Saham

Trio Alamtri ADRO, AADI, ADMR Panen Cuan Semester I/2026, Smelter Aluminium Jadi Andalan Baru

Ringkasan Cepat

Trio emiten grup Alamtri milik Keluarga Thohir, yakni ADRO, AADI, dan ADMR, membukukan kinerja solid pada semester I/2026, dengan laba ADRO melonjak 76,83% dan ADMR tumbuh agresif dari lini batu bara metalurgi. Diversifikasi ke smelter aluminium lewat PT Kalimantan Aluminium Industry menjadi mesin pertumbuhan baru yang kontribusinya diproyeksikan naik hingga 50,7% pada 2030, sementara analis menyematkan rekomendasi BUY untuk ADMR, AADI, dan ADRO.

7 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi kinerja solid trio emiten grup Alamtri dengan smelter aluminium sebagai mesin pertumbuhan baru

Ilustrasi kinerja solid trio emiten grup Alamtri dengan smelter aluminium sebagai mesin pertumbuhan baru

Emitenhub.com - Prospek saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), emiten grup Alamtri milik Keluarga Thohir, kian menarik seiring solidnya kinerja keuangan semester I/2026 dan mulai berkembangnya bisnis di luar batu bara.

Penguatan harga batu bara, pertumbuhan bisnis batu bara metalurgi, serta peningkatan kapasitas smelter aluminium menjadi sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja grup ke depan.

Adapun ADRO tercatat membukukan pendapatan usaha sebesar US$999,24 juta pada semester I/2026, naik 16,51% secara tahunan dari US$857,69 juta. Lebih kuat lagi, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 76,83% menjadi US$309,37 juta dari US$174,94 juta pada periode sama tahun sebelumnya.

Dari sisi segmen, pertambangan masih menjadi kontributor utama dengan pendapatan di luar segmen sebesar US$580,39 juta. Sementara itu, jasa pengolahan pertambangan menyumbang US$397,30 juta.

Kinerja positif juga terlihat pada anak usaha grup, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Pada semester I/2026, AADI mencatat pendapatan US$2,55 miliar, tumbuh 6,13% secara tahunan. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 10,52% menjadi US$473,77 juta.

Pertumbuhan AADI terutama ditopang kenaikan penjualan batu bara domestik dari US$343,75 juta menjadi US$400,43 juta. Sementara itu, penjualan ekspor batu bara kepada pihak ketiga mencapai US$1,82 miliar.

Di lini batu bara metalurgi, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatat pertumbuhan yang lebih agresif. Pendapatan usaha semester I/2026 naik 31,52% menjadi US$583,88 juta, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 23,97% menjadi US$174,18 juta.

Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti melihat prospek jangka panjang batu bara metalurgi masih ditopang permintaan dari China dan India. Australia diperkirakan tetap menjadi pemasok utama batu bara metalurgi di pasar global.

Ia memaparkan khusus untuk India, permintaan diproyeksikan terus meningkat seiring rencana peningkatan kapasitas industri baja negara tersebut.

Dari sisi pasar, penjualan batu bara metalurgi ADMR hingga semester I/2026 masih cukup terdiversifikasi. Sebanyak 43% penjualan ditujukan ke pasar domestik Indonesia, sejalan dengan permintaan dari pabrik kokas.

Sementara itu, untuk pasar ekspor, Jepang menjadi tujuan terbesar dengan kontribusi 25%, disusul India 17%, China 12%, dan Korea Selatan 3%. Perseroan menargetkan volume kinerja pada 2026 berada di level yang sama dengan pencapaian 2025.

"Sepanjang 2026 ini, dalam menghadapi dinamika dan tantangan pasar, perseroan tetap mengedepankan disiplin biaya untuk menjaga kinerja," ujarnya kepada Bisnis, Senin (31/8/2026).

Smelter Aluminium Mulai Jadi Mesin Pertumbuhan

Di luar batu bara, perkembangan smelter aluminium menjadi salah satu faktor penting dalam investasi Grup Alamtri melalui ADMR, seiring beroperasinya smelter aluminium milik anak usahanya, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).

Karina menyebut KAI terus mempersiapkan kesiapan komersial dan kegiatan penjualan bersamaan dengan peningkatan kapasitas produksi. "Saat ini PT KAI terus mempersiapkan kesiapan komersial dan kegiatan penjualan bersamaan dengan peningkatan kapasitas produksi untuk mendukung kontribusi operasional terhadap kinerja Grup AlamTri," terangnya.

KB Valbury Sekuritas dalam risetnya menyebut smelter KAI di Kalimantan telah memulai tahap pengetesan (commissioning) sejak Desember 2025 dan berhasil melakukan pengiriman komersial perdana ke Amerika Serikat serta Korea Selatan pada Juni 2026. Smelter ini ditargetkan mencapai kapasitas penuh 500.000 ton per tahun pada akhir 2026.

Langkah tersebut menandai kian dekatnya fase komersialisasi bisnis aluminium, yang diharapkan memberikan sumber pendapatan baru bagi Grup Alamtri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap siklus batu bara.

Kontribusi segmen aluminium terhadap total pendapatan konsolidasi ADMR pun diproyeksikan melonjak pesat dari 43,9% pada 2026 menjadi 50,7% pada 2030.

Langkah ADMR memacu operasional smelter dinilai sangat tepat waktu atau well timed. Pasar aluminium dunia saat ini tengah dibayangi defisit pasokan global yang diperkirakan menembus 2,2 juta ton pada 2026 menyusul disrupsi produksi di Timur Tengah.

Kondisi kelangkaan ini diperkirakan mendorong harga rata-rata aluminium LME naik ke level US$3.577-US$3.750 per ton, bahkan berpotensi melonjak hingga US$4.150 per ton jika konflik geopolitik terus berlanjut.

Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi bahkan memperkirakan kontribusi smelter aluminium terhadap topline ADMR dapat mencapai US$900 juta pada 2026. Dalam jangka panjang, bisnis tersebut diproyeksikan menjadi salah satu sumber utama pendapatan ADMR hingga 2030.

Adolf menilai kinerja Grup Adaro ke depan masih berpotensi tumbuh positif. Salah satu penopangnya adalah harga batu bara yang diperkirakan tetap cukup kuat di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

Menurut Adolf, ketidakpastian suplai energi dari Timur Tengah serta gelombang panas El Nino yang mendorong permintaan listrik dapat menopang harga batu bara.

Di sisi lain, kondisi geopolitik global juga berpotensi membuat sejumlah negara Eropa kembali mengaktifkan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi, khususnya ketika permintaan listrik meningkat pada musim dingin.

"Untuk grup Adaro sendiri kita perkirakan kinerjanya ke depan masih akan cukup baik. Prospek batu bara kami rasa cukup bagus saat ini," kata Adolf.

Mulai melunaknya sikap pemerintah terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara juga dinilai dapat mengurangi salah satu hambatan produksi di sektor tersebut. Dampaknya berpotensi dirasakan sebagian besar emiten batu bara, terutama perusahaan dengan eksposur ekspor besar seperti AADI.

Dengan kombinasi pertumbuhan bisnis batu bara metalurgi, prospek smelter aluminium, serta diversifikasi bisnis, KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi BUY untuk saham ADMR dengan target harga Rp2.100 per saham.

KB Valbury Sekuritas juga memproyeksikan laba bersih ADMR tumbuh dengan CAGR 24% pada periode 2025-2030.

Adolf menyebut sejumlah katalis utama ADMR meliputi transformasi dan diversifikasi logam, pertumbuhan permintaan batu bara metalurgi yang dipimpin India, serta perubahan dinamika pasokan global.

Namun, investor tetap perlu mencermati risiko siklus komoditas. Menurut Adolf, batu bara masih menjadi penggerak utama kinerja Grup Alamtri, sehingga perubahan drastis pada harga maupun permintaan batu bara akan berdampak signifikan terhadap kinerja.

Prospek Sektor Batu Bara Semester II/2026

Prospek sektor batu bara diperkirakan memasuki fase normalisasi pada semester II/2026. BRI Danareksa Sekuritas menilai kondisi supply demand batu bara mulai lebih seimbang, meski tekanan pasokan pada Mei 2026 masih relatif ketat.

Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor batu bara. Namun, pandangan taktis tiga bulan diturunkan menjadi neutral seiring potensi moderasi harga batu bara dan risiko kinerja pada kuartal II/2026.

Meski demikian, potensi penurunan harga dinilai tidak akan terlalu dalam. DMO pull-forward dan preferensi pembeli untuk menjaga persediaan dapat menjadi penahan tekanan harga.

Di sisi lain, revisi RKAB menjadi salah satu variabel kunci yang perlu dicermati karena berpotensi membuka tambahan pasokan batu bara pada semester II/2026.

Pendapatan emiten batu bara pada semester I/2026 juga diperkirakan membaik secara kuartalan, ditopang kenaikan produksi dan volume penjualan serta harga ekspor yang lebih tinggi.

Namun, kenaikan biaya diperkirakan mengimbangi sebagian besar manfaat tersebut. Salah satu tekanan berasal dari kenaikan harga HSD (High Speed Diesel) domestik yang mencapai 35%-40% secara kuartalan. Alhasil, EBITDA diperkirakan relatif datar untuk AADI kendati volume dan pendapatan berpotensi meningkat.

Menurut Erindra, titik masuk yang lebih menarik ke sektor batu bara dapat muncul setelah publikasi kinerja, dengan catatan revisi RKAB, penurunan risiko DSI, dan pemulihan volume pada semester II/2026 tetap berjalan sesuai ekspektasi.

Saham AADI menjadi salah satu pilihan utama BRI Danareksa Sekuritas dengan rekomendasi BUY pada target harga Rp12.400 per saham. AADI dipandang memiliki katalis spesifik perusahaan, dukungan dividen, serta valuasi yang memberikan buffer terhadap risiko penurunan harga batu bara.

Sementara itu, ADRO mendapat rekomendasi BUY dengan target harga Rp2.500 per saham.

Rapor semester I/2026 menempatkan trio Alamtri, yakni ADRO, AADI, dan ADMR, di posisi yang menguat, dengan batu bara termal sebagai penopang kas, batu bara metalurgi sebagai mesin pertumbuhan, dan smelter aluminium KAI sebagai lini baru yang mulai berkontribusi. Para analis menyoroti diversifikasi ke aluminium serta permintaan metalurgi dari India sebagai katalis jangka panjang, sembari mengingatkan bahwa batu bara masih menjadi penggerak utama kinerja grup. Arah ke depan akan bergantung pada pergerakan harga komoditas, realisasi revisi RKAB, dan konsistensi grup menjaga disiplin biaya di tengah siklus yang masih berfluktuasi.

Iklan