Emitenhub.com - Harga komoditas global diperkirakan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal IV-2026, terutama akibat gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Tekanan harga tersebut diproyeksikan mulai mereda pada 2027, meskipun pemulihan di pasar minyak, gas, logam, dan komoditas pertanian diperkirakan berlangsung dengan kecepatan berbeda.
Oxford Economics memperkirakan indeks spot S&P GSCI, yang mencerminkan pergerakan harga berbagai komoditas, akan meningkat rata-rata 28% sepanjang 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam laporan riset terbarunya yang dikutip Kamis (15/10/2026), lembaga tersebut memperkirakan indeks komoditas global mencapai rekor tertinggi pada tiga bulan terakhir 2026.
Lonjakan harga terutama berasal dari sektor energi. Namun, dampaknya meluas ke berbagai industri karena kenaikan biaya bahan bakar, listrik, dan transportasi turut meningkatkan ongkos produksi.
Oxford Economics membandingkan kondisi tersebut dengan gangguan rantai pasok setelah pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina, ketika hambatan produksi serta distribusi menyebabkan tekanan harga pada berbagai komoditas secara bersamaan.
Perbedaannya, guncangan kali ini lebih terkonsentrasi pada energi, sementara perkembangan harga masing-masing komoditas menunjukkan pola yang tidak seragam.
Para ekonom Oxford Economics memperkirakan harga komoditas secara keseluruhan akan turun secara bertahap pada 2027 sejalan dengan pemulihan ekspor energi dari Timur Tengah.
Namun, laju penurunan harga masih bergantung pada normalisasi pasokan fisik dan perkembangan risiko geopolitik di kawasan tersebut.
Harga Minyak Brent Diprediksi Bertahan di Atas US$100 hingga 2027
Minyak mentah menjadi komoditas yang paling terdampak gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Oxford Economics memperkirakan harga minyak Brent akan bertahan di atas rata-rata US$100 per barel hingga kuartal II-2027.
Proyeksi tersebut mempertimbangkan dampak serangan terhadap infrastruktur ekspor di kawasan Laut Merah serta meningkatnya premi risiko geopolitik yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Menurut Oxford Economics, pemulihan kapasitas ekspor belum tentu langsung membuat harga minyak kembali normal.
Ketika pasokan fisik mulai pulih, ketidakpastian mengenai keamanan jalur perdagangan dan stabilitas kawasan masih dapat mempertahankan harga minyak pada level tinggi.
Artinya, premi risiko geopolitik diperkirakan menjadi salah satu penghambat utama penurunan harga meskipun ketersediaan minyak di pasar membaik.
Oxford Economics tetap memperkirakan harga Brent dalam jangka panjang akan bergerak menuju keseimbangan sekitar US$60 per barel.
Namun, waktu pencapaian level tersebut direvisi menjadi 2029, lebih lambat dibandingkan proyeksi sebelumnya pada 2028.
Perubahan perkiraan tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga minyak dipandang berpotensi berlangsung lebih lama daripada estimasi sebelumnya.
Kenaikan harga juga terjadi pada produk olahan minyak. Di Eropa, selisih harga penyulingan atau refining spread untuk diesel dilaporkan mendekati US$100 per barel.
Kondisi tersebut meningkatkan tekanan biaya pada sektor yang bergantung pada bahan bakar diesel, termasuk pertambangan, pertanian, dan transportasi.
Penggunaan diesel yang besar pada kendaraan pengangkut, alat berat, serta mesin pertanian membuat kenaikan harga energi dapat memengaruhi biaya produksi komoditas lain.
Dengan demikian, gangguan pasokan minyak tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga hasil tambang dan produk pertanian melalui peningkatan biaya operasional.
Harga Gas Alam Berisiko Tetap Tinggi Sepanjang Musim Dingin
Selain minyak, pasar gas alam diperkirakan masih menghadapi tekanan pasokan pada musim dingin 2026–2027.
Oxford Economics menilai ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) lebih sulit dialihkan dibandingkan pengiriman minyak mentah ketika terjadi gangguan jalur perdagangan.
Keterbatasan tersebut membuat pasar LNG tetap rentan terhadap perkembangan konflik dan gangguan infrastruktur energi di Timur Tengah.
Permintaan energi selama musim dingin juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama ketika pasokan belum sepenuhnya kembali normal.
Dalam skenario dasarnya, Oxford Economics memperkirakan harga gas alam bertahan pada level tinggi sepanjang musim dingin 2026–2027.
Tekanan harga baru diperkirakan berkurang secara bertahap ketika tambahan pasokan LNG global mulai tersedia.
Namun, waktu pemulihan tetap bergantung pada kondisi infrastruktur ekspor dan kelancaran distribusi energi internasional.
Oxford Economics Proyeksikan Harga Emas Tembus US$5.140 pada 2028
Berbeda dari minyak dan gas, respons harga emas terhadap ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan lebih terbatas.
Oxford Economics menilai kenaikan harga energi turut meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Ketika tekanan inflasi meningkat, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat menopang imbal hasil obligasi pemerintah AS dan nilai tukar dolar.
Penguatan kedua instrumen tersebut berpotensi membatasi kenaikan emas, meskipun logam mulia biasanya mendapat dukungan permintaan sebagai aset aman atau safe haven ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.
Meski demikian, Oxford Economics tetap memperkirakan harga emas melanjutkan tren kenaikan dalam beberapa tahun mendatang.
Lembaga tersebut memproyeksikan harga emas rata-rata mencapai US$4.515 per troy ounce pada 2026, kemudian meningkat menjadi US$4.840 pada 2027.
Pada 2028, rata-rata harga emas diperkirakan kembali naik menjadi US$5.140 per troy ounce.
Proyeksi tersebut didukung oleh permintaan investasi dan pembelian emas oleh bank sentral, terutama dari negara-negara berkembang yang berupaya mendiversifikasi cadangan devisanya.
Di sisi kebijakan moneter, Oxford Economics memperkirakan jumlah kenaikan suku bunga Federal Reserve akan lebih sedikit dibandingkan ekspektasi pasar keuangan saat ini.
Apabila perkiraan tersebut terealisasi, tekanan kenaikan terhadap imbal hasil obligasi dan dolar AS berpotensi berkurang sehingga memberikan ruang bagi penguatan harga emas.
Dengan demikian, prospek emas dinilai berbeda dari komoditas energi. Harga minyak dan gas lebih banyak dipengaruhi pemulihan pasokan serta risiko geopolitik, sedangkan arah harga emas turut bergantung pada kebijakan moneter AS, pergerakan dolar, dan permintaan bank sentral.


