Emitenhub.com - Gelombang investasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai membentuk peluang besar bagi industri teknologi Indonesia, meski efeknya terhadap kinerja emiten masih tertahan.
Sejumlah saham teknologi Indonesia juga masih menghadapi tekanan di tengah kembali menguatnya kekhawatiran mengenai potensi bubble AI di pasar global.
Kendati demikian, di tengah tekanan valuasi dan belum kuatnya earnings driver sektor teknologi domestik, kebutuhan infrastruktur AI, terutama ekspansi data center, berpotensi mendatangkan investasi hampir US$10 miliar dalam dua tahun ke depan.
Tak heran jika di level korporasi, sejumlah emiten teknologi mulai menyiapkan kapasitas untuk menangkap pertumbuhan AI. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), salah satunya, memperkuat kapabilitas digital dan pemanfaatan AI sebagai bagian dari agenda transformasi TLKM 30.
VP Corporate Communication Telkom Andri Herawan Sasoko menyampaikan TLKM mengembangkan ekosistem AI yang mencakup konektivitas, data center, cloud, dan solusi digital untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta kualitas layanan.
Dari sisi infrastruktur, lanjut Andri, NeutraDC terus memperkuat kesiapan data center untuk mengantisipasi kebutuhan komputasi AI yang kian besar.
Ia menyampaikan TLKM juga mengembangkan AIcosystem untuk mempertemukan kapabilitas AI, teknologi, talenta, dan berbagai use case di lingkungan TelkomGroup maupun bersama mitra strategis.
"AI merupakan salah satu teknologi strategis yang sejalan dengan arah transformasi Telkom, khususnya dalam memperkuat bisnis digital dan membangun new growth engines," ujar Andri, Kamis (3/9/2026).
Andri menyampaikan TLKM belum menetapkan target kontribusi AI secara spesifik terhadap pendapatan hingga akhir 2026. Namun, TLKM memperkirakan kontribusi bisnis AI akan terus berkembang seiring kian luasnya penggunaan AI di berbagai lini bisnis dan operasional.
Dengan penguatan infrastruktur dan ekosistem AI secara terintegrasi, lanjut Andri, TLKM terus menangkap peluang pertumbuhan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh stakeholder.
Tidak jauh berbeda, Direktur PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) Randy Kartadinata menyampaikan pihaknya mulai melihat akselerasi pertumbuhan dari bisnis yang berkaitan langsung dengan AI.
Ia menuturkan pada semester I/2026, bisnis data & AI MTDL tumbuh 52% secara tahunan, sedangkan bisnis Hybrid AI yang mencakup Hybrid IT dan Infrastructure tumbuh 171% secara tahunan.
Meski pertumbuhannya tinggi, kontribusi kedua bisnis tersebut terhadap total pendapatan unit solusi dan konsultasi digital MTDL masih belum mencapai 10%. "Tetapi kami melihat bahwa pertumbuhan unit Solusi dan konsultasi digital lebih agresif dibandingkan sejumlah lini bisnis lainnya," ucap Randy.
MTDL, kata Randy, tetap melihat AI sebagai growth engine jangka panjang dan akan memperkuat bisnis solusi serta konsultasi digital, sekaligus memperluas kolaborasi dengan prinsipal teknologi baru.
Menakar Kinerja Emiten Teknologi Satu per Satu
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menyampaikan investor perlu mencermati kinerja masing-masing emiten secara lebih selektif karena IDXTechno memiliki karakter bisnis yang beragam. Sektor tersebut mencakup perusahaan data center, solusi teknologi informasi (IT), platform digital, hingga infrastruktur konektivitas.
"Penurunan IDXTECHNO tidak serta-merta menunjukkan bahwa fundamental seluruh emiten teknologi Indonesia memburuk," kata Rully, Kamis (3/9/2026).
Sebagai gambaran, lanjut Rully, IDXTechno telah terkoreksi sekitar 28% sepanjang 2026. Struktur indeks yang relatif terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama DCII dan MLPT, membuat pergerakan kedua saham tersebut memberikan pengaruh cukup besar terhadap kinerja indeks secara keseluruhan.
Ia menuturkan sentimen sektor juga ikut tertekan oleh perkembangan pada sejumlah emiten besar, termasuk GOTO. Menurut Rully, isu terkait likuiditas saham dan keluarnya GOTO dari sejumlah indeks global turut memengaruhi risk appetite investor terhadap saham teknologi. Pada saat yang sama, suku bunga yang masih tinggi membatasi ruang ekspansi valuasi saham-saham growth.
Kondisi tersebut berbeda dengan pasar teknologi global yang masih mendapatkan katalis kuat dari siklus investasi artificial intelligence (AI), semikonduktor, cloud, dan data center.
Siklus tersebut telah mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba sejumlah perusahaan teknologi global, sementara emiten dalam IDXTechno memiliki earnings driver yang jauh lebih beragam.
"Yang belum dimiliki sektor teknologi Indonesia adalah common earnings catalyst sebesar AI cycle yang saat ini menopang teknologi global," ujarnya.
Karena itu, lanjut Rully, penurunan suku bunga memang berpotensi menjadi katalis bagi sektor teknologi melalui penurunan discount rate dan perbaikan risk appetite. Namun, penurunan suku bunga juga belum cukup untuk mendorong re-rating yang berkelanjutan.
Ia menuturkan investor tetap membutuhkan konfirmasi berupa pertumbuhan earnings, profitabilitas, arus kas, serta kemampuan emiten menjalankan strategi bisnisnya. Dengan demikian, pemulihan IDXTechno kemungkinan membutuhkan kombinasi suku bunga yang lebih rendah, visibilitas earnings yang membaik, dan normalisasi risk premium sektor.
Di sisi lain, JP Morgan Sekuritas Indonesia menilai masih terdapat peluang bagi saham teknologi, karena sektor data center Indonesia berpotensi menarik investasi besar dalam dua tahun ke depan.
Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia Benny Kurniawan memperkirakan kapasitas data center yang telah terpasang di Indonesia saat ini sekitar 500 megawatt (MW).
Kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat menjadi hampir 1,8 gigawatt (GW) pada akhir 2028, atau bertambah sekitar 1,3 GW dalam dua tahun ke depan.
"Per megawatt, analis kami dari sektor TNT memperkirakan capital expenditure atau belanja modalnya sekitar US$8 juta. Kalau US$8 juta itu dikalikan dengan 1,3 GW, investasinya bisa hampir US$10 miliar yang datang ke Indonesia dalam dua tahun ke depan," ujar Benny dalam Media Briefing JP Morgan, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, besarnya potensi investasi tersebut menunjukkan peluang Indonesia untuk memetik manfaat dari perkembangan teknologi, khususnya melalui pembangunan infrastruktur data center yang menjadi salah satu fondasi utama ekosistem AI. Benny menilai meski perkembangan sektor AI di Indonesia belum secepat sejumlah negara lain, ekspansi kapasitas data center menunjukkan Indonesia masih memiliki posisi dalam persaingan untuk menarik investasi teknologi global.


