Market

Pemerintah Siapkan Ekspor SDA Tanpa Transit Singapura, Danantara Dilibatkan

Ringkasan Cepat

Pemerintah berencana mengalihkan jalur ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) agar langsung menuju negara tujuan tanpa transit di Singapura. Kementerian ESDM menyebut sekitar 50 juta hingga 60 juta ton batu bara Indonesia selama ini melalui Singapura. PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan dilibatkan dalam rencana pengelolaan ekspor melalui satu pintu.

• 2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Aktivitas pengiriman komoditas sumber daya alam Indonesia menggunakan kapal kargo di pelabuhan terkait rencana ekspor langsung tanpa transit Singapura melalui Danantara.

Aktivitas pengiriman komoditas sumber daya alam Indonesia menggunakan kapal kargo di pelabuhan terkait rencana ekspor langsung tanpa transit Singapura melalui Danantara. (BIKE).

Emitenhub.com - Pemerintah berencana mengubah jalur ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) Indonesia agar dapat dikirim langsung ke negara tujuan tanpa melalui Singapura yang selama ini menjadi salah satu pusat perdagangan internasional.

Kebijakan tersebut mencakup komoditas pertambangan, termasuk batu bara, yang sebagian pengirimannya selama ini masih melalui Singapura sebelum diteruskan ke pasar tujuan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, mengungkapkan bahwa volume batu bara Indonesia yang melalui Singapura diperkirakan mencapai 50 juta hingga 60 juta ton.

"Yang lewat sana itu (Singapura), batu bara mungkin sekitar 50-60 juta ton. Kan tidak ada batu bara di sana (Singapura). Tidak mungkin juga kalau misalnya dari sana ke China atau ke mana gitu, pasti (batu bara) dari kita," ujar Tri saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (2/11/2026).

Untuk mendukung perubahan mekanisme ekspor tersebut, pemerintah akan melibatkan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), perusahaan yang berada di bawah naungan Danantara.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan DSI akan berperan dalam pengelolaan ekspor komoditas agar pengiriman dapat dilakukan secara langsung menuju negara pembeli.

"Kita dengan DSI koordinasi bagus, kita akan lewat satu pintu lewat DSI, dan tidak perlu lagi lewat transit-transit di mana, bisa langsung ke negara tujuan," kata Bahlil seusai acara Minerba Convex 2026 di JIExpo Kemayoran.

Menurut Bahlil, penggunaan negara perantara dalam aktivitas ekspor berpotensi memberikan keuntungan ekonomi kepada negara lain, antara lain melalui penerimaan pajak dan kontribusi terhadap neraca perdagangan.

Karena itu, pemerintah menginginkan komoditas yang diekspor ke suatu negara dapat dikirim secara langsung tanpa harus melalui pusat perdagangan di negara ketiga.

Bahlil mencontohkan pengiriman komoditas menuju China yang seharusnya dapat dilakukan langsung dari Indonesia tanpa memanfaatkan Singapura sebagai negara perantara.

"Pak Dirjen, saya perintahkan lewat forum ini, jangan lagi ada pengiriman sumber daya alam kita, kalau kita ekspor, lewat transit negara tertentu. Saya enggak mau," tegasnya.

Selama ini, Singapura menjadi salah satu pusat perdagangan komoditas global yang dimanfaatkan perusahaan Indonesia karena sejumlah faktor, mulai dari regulasi perpajakan, kepastian hukum, hingga akses terhadap fasilitas perbankan internasional.

Selain itu, infrastruktur pelabuhan dan jaringan pelayaran global Singapura memungkinkan konsolidasi maupun pengalihan muatan sebelum komoditas diteruskan kepada pembeli akhir.

Melalui rencana pengalihan jalur ekspor dan keterlibatan DSI, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap negara perantara dalam perdagangan komoditas sumber daya alam Indonesia.

Iklan