Emitenhub.com - Emiten produsen Tolak Angin, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), tengah berupaya melakukan berbagai cara untuk memulihkan kinerja perseroan. Kendati SIDO memproyeksikan kinerja susut pada tahun ini, raja produsen jamu tersebut tidak tinggal diam.
Selain berupaya mengembalikan penjualan perseroan ke level normal, Sido Muncul disebut-sebut bakal mendorong pertumbuhan pada sisa tahun melalui peluncuran produk baru, perluasan ekspor ke negara-negara baru, serta memastikan sell-out tecermin dalam sell-in perseroan.
"Untuk kuartal III dan IV, prioritas kami adalah untuk memulihkan penjualan melalui penjualan Tolak Angin yang sudah lebih sehat di distributor, antara lain meningkatkan end consumer demand. Tarikan end consumer akan menarik level distributor, dan penjualan pabrik," kata Direktur Keuangan Sido Muncul Budiyanto dalam Public Expose Live 2026, belum lama ini.
Adapun sepanjang Januari-Juni 2026, SIDO hanya mampu membukukan total pendapatan senilai Rp1,46 triliun, terkoreksi 19,80% secara tahunan (year on year/YoY) dari periode sama 2025 sebesar Rp1,82 triliun.
Sejalan dengan itu, laba bersih turut terkoreksi 44,43% YoY menjadi Rp333,65 miliar pada semester I/2026, dari raihan sebesar Rp600,46 miliar pada periode sama 2025.
Susutnya kinerja fundamental perseroan merupakan konsekuensi dari normalisasi pengiriman produk baru Tolak Angin ke distributor Sido Muncul. Selama periode Februari-Mei 2026, Sido Muncul gencar melakukan normalisasi atas penjualan sell-in, lantaran terdapat banyak distributor perseroan yang memiliki kelebihan persediaan Tolak Angin.
"Kami mengambil keputusan untuk mengurangi tingkat persediaan di distributor tersebut hingga mencapai tingkat normal yang sehat. Karena itu, revenue yang tercatat ke distributor mengalami penurunan," ujar Budiyanto.
Budiyanto menerangkan stok yang melebihi tingkat persediaan akan menyita lebih banyak ruang yang dapat dialokasikan perseroan bagi produk-produk baru. Dengan begitu, aksi ini dilakukan untuk mengembalikan ketersediaan produk ke level yang normal.
Meski begitu, Budiyanto menerangkan penjualan sell-out atau penjualan produk dari distributor ke konsumen akhir tidak mengalami penurunan. Ia mengacu pada survei Nielsen yang menyebut Sido Muncul masih memegang 71% pangsa pasar.
Hanya saja, penjualan sell-out memang tidak tecermin dalam laporan keuangan perseroan. Hal itu yang membuat kinerja penjualan dan laba bersih perseroan susut sepanjang tahun ini. "Produk-produk di distributor sudah kembali ke level yang sehat dan kami perkirakan untuk bulan Juni dan seterusnya itu permintaan sudah kembali normal dan akan mencerminkan langsung permintaan akhir dari konsumen kami. Diharapkan di Q3 atau Q4 penjualan akan kembali normal," tuturnya.
Adapun target penjualan SIDO yang diproyeksikan terkoreksi 10% secara tahunan pada 2026 ini akan menjadi periode terburuk bagi perusahaan sepanjang lima tahun terakhir. Data historis menunjukkan sejak 2020, Sido Muncul belum pernah mengalami penyusutan pendapatan hingga dobel digit. Penyusutan tertinggi sebelumnya terjadi pada 2023, saat Sido Muncul hanya mampu membukukan total pendapatan senilai Rp3,57 triliun atau terkoreksi 7,75% YoY dari Rp3,87 triliun pada periode sama 2022.
Kendati demikian, kalangan analis masih memberikan pandangan yang cenderung optimistis terhadap prospek Sido Muncul secara jangka panjang. Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo, salah satunya, memproyeksikan SIDO hanya akan mengalami penurunan pendapatan sebesar 4,5% YoY pada 2026 menjadi Rp3,9 triliun. Sementara itu, laba bersih Sido Muncul diprediksi turun 8,3% YoY menjadi Rp1,1 triliun pada tahun ini.
Pendapatan SIDO Diproyeksikan Kembali Bertumbuh
Kiwoom juga memprediksi pendapatan Sido Muncul akan tetap tumbuh pada periode 2027 hingga 2028, masing-masing pada level 3,1% dan 6,6% secara tahunan.
Menurut Kiwoom, kontribusi segmen F&B turut menjadi motor pertumbuhan utama perseroan di tengah tekanan pada lini bisnis herbal. Pendapatan segmen ini telah naik 11% YoY menjadi Rp760 miliar pada paruh pertama 2026 lewat penjualan C+ Collagen dan produk ready-to-drink.
Ditambah lagi, ekspansi internasional Sido Muncul juga tidak kalah kinclong dengan meningkat menjadi sekitar 13% dari total pendapatan, dibandingkan sebelumnya hanya 10%. Malaysia, Filipina, hingga Nigeria dinilai menjadi penopang utama ekspor perseroan.
"Kami memperkirakan pemulihan kinerja SIDO akan berlangsung secara bertahap pada 2H26, didukung oleh normalisasi distribusi, pemulihan volume penjualan produk herbal, pertumbuhan F&B, peluncuran produk baru, serta ekspansi ekspor," katanya dalam riset yang dipublikasikan pada 24 Agustus 2026.
Hanya saja, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan hold saham SIDO dengan target harga yang diturunkan menjadi Rp394 per saham. Sejumlah risiko penurunan yang diantisipasi analis antara lain pemulihan volume produk herbal yang lebih lambat dari perkiraan, normalisasi persediaan yang berkepanjangan, kenaikan biaya bahan baku dan kemasan, hingga peningkatan biaya iklan dan logistik. Belum lagi, pelemahan daya beli konsumen, risiko eksekusi produk baru dan ekspor, hingga persaingan yang kian ketat di industri turut membayangi kinerja Sido Muncul.
Sementara itu, Research Associate NH Korindo Sekuritas Indonesia Steven Willie menyoroti risiko penurunan dividen per saham Sido Muncul untuk tahun buku 2026. Hal itu seiring dengan proyeksi manajemen mengenai koreksi pendapatan sebesar 10%.
NH Korindo memproyeksikan laba bersih 2026 akan turun 31% YoY menjadi hanya Rp850 miliar, dengan net profit margin tertekan menjadi 23%, dibandingkan 30% pada 2025. "Seiring penurunan laba bersih FY26F, kami juga memproyeksikan dividen per saham yang lebih rendah menjadi Rp26 per saham. Angka tersebut setara dengan dividend yield 7% berdasarkan target harga kami," kata Steven dalam riset tertanggal 14 Agustus 2026.
Meski begitu, NH Korindo Sekuritas tetap memproyeksikan kinerja yang bertumbuh pada periode 2027-2028. Pendapatan SIDO pada 2027 diprediksi tumbuh 7,3% YoY dan sebesar 8,5% pada 2028, sementara laba bersih perseroan diprediksi melonjak 22% pada 2027 dan sebesar 11,8% YoY pada 2028.
Tahun 2026 membayangi Sido Muncul sebagai periode terberat dalam lima tahun terakhir, dengan pendapatan dan laba semester I anjlok akibat normalisasi persediaan di distributor. Manajemen menyandarkan pemulihan pada paruh kedua melalui peluncuran produk baru, penguatan segmen F&B, dan ekspansi ekspor ke pasar seperti Malaysia, Filipina, hingga Nigeria. Para analis sepakat tekanan tahun ini bersifat sementara dan memperkirakan kinerja kembali tumbuh pada 2027-2028, meski jalan menuju pemulihan masih dibayangi risiko daya beli, biaya bahan baku, dan persaingan yang kian ketat.


