Saham

Laba Pakuwon Jati (PWON) Turun 16% Jadi Rp1,78 Triliun, Pendapatan Masih Tumbuh

Ringkasan Cepat

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatat penurunan laba bersih 16,03 persen menjadi Rp1,78 triliun hingga kuartal III-2026, meskipun pendapatan tumbuh 1,76 persen menjadi Rp5,21 triliun. Pelemahan laba dipengaruhi peningkatan sejumlah beban serta perubahan pos lain-lain bersih menjadi beban Rp327,69 miliar.

• 3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Kinerja keuangan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) hingga kuartal III-2026 dengan laba bersih Rp1,78 triliun dan pendapatan Rp5,21 triliun.

Kinerja keuangan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) hingga kuartal III-2026 dengan laba bersih Rp1,78 triliun dan pendapatan Rp5,21 triliun.

Emitenhub.com - PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatat penurunan laba bersih sebesar 16,03 persen menjadi Rp1,78 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pelemahan kinerja tersebut terjadi meskipun pendapatan dan laba kotor perseroan masih tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dipublikasikan Senin (2/11/2026), laba bersih PWON menyusut dari Rp2,12 triliun pada Januari-September 2025. Sementara itu, pendapatan usaha meningkat 1,76 persen menjadi Rp5,21 triliun dari sebelumnya Rp5,12 triliun.

Pertumbuhan pendapatan diikuti kenaikan laba kotor sebesar 4,26 persen menjadi Rp2,96 triliun, dibandingkan Rp2,84 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Beban pokok pendapatan turun 1,31 persen dari Rp2,28 triliun menjadi Rp2,25 triliun. Perseroan juga berhasil menekan beban penjualan menjadi Rp245,81 miliar dari sebelumnya Rp247,72 miliar.

Kenaikan Beban dan Pos Lain-lain Tekan Laba

Di tengah perbaikan laba kotor, PWON menghadapi peningkatan sejumlah beban operasional. Beban umum dan administrasi naik 10,11 persen menjadi Rp466,35 miliar dari Rp423,52 miliar.

Beban keuangan turut meningkat 1,29 persen menjadi Rp272,99 miliar, sedangkan beban pajak final bertambah 1,61 persen menjadi Rp333,32 miliar.

Perseroan juga membukukan penghasilan bunga sebesar Rp446,34 miliar, relatif tidak berubah dari Rp446,73 miliar pada periode Januari-September 2025.

Pada pos instrumen keuangan, keuntungan derivatif bersih melonjak 5.643 persen menjadi Rp72,37 miliar dari Rp1,26 miliar. Kerugian selisih kurs mata uang asing juga menyusut 71,43 persen menjadi Rp44,86 miliar, dibandingkan Rp157,05 miliar pada periode sebelumnya.

Namun, perubahan signifikan terjadi pada pos lain-lain bersih yang berbalik mencatatkan beban Rp327,69 miliar. Padahal, pada sembilan bulan pertama 2025, pos tersebut masih menghasilkan pendapatan Rp238,17 miliar.

Perubahan ini turut menekan laba sebelum pajak sebesar 15,96 persen menjadi Rp1,79 triliun dari Rp2,13 triliun.

Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan bersih Rp2,77 miliar, laba bersih periode berjalan PWON tercatat sebesar Rp1,78 triliun.

Laba Pemegang Saham Turun, Aset Tetap Bertumbuh

Dari total laba tersebut, bagian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,39 triliun. Nilainya turun 19,28 persen dibandingkan Rp1,73 triliun pada periode Januari-September 2025.

Adapun laba yang menjadi bagian kepentingan nonpengendali tercatat sebesar Rp390,23 miliar, sedikit lebih rendah dari Rp398,25 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan profitabilitas juga terlihat pada laba per saham dasar yang menyusut menjadi Rp28,93 dari Rp35,85 per saham.

Total penghasilan komprehensif PWON mencapai Rp1,73 triliun hingga September 2026. Angka tersebut turun 19,86 persen dibandingkan Rp2,16 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Meski laba melemah, posisi aset perseroan masih menunjukkan pertumbuhan. Hingga 30 September 2026, total aset PWON mencapai Rp37,73 triliun atau meningkat 3,47 persen dari Rp36,46 triliun pada akhir Desember 2025.

Pada periode yang sama, total liabilitas perseroan tercatat Rp10,32 triliun, sementara ekuitas mencapai Rp27,41 triliun.

Iklan