Emitenhub.com - Prospek emiten nikel hingga akhir 2026 diperkirakan masih konstruktif, meski kian selektif akibat normalisasi harga. Racikan strategi yang tepat dapat menjadi modal keberlanjutan kinerja tiap emiten.
Sejumlah emiten nikel tercatat menorehkan pertumbuhan laba bersih pada semester I/2026. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi perusahaan dengan kenaikan laba paling tinggi, yakni 313,41% secara tahunan menjadi US$104.337.
Posisi itu disusul PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang meraih laba bersih Rp5,81 triliun atau meningkat 41,73% secara year on year (YoY). Adapun laba bersih PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) turut melesat 36,03% YoY.
Kinerja solid ini terjadi di tengah pergerakan harga nikel yang cukup volatil sepanjang tahun berjalan. Harga nikel diketahui berada di level US$16.840 per ton pada awal Januari, lalu melonjak hingga US$19.635 per ton pada Mei, sebelum akhirnya terkoreksi menuju US$16.310 per ton pada akhir Juni 2026.
Pada September, harga nikel kini berada di kisaran US$16.743 per ton atau relatif kembali ke level awal tahun. Alhasil, normalisasi harga nikel menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam menilai keberlanjutan kinerja emiten.
Pasalnya, setelah memperoleh dukungan dari kenaikan harga pada paruh pertama tahun, pertumbuhan laba ke depan akan kian ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjaga volume produksi dan penjualan, tingkat recovery, biaya produksi, serta utilisasi fasilitas pengolahan.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta menilai pasar saat ini mulai memasuki fase normalisasi harga bijih nikel (nickel ore) seiring membaiknya cuaca kering yang mendorong peningkatan produksi secara signifikan.
"Harga bijih nikel saat ini diperdagangkan setara dengan harga patokan mineral [HPM] dengan premium hanya sebesar US$1 per wet metric ton [wmt] untuk kadar 1,6%. Hal ini terjadi bahkan tanpa dampak langsung dari kuota RKAB," ujar Ryan dalam publikasi riset terbarunya, dikutip Jumat (4/9/2026).
Berdasarkan penelusuran Indo Premier Sekuritas, sejauh ini belum ada penambang yang secara resmi menerima persetujuan kuota RKAB tambahan per Agustus 2026. Kendati demikian, pasokan bijih di pasar tercatat kian melimpah sehingga mengikis premium harga bijih nikel terhadap HPM.
Di sisi lain, industri hilir nikel mulai menghadapi tantangan profitabilitas. Ryan mencermati adanya kabar terkait potensi pemangkasan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) akibat kelangkaan air dan tekanan margin.
Profitabilitas produk MHP dinilai kian tergerus hingga berada di titik impas, atau bahkan membukukan kerugian jika memperhitungkan beban bunga.
Meski begitu, Ryan menyatakan harga produk hilir seperti nickel pig iron (NPI) dan MHP dinilai masih relatif bertahan stabil sepanjang Agustus 2026.
Dengan pudarnya lonjakan harga acuan pada separuh kedua tahun ini, keberlanjutan pertumbuhan laba emiten nikel akan sangat bergantung pada efisiensi biaya produksi, utilisasi smelter, serta keandalan volume penjualan.
Prospek hingga Akhir 2026
Prospek emiten nikel hingga akhir 2026 diproyeksikan kian selektif akibat normalisasi harga. Emiten dengan efisiensi biaya dan eksposur hilirisasi seperti INCO, ANTM, dan NCKL berpotensi memimpin pertumbuhan kinerja.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menuturkan normalisasi harga nikel membuat pertumbuhan laba tidak bisa lagi semata mengandalkan kenaikan harga komoditas.
"Emiten dengan integrasi bisnis, efisiensi biaya, volume produksi yang solid, serta eksposur kuat ke produk hilirisasi akan memiliki daya tahan lebih baik," ucap Nafan saat dihubungi Bisnis, Jumat (4/9/2026).
Dalam konteks ini, lanjut Nafan, INCO berpeluang menjadi salah satu yang paling kuat karena pertumbuhan laba bersih semester I/2026 yang sangat tinggi memperlihatkan adanya perbaikan fundamental dan operating leverage.
Sementara itu, penguatan produksi dan efisiensi dapat menjadi penopang ketika harga nikel kembali ke kisaran normal. Menurutnya, ANTM dan NCKL juga dinilai relatif menarik karena diversifikasi dan eksposur terhadap rantai hilirisasi memberikan bantalan terhadap volatilitas harga nikel.
Di sisi lain, PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) tetap memiliki prospek positif. Namun, ruang pertumbuhan labanya akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan meningkatkan volume, menjaga biaya produksi, dan mengoptimalkan kapasitas di hilir.
"Memasuki empat bulan terakhir 2026, saya melihat INCO sebagai kandidat terdepan dari sisi pertumbuhan kinerja. Sementara itu, ANTM dan NCKL sebagai kandidat kuat berikutnya," tutur Nafan.
Kendati demikian, ia mengingatkan pergerakan harga saham tetap perlu mencermati tingkat valuasi, sebab lonjakan laba belum tentu membuka ruang kenaikan atau upside jika ekspektasi pasar sudah terlampau tinggi.
Sebelumnya, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai proyeksi sektor nikel perlu direvisi dari perkiraan sebelumnya. Menurutnya, tambahan kuota RKAB serta ekspansi Weda Bay menjadi tambahan pasokan yang berpotensi menekan harga bijih nikel lebih dalam dari posisi saat ini.


