Saham

Siloam (SILO) Caplok 14 RS dari First REIT Rp6,91 Triliun, Utang Bank Bengkak Rp8,88 Triliun

Ringkasan Cepat

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) berencana mengakuisisi 14 perusahaan pemilik portofolio rumah sakit dari First REIT senilai Rp6,91 triliun dalam dua tahap, yang akan menambah utang bank sekitar Rp8,88 triliun. Transaksi ini mengubah struktur neraca perseroan dari skema sewa menjadi kepemilikan aset, dengan total aset proforma naik ke Rp23,91 triliun, namun lonjakan beban keuangan menekan laba tahun berjalan turun dari Rp293,57 miliar menjadi Rp250,46 miliar.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Siloam International Hospitals mengakuisisi 14 rumah sakit dari First REIT yang mengubah struktur neraca perseroan

Ilustrasi Siloam International Hospitals mengakuisisi 14 rumah sakit dari First REIT yang mengubah struktur neraca perseroan (Foto:SILO)

Emitenhub.com - PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) berencana mengakuisisi 14 perusahaan pemilik portofolio rumah sakit dari First Real Estate Investment Trust (First REIT) senilai Rp6,91 triliun. Rencana ini akan menambah utang bank perseroan sekitar Rp8,88 triliun.

Transaksi dilakukan dalam dua tahap, yakni akuisisi delapan perusahaan pada tahap pertama dan enam perusahaan pada tahap kedua melalui pelaksanaan opsi jual. Lewat keterbukaan informasi, SILO menyatakan kedua tahap merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan, sehingga nilai seluruh 14 transaksi diperhitungkan secara agregat untuk memenuhi ketentuan transaksi material dan persetujuan pemegang saham.

Aset yang menjadi sasaran bukan rumah sakit baru yang akan dibangun Siloam, melainkan pemilik properti rumah sakit yang selama ini telah digunakan dan dioperasikan Grup Siloam.

Pada tahap pertama, aset yang masuk transaksi antara lain Siloam Hospitals Sriwijaya di Palembang, Siloam Hospitals Purwakarta, Siloam Hospitals Lippo Village, Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Siloam Hospitals Denpasar, Siloam Hospitals Kupang, Siloam Hospitals Baubau, dan Siloam Hospitals Manado. Adapun tahap kedua mencakup Siloam Hospitals Labuan Bajo, Siloam Hospitals TB Simatupang, Siloam Hospitals Makassar, Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC), Siloam Hospitals Lippo Cikarang, dan Siloam Hospitals Yogyakarta.

Skema Pendanaan Transaksi

Untuk membiayai transaksi, Siloam mengandalkan fasilitas perbankan dan dana internal dengan mempertimbangkan posisi likuiditas serta struktur pendanaan perseroan. Dalam laporan posisi keuangan konsolidasian proforma per 31 Maret 2026, Siloam mencatat tambahan utang bank jangka panjang sebesar Rp8,88 triliun sebagai penyesuaian terkait transaksi, yang mencerminkan penarikan utang untuk mendanai akuisisi 14 perusahaan rumah sakit tersebut.

Perseroan telah memiliki perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi yang terdiri dari Facility A1 sebesar Rp7 triliun dengan masa ketersediaan hingga Oktober 2026 dan Facility A2 sebesar Rp4 triliun hingga Juni 2027. Selain itu, terdapat Facility B sebesar Rp2 triliun untuk kebutuhan belanja modal serta merger dan akuisisi, serta revolving credit facility (RCF) sebesar Rp1,5 triliun untuk kebutuhan modal kerja.

Perseroan mengakui tambahan utang sekitar Rp8,88 triliun tersebut akan meningkatkan leverage. Namun, berdasarkan perhitungan dan proyeksi manajemen, tingkat leverage setelah memperhitungkan utang tambahan masih berada dalam batas yang dipersyaratkan dalam perjanjian pembiayaan perseroan.

Dampak terhadap Neraca

Dari sisi neraca, dampaknya cukup signifikan. Total liabilitas Siloam secara proforma meningkat dari Rp5,10 triliun menjadi Rp13,73 triliun, atau bertambah sekitar Rp8,63 triliun. Kenaikan itu terutama berasal dari tambahan utang bank jangka panjang Rp8,88 triliun, sementara liabilitas sewa turun karena sejumlah aset yang sebelumnya disewa Siloam menjadi bagian dari aset yang dimiliki perseroan.

Di sisi lain, total aset Siloam secara proforma meningkat dari Rp15,32 triliun menjadi Rp23,91 triliun. Kenaikan ini terutama bersumber dari aset tetap yang bertambah sekitar Rp8,53 triliun, mencerminkan aset tetap milik objek transaksi sekaligus eliminasi aset hak guna yang sebelumnya dicatat Siloam atas transaksi sewa.

Dengan demikian, transaksi tersebut pada dasarnya mengubah struktur neraca Siloam: aset rumah sakit yang sebelumnya berada dalam skema sewa masuk ke kepemilikan perseroan, tetapi pembelian itu diikuti peningkatan utang bank yang signifikan.

Dampak terhadap Laba Rugi

Kenaikan utang tersebut langsung terlihat pada laporan laba rugi proforma. Berdasarkan laporan proforma tiga bulan pertama 2026, pendapatan Siloam setelah transaksi diperkirakan meningkat dari Rp3,28 triliun menjadi Rp3,32 triliun. Laba usaha bahkan meningkat dari Rp412,82 miliar menjadi Rp470,19 miliar setelah memperhitungkan penyesuaian transaksi.

Namun, kenaikan tersebut belum mampu mengimbangi tambahan beban keuangan. Beban keuangan Siloam meningkat dari Rp36,33 miliar menjadi Rp175,51 miliar, atau bertambah sekitar Rp139,18 miliar.

Alhasil, laba sebelum pajak turun dari Rp382,93 miliar menjadi Rp301,12 miliar, sementara laba tahun berjalan turun dari Rp293,57 miliar menjadi Rp250,46 miliar.

Iklan