Emitenhub.com - PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) mencatatkan rugi bersih periode berjalan sebesar Rp12,30 miliar pada semester I/2026, membengkak 23,39% dibandingkan rugi Rp9,97 miliar pada semester I/2025.
Rugi neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga melebar menjadi Rp12,30 miliar per 30 Juni 2026, dari rugi Rp9,98 miliar pada periode sama tahun sebelumnya. Alhasil, rugi per saham dasar TRUE meningkat menjadi Rp1,62 per lembar, dari sebelumnya Rp1,32 per lembar.
Beban Menekan di Tengah Omzet yang Tumbuh Tipis
Pembengkakan kerugian ini bersumber dari kenaikan beban operasional dan lonjakan beban pokok penjualan, yang menggerus laba kotor meski omzet naik tipis. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, emiten properti ini meraup total pendapatan Rp24,77 miliar, tumbuh 3,72% secara tahunan (YoY) dari Rp23,88 miliar.
Jasa pengelolaan gedung menjadi kontributor utama pendapatan TRUE. Lini ini menyumbang Rp17,29 miliar atau sekitar 69,81% dari total pendapatan, naik 16,07% dari Rp14,90 miliar pada paruh pertama 2025. Sisanya berasal dari penjualan unit apartemen The Smith senilai Rp7,48 miliar, terkoreksi 16,77% dari Rp8,98 miliar.
Di sisi biaya, beban pokok penjualan TRUE membengkak 14,58% menjadi Rp19,86 miliar dari Rp17,34 miliar. Lonjakannya terjadi pada beban pokok pengelolaan gedung yang naik ke Rp14,20 miliar dari Rp8,60 miliar, sedangkan beban pokok apartemen The Smith justru turun ke Rp5,67 miliar dari Rp8,73 miliar.
Kenaikan biaya pokok itu memangkas laba bruto perseroan 25,04% menjadi Rp4,91 miliar pada semester I/2026, dari Rp6,55 miliar pada periode sama tahun lalu.
Tekanan kian berat seiring naiknya beban usaha ke Rp17,08 miliar dari Rp16,68 miliar. Beban penjualan dan pemasaran naik ke Rp3,98 miliar dari Rp3,76 miliar, sementara beban umum dan administrasi bertambah ke Rp13,10 miliar dari Rp12,91 miliar.
Di dalam pos beban umum dan administrasi, muncul beban bunga sebesar Rp5,79 miliar pada periode berjalan, yang langsung menekan kemampuan perseroan mencetak laba. Sebagai penyeimbang, TRUE memangkas beban gaji dan tunjangan menjadi Rp3,59 miliar dari Rp7,39 miliar, serta beban jasa profesional menjadi Rp854,94 juta dari Rp2,18 miliar.
Progres Proyek Tetap Berjalan
Terkait pengembangan kawasan residensial dan komersial, manajemen menegaskan seluruh agenda pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.
"Manajemen berpendapat tidak terdapat hambatan dalam penyelesaian proyek," tutur Direktur Utama PT Triniti Dinamik Tbk Yohanes Eddy Christianto dalam laporan keuangan perseroan.
Yohanes memastikan pembangunan proyek The Smith dan Springwood telah mencapai 100%. Sementara itu, progres hotel Springwood telah rampung 39,03%, serta proyek District East di Karawang Timur mencapai 2,69%. Proyek District East dikerjakan melalui KSO Alfa True bersama PT Perkasa Internusa Mandiri, dengan perluasan area kerja sama hingga 264.899,5 meter persegi per Agustus 2026.
Kondisi Neraca
Dari sisi neraca, total aset TRUE per 30 Juni 2026 tercatat Rp675,59 miliar, turun tipis 0,92% dari Rp681,85 miliar per 31 Desember 2025.
Aset lancar perseroan mencapai Rp536,43 miliar, ditopang persediaan aset real estat Rp409,04 miliar serta kas dan setara kas Rp7,17 miliar. Adapun aset tidak lancar berada di level Rp139,17 miliar, meliputi uang muka proyek Rp97,54 miliar dan aset tetap Rp26,45 miliar.
Total liabilitas TRUE per 30 Juni 2026 tercatat Rp463,08 miliar, naik 1,32% dari Rp457,04 miliar per akhir 2025. Liabilitas jangka pendek berkurang menjadi Rp168,87 miliar dari Rp179,81 miliar, sedangkan liabilitas jangka panjang naik menjadi Rp294,21 miliar dari Rp277,24 miliar.
Total ekuitas perseroan tergerus 5,47% menjadi Rp212,51 miliar per 30 Juni 2026 dari Rp224,81 miliar per akhir 2025. Penurunan ini terimbas saldo laba belum ditentukan penggunaannya yang defisit hingga minus Rp88,80 miliar.
Struktur Utang Perseroan
Kondisi tersebut membuat rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) TRUE berada di posisi tinggi, yakni 217,91%. Sementara itu, rasio pinjaman neto terhadap modal (gearing ratio) naik menjadi 132,00% dari 125,31%.
Total utang bank perseroan tercatat Rp287,43 miliar per 30 Juni 2026, turun dari Rp289,26 miliar pada akhir tahun lalu. Pinjaman ini terdiri atas utang PT Bank Pan Indonesia Tbk (Bank Panin) senilai Rp64,64 miliar yang jatuh tempo dalam satu tahun. Fasilitas pinjaman jangka panjang Bank Panin ini berbunga 11% dan telah disetujui restrukturisasinya hingga 21 Juni 2029.
Kreditur lainnya adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) dengan saldo pokok utang Rp222,79 miliar. Fasilitas kredit konstruksi proyek The Smith berbunga 11,25% ini dijadwalkan jatuh tempo pada 22 Agustus 2027.
Hingga 30 Juni 2026, TRUE telah menyetor akumulasi pembayaran utang ke Bank Panin senilai Rp185,36 miliar dan ke Bank BTN sebesar Rp77,21 miliar. Sepanjang paruh pertama 2026, realisasi pembayaran cicilan pokok pinjaman bank tercatat Rp1,83 miliar, serta pembayaran pembiayaan konsumen kendaraan Toyota Innova Zenix sebesar Rp38,82 juta.
Kebutuhan pendanaan dan operasional perseroan turut terbantu penarikan pinjaman dari pihak berelasi sebesar Rp17,64 miliar pada periode berjalan, sehingga total utang pihak berelasi naik menjadi Rp67,60 miliar dari Rp49,96 miliar per akhir 2025.
Utang afiliasi tersebut didominasi pinjaman dari pemegang saham pengendali, PT Agung Perkasa Investindo, senilai Rp65,43 miliar berbunga 3% dengan jatuh tempo 3 Maret 2030. Sisanya berasal dari PT Panca Agung Gemilang senilai Rp1,97 miliar yang jatuh tempo pada 2030, serta PT Valtos Globalindo sebesar Rp207,23 juta dengan jatuh tempo pada Juli 2027.
Semester I/2026 menempatkan Triniti Dinamik dalam tekanan ganda, ketika pertumbuhan tipis pendapatan tak mampu menahan lonjakan beban pokok pengelolaan gedung dan beban bunga yang memperlebar kerugian menjadi Rp12,30 miliar. Struktur keuangannya pun kian berat, tecermin dari DER yang menembus 217,91% serta saldo laba yang defisit hingga minus Rp88,80 miliar. Meski manajemen memastikan proyek seperti The Smith dan Springwood berjalan tanpa hambatan, pemulihan kinerja perseroan akan bergantung pada kemampuannya menekan biaya operasional sekaligus mengelola beban utang yang sebagian besar bertumpu pada pinjaman bank dan pihak berelasi.


