Market

Konsumsi Batu Bara AS Diprediksi Turun 8% pada 2026, Ekspor Jadi Penyelamat

Ringkasan Cepat

Energy Information Administration (EIA) memproyeksikan konsumsi batu bara Amerika Serikat turun 8% pada 2026 seiring harga gas alam yang rendah membuat pembangkit gas lebih dipilih ketimbang batu bara, sementara permintaan batu bara metalurgi tertekan oleh lemahnya permintaan baja global. Namun, ekspor batu bara AS naik 19,1% pada kuartal II/2026 dan sebagian mengimbangi lemahnya permintaan domestik, didorong konflik Timur Tengah yang mengerek harga gas dan memicu peralihan ke batu bara di Eropa

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi penurunan konsumsi batu bara Amerika Serikat pada 2026 yang diimbangi kenaikan ekspor ke pasar Eropa dan Asia

Ilustrasi penurunan konsumsi batu bara Amerika Serikat pada 2026 yang diimbangi kenaikan ekspor ke pasar Eropa dan Asia (Foto:PTBA)

Emitenhub.com - Harga gas alam yang bertahan rendah hingga puncak musim panas membuat pembangkit listrik tenaga gas lebih dipilih ketimbang batu bara di Amerika Serikat. Akibatnya, permintaan batu bara termal di negeri Paman Sam itu melandai, diperparah lemahnya permintaan baja global.

Energy Information Administration (EIA) baru-baru ini memproyeksikan total konsumsi batu bara AS turun 8% secara tahunan pada 2026. Tekanan juga membebani permintaan domestik untuk batu bara metalurgi, seiring lemahnya permintaan baja global yang terutama berdampak pada produksi AS.

Namun, di tengah penurunan konsumsi domestik itu, ekspor justru menjadi penyelamat. Laporan S&P Global yang terbit Jumat (18/9/2026) menyatakan ekspor batu bara AS meningkat tahun ini, sehingga sebagian mengimbangi lemahnya permintaan domestik.

Kenaikan ekspor tersebut tercatat 19,1% secara tahunan pada kuartal II/2026. Pendorongnya adalah harga LNG dan gas alam yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah, yang memicu peralihan penggunaan bahan bakar dari gas ke batu bara di Eropa dan Asia, sehingga mengerek permintaan batu bara termal melalui jalur laut.

"Meskipun permintaan domestik untuk batu bara metalurgi cenderung menurun, ekspor justru terbantu oleh pembukaan kembali tambang di West Virginia dan pembukaan tambang Blue Creek milik Warrior Met Coal, yang menambah pasokan untuk ekspor," tulis S&P dalam laporannya.

Sederet faktor tersebut mendongkrak kinerja produsen pada kuartal II/2026, kendati permintaan di dalam negeri lesu. Ke depan, harga gas alam yang rendah serta tingginya cadangan batu bara diperkirakan membatasi produksi batu bara hingga 2027.

"Meskipun harga gas alam diperkirakan akan kembali normal setelah 2027, pasar batu bara AS akan menghadapi tekanan baru akibat ekspansi pembangkit listrik tenaga surya dan angin di wilayah-wilayah yang memiliki kondisi ekonomi serta kebijakan negara bagian yang mendukung," ujarnya.

Proyeksi Jangka Panjang Pasar Energi

Lebih jauh, S&P Global memperkirakan gelombang penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara serta penurunan tingkat pemanfaatannya hingga 2035. Pada tahun tersebut, kapasitas pembangkit batu bara sebesar 44,4 GW diperkirakan berhenti beroperasi.

Seiring itu, pangsa pembangkit listrik tenaga batu bara diproyeksikan menyusut menjadi 7,2% hingga 2035, dari 16,3% total pembangkitan listrik pada 2027.

Prospek Produksi dan Permintaan

Sinyal pelemahan sudah terlihat dari data pengiriman. Selama empat minggu yang berakhir pada 22 Agustus 2026, pengiriman batu bara rata-rata mencapai 10,2 juta ton, atau 6,4% di bawah angka pada periode sama 2025.

Meski tren pengiriman Agustus 2026 lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, rendahnya volume pengiriman selama puncak musim panas mencerminkan dampak tingginya persediaan serta tingkat pemanfaatan pembangkit batu bara yang moderat.

Kondisi tersebut membuat S&P merevisi proyeksinya. "Jika sebelumnya kami memproyeksikan pertumbuhan produksi secara keseluruhan pada tahun ini, kini kami memperkirakan produksi sebesar 510 juta ton, turun 3,2% dibandingkan 2025," lanjut S&P.

Untuk 2027, S&P memproyeksikan tingkat produksi yang stagnan, dengan kenaikan harga gas alam diimbangi tingginya persediaan batu bara. Mulai 2028, pertumbuhan pembangkitan listrik dari gas alam dan energi hijau diperkirakan mengurangi porsi pembangkitan berbasis batu bara.

Secara keseluruhan, pasar batu bara AS, mencakup permintaan domestik dan ekspor, diprediksi turun 122 juta ton antara 2026 dan 2031.

Prospek Global yang Justru Menanjak

Berbeda dengan tren di AS, laporan Coal Mid-Year Update 2026 oleh International Energy Agency (IEA) menyatakan kemacetan kargo minyak dan gas di Selat Hormuz akan mendorong permintaan batu bara global kembali ke posisi rekor pada 2026.

Permintaan batu bara global diperkirakan meningkat 1,2% pada 2026 menjadi 8,94 miliar ton (Bt), membalikkan perkiraan penurunan sebelumnya. Perubahan ini terutama mencerminkan krisis di Timur Tengah dan pola cuaca El Nino yang sangat kuat.

Menurut laporan tersebut, situasi ini bisa kembali berubah pada 2027, meski masih diliputi ketidakpastian yang signifikan. "Permintaan batu bara global bisa menurun pada 2027. Namun, jika selat tersebut tetap sebagian besar tertutup bagi pengiriman LNG, permintaan batu bara bisa meningkat lebih lanjut," kata IEA.

Secara kawasan, arahnya beragam. Amerika Serikat diperkirakan mengalami penurunan permintaan batu bara sebesar 7% pada 2026, berbalik dari peningkatan sementara pada 2025. Adapun di Uni Eropa, total permintaan tahunan batu bara kini diperkirakan mencapai 276 juta ton pada 2026. Sementara itu, permintaan batu bara Cina diproyeksikan meningkat 1% pada 2026 menjadi 5 miliar ton, menyusul revisi naik atas perkiraan sebelumnya.

Iklan