka panjang bersama mitra kuat, dengan catatan tingkat utang tetap ditekan rendah secara konsisten.

Skenario sebaliknya juga terbuka. Peringkat bisa terpangkas bila pendapatan atau EBITDA meleset jauh dari target, utang membengkak tanpa diimbangi kenaikan EBITDA, atau volume penjualan dari pelanggan utama merosot tajam.

Bagi investor serta pemegang obligasi dan sukuk PTRO, penegasan ini menjadi jangkar kepastian. Lini usahanya yang merentang dari kontrak pertambangan, konstruksi, teknik, hingga logistik menempatkan perusahaan sebagai salah satu penyangga sektor jasa pertambangan nasional.

Adapun struktur kepemilikan per 30 Juni 2026 menempatkan PT Kreasi Jaya Persada di posisi teratas dengan 45,328%, disusul PT Caraka Reksa Optima 24,449% dan porsi publik 30,067%, sementara sisanya di tangan manajemen. KJP sendiri bernaung di Grup Barito, dengan Prajogo Pangestu sebagai pemilik manfaat akhir.

Ke depan, arah peringkat PTRO akan bergantung pada seberapa jauh perusahaan mampu melebarkan pendapatan di luar batu bara sembari menjaga bebannya tetap ringan.

Iklan