Saham

Saham ASII Tertekan Mobil Listrik China, Analis Pasang Target hingga Rp7.000

Ringkasan Cepat

Saham Astra International (ASII) menghadapi tekanan persaingan kendaraan listrik China seiring pangsa pasar roda empat turun menjadi 46,5% pada kuartal III-2026. Namun, perbaikan margin otomotif dan kontribusi bisnis lain menopang kinerja. BRI Danareksa menargetkan harga ASII Rp6.950, MNC Sekuritas Rp7.000, dan CGS International Rp5.550 per saham.

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Prospek saham Astra International (ASII) di tengah persaingan kendaraan listrik China, dengan target harga Rp5.550 hingga Rp7.000 dari tiga sekuritas.

Prospek saham Astra International (ASII) di tengah persaingan kendaraan listrik China, dengan target harga Rp5.550 hingga Rp7.000 dari tiga sekuritas. (Foto ASII)

Emitenhub.com - PT Astra International Tbk (ASII) menghadapi tekanan persaingan yang semakin ketat dari produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) asal China. Meski pangsa pasar kendaraan roda empat mengalami penurunan, sejumlah analis menilai fundamental perseroan masih ditopang oleh pemulihan profitabilitas otomotif, efisiensi operasional, serta diversifikasi bisnis.

Pangsa pasar kendaraan roda empat Astra tercatat turun menjadi 46,5 persen pada kuartal III-2026, dibandingkan 50,9 persen pada semester pertama 2026. Secara kumulatif, pangsa pasar perseroan sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 49,3 persen.

Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menilai persaingan dengan produsen otomotif asal China menjadi salah satu tantangan utama Astra. Namun, tekanan terhadap pangsa pasar tersebut belum sepenuhnya menghambat pemulihan profitabilitas bisnis otomotif.

Berdasarkan riset yang dikutip Minggu (8/11/2026), laba bisnis kendaraan roda dua Astra meningkat 18 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026. Sementara itu, laba bisnis komponen otomotif tumbuh lebih tinggi, yakni 34 persen YoY.

Perbaikan juga terlihat pada margin operasional distribusi kendaraan roda empat yang meningkat menjadi 2,4 persen pada kuartal III-2026, dari sebelumnya 1,6 persen pada kuartal II-2026.

Menurut Erindra, peningkatan margin tersebut didukung pengelolaan diskon penjualan yang lebih terkendali serta kontribusi pendapatan dari bisnis suku cadang dan layanan purnajual.

Meski demikian, manajemen Astra memperkirakan pangsa pasar kendaraan roda empat sepanjang 2026 akan berada di bawah 50 persen seiring meningkatnya kompetisi industri otomotif domestik.

Untuk mengembalikan posisi pasar, Astra menyiapkan strategi jangka menengah dengan memperluas pilihan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE), hibrida, hingga kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV).

Manajemen menargetkan pemulihan pangsa pasar dalam tiga hingga empat tahun mendatang. Namun, Erindra menilai upaya mengembalikan pangsa pasar ke level 50 persen dalam waktu dekat masih menghadapi tantangan.

Di luar otomotif, kontribusi bisnis alat berat dan pertambangan melalui PT United Tractors Tbk (UNTR) diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang kinerja konsolidasian Astra.

Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih ASII tahun buku 2026 sebesar 5,3 persen menjadi Rp29,1 triliun.

Sementara itu, proyeksi laba bersih untuk 2027 dan 2028 turut direvisi masing-masing menjadi Rp33,1 triliun dan Rp33,7 triliun, dengan penyesuaian sebesar 2,1 persen dan 5,2 persen.

Bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan Topang Kinerja Astra

Research Analyst MNC Sekuritas, M. Rudy Setiawan, menilai bisnis otomotif dan jasa keuangan Astra masih menunjukkan ketahanan di tengah persaingan pasar.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26), pendapatan segmen otomotif meningkat 7,7 persen menjadi Rp101,7 triliun. Laba bersih segmen tersebut juga tumbuh 8,3 persen menjadi Rp9,8 triliun.

Dengan capaian tersebut, bisnis otomotif menyumbang sekitar 39,8 persen terhadap laba inti konsolidasian Astra.

Salah satu pendukungnya adalah PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), yang membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 15 persen menjadi Rp17 triliun.

Laba bersih AUTO juga meningkat 14,7 persen menjadi Rp1,8 triliun sepanjang periode tersebut.

Rudy menilai rencana penawaran tender sukarela oleh ASII untuk meningkatkan kepemilikan saham di AUTO hingga 84,95 persen mencerminkan keyakinan grup terhadap prospek bisnis komponen otomotif.

Sementara itu, segmen jasa keuangan Astra mencatat pendapatan sebesar Rp26,4 triliun atau meningkat 7,4 persen secara tahunan.

Laba bersih dari bisnis tersebut mencapai Rp7,2 triliun, tumbuh 6,3 persen YoY, dengan kontribusi sekitar 29,1 persen terhadap total laba inti perseroan.

Pertumbuhan lebih tinggi juga terjadi pada kelompok bisnis lainnya, mencakup infrastruktur, agribisnis, properti, teknologi informasi, dan kesehatan.

Gabungan laba bersih segmen tersebut meningkat 36,5 persen menjadi Rp2,6 triliun. Tambahan laba sekitar Rp684 miliar dari lini usaha ini membantu mengimbangi sebagian penurunan laba bisnis solusi pertambangan dan alat berat sebesar Rp2 triliun.

Menurut Rudy, diversifikasi usaha dan posisi keuangan yang relatif stabil menjadi faktor pendukung daya tahan bisnis Astra.

Meski demikian, persaingan dengan produsen kendaraan asal China dan Korea Selatan tetap menjadi risiko. Kedua kelompok produsen tersebut masing-masing memiliki pangsa pasar sekitar 19 persen dan 2 persen.

Tiga Sekuritas Ungkap Target Harga Saham ASII

Analis CGS International Sekuritas, Handy Noverdanius, turut menyoroti pemulihan laba bersih inti Astra yang mencapai Rp24,6 triliun hingga September 2026.

Menurutnya, pemulihan tersebut didukung penurunan beban nonoperasional serta kembali beroperasinya tambang emas Martabe.

Dari sisi pembiayaan, bisnis keuangan konsumen Astra mencatat pertumbuhan sebesar 6 persen secara tahunan hingga September 2026.

Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan pembiayaan Federal International Finance (FIF) sebesar 6 persen dan Astra Credit Companies (ACC) sebesar 11 persen.

Kualitas portofolio pembiayaan juga dinilai tetap terkendali. Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) ACC tercatat sebesar 0,46 persen, sedangkan FIF berada pada level 1,60 persen.

Sejalan dengan perkembangan kinerja tersebut, tiga perusahaan sekuritas mempertahankan rekomendasi positif terhadap saham ASII, meskipun memiliki target harga berbeda.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp6.950 per saham.

MNC Sekuritas juga memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp7.000 per saham. Sementara itu, CGS International Sekuritas menetapkan rekomendasi add dengan target harga Rp5.550 per saham berdasarkan metode penilaian sum-of-the-parts (SOTP).

Di pasar saham, ASII ditutup pada level Rp5.000 per saham pada perdagangan Jumat (6/11/2026).

Harga tersebut mencerminkan penurunan sebesar 25,37 persen sejak awal tahun (year-to-date/YtD), meskipun saham ASII mencatat penguatan 3,73 persen dalam sepekan terakhir.

Ke depan, kinerja Astra akan dipengaruhi kemampuannya mempertahankan margin bisnis otomotif di tengah persaingan kendaraan listrik, menjaga kualitas portofolio pembiayaan, serta mengoptimalkan kontribusi segmen pertambangan dan bisnis nonotomotif.

Iklan