Saham

Batas Rp50 Tumbang, Saham Gocap Kini Bisa Meluncur ke Rp1

Ringkasan Cepat

BEI menurunkan batas harga terendah saham dari Rp50 menjadi Rp1 sekaligus menyesuaikan ketentuan ARA dan ARB, efektif 28 September 2026. Kebijakan ini diyakini memperbaiki price discovery dan mencairkan likuiditas saham gocap. Analis mengingatkan volatilitas ikut melonjak, terutama di rentang Rp1 sampai Rp10.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Papan perdagangan Bursa Efek Indonesia setelah batas harga terendah saham turun dari Rp50 menjadi Rp1

Papan perdagangan Bursa Efek Indonesia setelah batas harga terendah saham turun dari Rp50 menjadi Rp1 (IHSG)

Emitenhub.com - Mulai Senin, 28 September 2026, lantai harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi runtuh dari Rp50 ke Rp1. Perombakan batas harga terendah di Pasar Reguler dan Pasar Tunai ini membuka jalan bagi saham gocap dan receh yang selama ini mati suri, dan likuiditas penny stock diharapkan ikut mengalir kembali.

Bersama pemangkasan batas bawah itu, bursa turut merevisi ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB). Dua keputusan direksi menjadi payungnya: SK No. Kep-00136/BEI/09-2026 yang mengubah Peraturan No. II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, dan SK No. Kep-000137/BEI/09-2026 yang merevisi Peraturan No. II-O tentang perdagangan Unit Penyertaan DINFRA. Keduanya terbit Senin (21/9/2026).

Alasan di balik kebijakan ini berpusat pada satu hal: pembentukan harga yang lebih jujur. Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Iding Pardi tidak ingin ada emiten yang nilai wajarnya sebenarnya di bawah Rp50, tetapi terkunci di angka itu tanpa bisa bergerak turun. Begitu gembok dilepas, harga wajar tiap perusahaan diharapkan terbentuk dengan sendirinya, dan likuiditas yang tadinya beku ikut mencair.

Menurut Iding, penghapusan floor price Rp50 hanya menyusul kelaziman yang sudah lama berjalan. Hampir semua bursa dunia, katanya, tak lagi memasang pembatasan harga bawah semacam ini.

Ia juga menepis anggapan bahwa langkah ini merespons tekanan penyedia indeks global. Tidak ada catatan khusus dari pihak seperti MSCI soal harga minimum.

"Ini murni memang inisiatif dari kami, dari bursa dan juga OJK untuk memang sesuai dengan best practice internasional," tuturnya.

Argumen serupa muncul dalam pengumuman resmi bursa. BEI menyatakan perubahan ini dirancang untuk menajamkan price discovery, mengangkat likuiditas, sekaligus memberi keleluasaan bagi pelaku pasar dalam menata portofolionya, sebagaimana disampaikan Sekretaris BEI Elsierra Putri Yosita, Senin (21/9/2026).

Rincian teknisnya berjalan dalam dua fase. Sampai 31 Desember 2026, bursa masih memakai ARB asimetris 15% untuk efek ekuitas berharga di atas Rp10.

Berikut batas ARA dan ARB pada fase pertama:

  • Rp1 hingga Rp10: ARA dan ARB Rp1

  • Di atas Rp10 hingga Rp200: ARA 35%, ARB 15%

  • Di atas Rp200 hingga Rp5.000: ARA 25%, ARB 15%

  • Di atas Rp5.000: ARA 20%, ARB 15%

Memasuki 1 Januari 2027, skemanya berubah menjadi simetris sesuai rentang harga. Saham Rp1-Rp10 tetap dengan ARA dan ARB Rp1, saham Rp11-Rp200 masing-masing 35%, saham di atas Rp200-Rp5.000 sebesar 25%, dan saham di atas Rp5.000 sebesar 20%.

Unit Penyertaan DINFRA menempuh penyesuaian sejenis. Batas ARA dan ARB yang sebelumnya 10% untuk DINFRA berharga di atas Rp50 kini dipecah: rentang Rp1-Rp10 dikenai batas Rp1, sedangkan yang berharga di atas Rp10 tetap 10%. Ketentuan ini berlaku bersamaan dengan perubahan Peraturan No. II-O.

Berkah Likuiditas, Ancaman Volatilitas

Dari sisi likuiditas, dua analis melihat arah yang sama. Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia Benny Kurniawan menilai turunnya batas bawah dari Rp50 ke Rp1 mampu menghidupkan transaksi sekaligus menambah transparansi harga. Sentimennya, menurut dia, mestinya positif, terutama di mata investor asing yang terbiasa dengan pasar tanpa floor price.

Manfaat lain menyangkut kerja investor asing yang mengoleksi saham lewat indeks global seperti MSCI. Selama batas Rp50 masih berlaku, saham yang mentok di angka itu praktis tidak bisa dijual maupun dibeli, sehingga penyedia indeks kesulitan mereplikasi portofolionya saat rebalancing. Dengan lantai harga dilepas, Benny menilai replikasi indeks bisa berjalan mulus.

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya menyorot sisi lain dari koin yang sama: volatilitas. Ia membedakan dampaknya berdasarkan lapisan harga, dan yang paling liar justru ada di rentang terbawah.

"Justru di sini volatilitas harian relatif-nya paling ekstrem. Karena batas AR ditetapkan Rp1 secara nominal, satu tick di rentang ini bisa berarti pergerakan puluhan hingga 100% dalam sehari. Contoh saham Rp1 yang naik ke Rp2 artinya naik 100%," ujar Hendry, Selasa (22/9/2026).

Meski begitu, ia memandang gerak bebas harga ini sebagai koreksi yang sehat. Saham gocap selama ini terperangkap karena tak bisa turun di bawah Rp50. Kini emiten yang secara fundamental memang layak dihargai lebih rendah akan benar-benar terkoreksi, dan harga kembali memantulkan nilai wajarnya.

"Ketika saham boleh turun ke nilai wajarnya, harga kembali menjalankan fungsi utamanya: menyampaikan sinyal tentang kondisi emiten. Emiten buruk dihargai murah, emiten baik dihargai pantas. Ini definisi efisiensi," tuturnya.

Efek serupa terasa pada likuiditas. Bid-ask yang tadinya membeku di gocap mulai cair begitu ada rentang harga untuk bertransaksi. Hendry menyebutnya keputusan yang benar secara struktural, tetapi dengan satu syarat: literasi investor harus jauh lebih tinggi.

Konsekuensinya nyata di meja transaksi. Rentang harian yang melebar memang memperbesar peluang cuan, tetapi memperbesar potensi rugi dalam takaran yang sama. Kebiasaan lama bersandar pada ARB 15% sebagai rem perlindungan implisit, kata Hendry, harus ditinggalkan. Disiplin cut-loss dan ukuran posisi yang lebih kecil kini menjadi keharusan.

Saham Rp1-Rp10 ia tandai sebagai arena spekulasi paling ekstrem, dengan ayunan sampai ratusan persen per tick. Namun di baliknya ada sisi jernih: harga yang bebas turun berfungsi sebagai penyaring. Strategi buy-on-weakness pada emiten berfundamental kuat justru lebih ampuh, sebab titik masuknya kini lebih dekat ke nilai wajar.

Iklan