Saham

Harga Batu Bara Ngegas Lagi, Saatnya Lirik AADI hingga HRUM Saat Harga Sudah Diskon?

Ringkasan Cepat

Harga batu bara diperkirakan tetap tinggi hingga akhir 2026 ditopang gelombang panas di Eropa dan kendala pasokan akibat inspeksi keselamatan tambang di China, menjadi katalis bagi emiten seperti AADI dan HRUM. Analis menilai koreksi harga saham batu bara sepanjang tahun ini membuka peluang beli selektif, ditambah sentimen positif dari revisi RKAB 2026 yang berpotensi memulihkan volume produksi pada semester II.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi penguatan harga batu bara yang menjadi katalis bagi saham emiten seperti AADI dan HRUM di tengah koreksi harga

Ilustrasi penguatan harga batu bara yang menjadi katalis bagi saham emiten seperti AADI dan HRUM di tengah koreksi harga (Foto:AADI)

Emitenhub.com - Gelombang panas di Eropa dan inspeksi keselamatan pertambangan di China akan menjaga harga batu bara tetap tinggi sepanjang sisa tahun ini, sekaligus menjadi katalis bagi emiten seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) hingga PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Analis menilai harga saham perusahaan batu bara kini tidak lagi bergerak mengikuti sentimen terkait perang, sehingga menghadirkan peluang beli pada saham-saham tertentu.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam risetnya menerangkan gelombang panas yang belakangan melanda Eropa telah meningkatkan ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti batu bara, akibat penurunan produksi listrik dari pembangkit tenaga nuklir dan hidro.

Secara khusus, armada pembangkit listrik tenaga nuklir Prancis mengalami penurunan produksi sekitar 3,7 TWh pada Juni dan Juli 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, sejumlah pengiriman batu bara, terutama ke pembangkit listrik di Jerman, mengalami gangguan, sehingga mendorong harga batu bara Rotterdam di Eropa ke atas level US$125 per ton.

Tingkat pengisian cadangan gas Eropa yang berada di angka 61% turut memberikan faktor pendukung positif bagi harga batu bara.

Di sisi lain, produksi batu bara di China turun, sedangkan India tetap kuat. Harga batu bara domestik China telah naik 27% secara year to date (YtD). Kenaikan ini dipengaruhi oleh penurunan produksi, yang belakangan disebabkan oleh kecelakaan di tambang batu bara Liushenyu, Shanxi.

Sejak insiden pada Mei 2026, impor batu bara China sempat turun 2% pada Juni 2026, tetapi kemudian naik 22% secara bulanan pada Juli 2026. Tren ini sejalan dengan kenaikan harga Qinhuangdao maupun harga Indonesia Coal Index (ICI).

"Kami memperkirakan Cina akan terus menghadapi kendala pasokan akibat inspeksi keselamatan yang masih berlangsung, terutama menjelang musim dingin, periode saat permintaan batu bara biasanya mencapai puncaknya," kata Ryan, dikutip Rabu (26/8/2026).

Namun, India tampaknya tidak akan menciptakan permintaan tambahan melalui jalur laut karena produksi batu baranya terus meningkat sementara persediaannya tetap melimpah, kendati pembangkit listrik tenaga batu bara mencatat kenaikan 13% secara tahunan pada Juli 2026.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), Ryan menyampaikan penurunan dari level puncak sebelumnya menghadirkan peluang pembelian sejumlah saham.

Saham AADI, misalnya, telah turun dari level Rp11.600 per saham menjadi Rp7.400 pada Juni 2026. PTBA dan ITMG juga mengalami penurunan serupa, masing-masing sebesar 29% dan 28%.

"Kami menilai hal ini terutama didorong oleh kombinasi faktor kesepakatan damai AS-Iran, sejalan dengan penurunan harga saham perusahaan batu bara global sejenis, dan pembentukan DSI [Danantara Sumberdaya Indonesia], meskipun harga batu bara ICI dan Newcastle terus meningkat secara stabil," jelasnya.

Indo Premier Sekuritas mempertahankan peringkat neutral pada sektor batu bara dengan sikap bullish selektif terhadap beberapa emiten seperti AADI dan HRUM.

"Sementara kami melihat katalis yang terbatas untuk PTBA, ITMG, dan UNTR," ujarnya.

Revisi RKAB Jadi Sentimen Tambahan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dikabarkan sudah mulai menyetujui sejumlah pengajuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk komoditas batu bara dan nikel.

Sebelumnya, produksi batu bara pada RKAB 2026 dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 817,48 juta ton.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama melihat revisi RKAB sebagai sentimen positif bagi sektor ini.

Menurutnya, revisi yang bergulir merupakan usulan kenaikan kuota produksi, bukan pemangkasan. Dengan demikian, apabila persetujuannya rampung dalam waktu dekat, potensi pemulihan volume produksi pada semester II/2026 akan kian terbuka.

"Karena itu, saya memperkirakan prospek sektor batu bara berpotensi membaik pada paruh kedua tahun ini, didukung normalisasi produksi, harga batu bara yang tetap relatif stabil, serta permintaan dari China dan India yang diharapkan membaik," ucap Elandry.

Adapun saham-saham yang menurutnya menarik dicermati di sektor ini adalah ITMG, PTBA, dan AADI sebagai pilihan utama karena fundamentalnya yang kuat.

Elandry juga menilai saham BUMI, ADRO, BSSR, CUAN, dan MCOL layak diperhatikan seiring prospek pemulihan kinerja operasional pada semester II/2026.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai saham PTBA, AADI, dan ADRO menarik untuk dicermati di sektor ini.

Ia menuturkan PTBA dapat menjadi pilihan karena menjadi penerima manfaat utama dari kebijakan domestic market obligation (DMO) dan revisi RKAB, memiliki dividend yield yang tinggi, serta didukung oleh statusnya sebagai BUMN.

Selanjutnya, AADI dinilai menarik karena memiliki efisiensi biaya yang baik, porsi saham publik yang bersih, dan eksposur terhadap batu bara premium. Adapun pilihan berikutnya adalah ADRO karena diversifikasi bisnisnya ke sektor energi dapat menjadi katalis kenaikan valuasi dalam jangka panjang, ditambah neraca keuangan yang paling kuat di antara para pesaingnya.

Dengan sederet katalis yang berkelindan, mulai dari gelombang panas Eropa, kendala pasokan akibat inspeksi keselamatan di China, hingga potensi revisi RKAB yang membuka ruang normalisasi produksi, prospek sektor batu bara pada paruh kedua 2026 dinilai berpeluang membaik. Meski begitu, arah kinerja emiten tetap akan bergantung pada konsistensi harga komoditas serta realisasi permintaan dari China dan India, sehingga koreksi harga saham yang telah terjadi sepanjang tahun ini menjadi ruang yang layak dicermati investor sesuai profil risiko masing-masing.

Iklan