Emitenhub.com - PT Astra International Tbk. (ASII) memasang kuda-kuda menyongsong 2027. Konglomerasi ini memusatkan strategi pada tiga lini inti, yakni otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat.
Ketiganya bukan pilihan sembarangan. Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti menyebut tiga bisnis itu menyumbang sekitar 90% laba perseroan, dan karena itu belanja modal maupun investasi bakal diarahkan ke sana lebih dulu.
Meski fokus mengerucut, pintu ke luar tidak ditutup rapat. Astra tetap membuka ruang bagi peluang di lini Wider Businesses sepanjang memenuhi kriteria investasi, meski porsinya diperkirakan tidak besar.
"Untuk saat ini, kami belum dapat memberikan detail lebih lanjut mengenai rencana ekspansi dan investasi tersebut karena masih dalam proses pembahasan dan evaluasi," ucap Tira dalam Media Day Astra, Rabu (23/9/2026).
Ada saringan yang dipakai sebelum ASII menaruh dana. Perseroan mengutamakan bisnis yang punya strategic fit, mampu memberi imbal hasil memadai, sekaligus memperkuat ekosistem yang sudah ada.
Rp36 Triliun Capex Astra, Ke Mana Mengalir
Realisasi belanjanya sendiri baru separuh jalan. Sampai akhir Juni 2026, ASII sudah mencairkan capital expenditure (capex) sekitar Rp17 triliun dari pagu Rp36 triliun.
"Realisasi capex ini digunakan untuk mengakuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam yang dilakukan PT United Tractors Tbk.," ujar Tira.
Sisa anggarannya diarahkan untuk menopang pertumbuhan bisnis ke depan. Tira menegaskan tiap rupiah belanja modal akan terus dievaluasi berkala dan wajib menyokong produktivitas usaha.
Presiden Direktur Astra International Rudi lebih dulu membedah anggaran capex ke dalam dua kantong: belanja modal rutin (maintenance capex) dan investasi strategis.
"Sepanjang 2026 kami mengalokasikan sekitar Rp36 triliun untuk capex, di mana apabila dibagi ada Rp15 triliun untuk maintenance capex dan Rp21 triliun untuk investasi," ujarnya dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).
Pembagiannya punya sasaran jelas. Belanja rutin Rp15 triliun terutama mengalir ke pilar solusi pertambangan dan alat berat di bawah UNTR, sedangkan dana investasi Rp21 triliun disebar selektif ke sektor strategis yang sejalan dengan bisnis inti.
Otomotif Jadi Penopang ASII
Realisasi paruh pertamanya justru mengecewakan pasar. Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mencatat laba bersih ASII sepanjang semester I/2026 turun 19,2% secara tahunan menjadi Rp12,53 triliun. Angka itu baru 38,5% dari estimasinya dan 37,9% dari konsensus pasar, jauh di bawah harapan.
Biang keroknya terpusat di satu segmen. Menurut Nurcahyadi, lini Heavy Equipment, Mining, Construction, and Energy (HEMCE) menekan kinerja lewat penyusutan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk (PATMI) sebesar 46,1% yoy.
Dua hal ia tuding sebagai pemicunya: penghentian sementara operasional tambang emas Martabe dan molornya regulasi kuota produksi batu bara nasional. Keduanya memangkas volume pertambangan dan menggerus margin di tingkat grup secara meluas.
Beban itu tertahan oleh lini konsumer. Segmen otomotif justru tumbuh 9,2% yoy menjadi Rp5,96 triliun, ditopang kenaikan volume yang sehat pada kendaraan roda dua dan roda empat, kinerja kokoh divisi komponen, serta kontribusi tebal dari bisnis jasa keuangan.


