Market

IHSG Anjlok 41%, Kekayaan Prajogo Pangestu dan Konglomerat RI Susut Tajam

Ringkasan Cepat

Koreksi IHSG sekitar 41 persen sepanjang 2026 turut menekan kekayaan sejumlah konglomerat Indonesia. Kekayaan Prajogo Pangestu menyusut USD28,2 miliar menjadi USD10,7 miliar, sementara Low Tuck Kwong kehilangan sekitar USD15 miliar. Penurunan tersebut berlangsung seiring pelemahan saham-saham konglomerasi dan meningkatnya perhatian terhadap valuasi emiten.

• 4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Prajogo Pangestu dan sejumlah konglomerat Indonesia mengalami penyusutan kekayaan seiring koreksi IHSG dan pelemahan saham Grup Barito sepanjang 2026.

Prajogo Pangestu dan sejumlah konglomerat Indonesia mengalami penyusutan kekayaan seiring koreksi IHSG dan pelemahan saham Grup Barito sepanjang 2026.

Emitenhub.com - Pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2026 turut menekan nilai kekayaan sejumlah konglomerat Indonesia. Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong, hingga keluarga Hartono mengalami penyusutan kekayaan hingga belasan miliar dolar AS seiring koreksi harga saham perusahaan yang terkait dengan portofolio bisnis mereka.

Hingga perdagangan Senin (2/11/2026), IHSG tercatat telah terkoreksi sekitar 41 persen sejak awal tahun dan berada pada level 5.096,83. Meski demikian, indeks menguat 0,79 persen pada perdagangan hari tersebut.

Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires Index, kekayaan Prajogo Pangestu kini diperkirakan mencapai USD10,7 miliar. Jumlah tersebut menyusut USD28,2 miliar dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar USD38,9 miliar.

Penurunan itu setara dengan sekitar Rp511,25 triliun, menjadikan Prajogo salah satu konglomerat Indonesia yang mengalami penyusutan kekayaan terbesar sepanjang tahun ini.

Pada akhir 2025, pemilik Grup Barito tersebut sempat menempati posisi orang terkaya di Asia Tenggara. Namun, tekanan pada saham-saham yang terkait dengan kelompok usahanya turut memengaruhi nilai kekayaan bersih yang dihitung Forbes.

Prajogo kini berada di posisi kedua orang terkaya Indonesia, di bawah Robert Budi Hartono. Perubahan peringkat tersebut mencerminkan besarnya dampak fluktuasi pasar saham terhadap valuasi kekayaan konglomerat yang memiliki kepemilikan signifikan pada perusahaan terbuka.

Saham Grup Barito Anjlok, Kekayaan Prajogo Tertekan

Penurunan kekayaan Prajogo berlangsung seiring koreksi tajam sejumlah saham Grup Barito di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat melemah sekitar 81 persen sejak awal 2026 hingga berada pada level Rp1.350 per saham pada Senin (2/11/2026).

Tekanan serupa terjadi pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Saham emiten energi terbarukan tersebut turun sekitar 78 persen secara tahun berjalan dan diperdagangkan pada harga Rp2.070 per saham.

Kedua saham tersebut sebelumnya menjadi bagian dari kelompok emiten berkapitalisasi pasar besar di BEI. Penurunan harga saham yang signifikan turut memengaruhi valuasi portofolio bisnis Prajogo.

Selain tekanan harga saham, perhatian pasar juga tertuju pada penegakan hukum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penawaran umum saham BREN dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Dalam kasus penawaran umum BREN, OJK menjatuhkan denda administratif sebesar Rp500 miliar kepada AH Ltd. Sementara itu, TC Pte Ltd dikenakan denda Rp100 miliar dalam kasus penawaran umum CUAN.

Kedua sanksi tersebut berkaitan dengan pelanggaran berupa pengaburan informasi pihak yang melakukan pemesanan saham. Temuan OJK menunjukkan adanya pihak terkait pengendali yang memperoleh penjatahan saham dalam jumlah besar dengan identitas yang dikaburkan.

Kekayaan Low Tuck Kwong dan Keluarga Hartono Ikut Menyusut

Penyusutan kekayaan juga dialami Low Tuck Kwong, pendiri PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Berdasarkan daftar 50 orang terkaya Indonesia 2025 versi Forbes, kekayaan Low pada 10 Desember 2025 mencapai USD24,9 miliar.

Nilai tersebut kini diperkirakan turun menjadi USD9,9 miliar, atau berkurang sekitar USD15 miliar yang setara dengan Rp271,94 triliun. Low berada di posisi ketiga dalam daftar orang terkaya Indonesia berdasarkan data yang dikutip.

Sementara itu, kekayaan Anthoni Salim diperkirakan mencapai USD9,1 miliar, turun USD4,5 miliar dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya sebesar USD13,6 miliar.

Tekanan terhadap kekayaan konglomerat juga terlihat pada keluarga Hartono. Pada 2025, kekayaan gabungan Robert Budi Hartono dan Michael Hartono tercatat mencapai USD43,8 miliar.

Setelah Michael Hartono meninggal dunia pada 19 Maret 2026, pencatatan kekayaan keluarga tersebut mengalami perubahan.

Forbes kini memperkirakan total kekayaan keluarga Hartono mencapai USD25,5 miliar. Dari jumlah tersebut, kekayaan Robert Budi Hartono tercatat sebesar USD13,1 miliar.

Adapun kekayaan mendiang Michael Hartono terbagi kepada empat anaknya, yakni Vanessa Hartono, Stefanus Hartono, Roberto Hartono, dan Tessa Natalia Hartono, yang masing-masing diperkirakan memiliki kekayaan sekitar USD3,1 miliar.

Di tengah penyusutan kekayaan sejumlah konglomerat, Grup Jhonlin yang terkait dengan Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam justru melanjutkan ekspansi kepemilikan saham di pasar modal.

Salah satu transaksi terbesarnya adalah akuisisi 30,25 persen saham BYAN melalui PT Jhonlin Baratama dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Transaksi tersebut memperluas portofolio investasi Grup Jhonlin pada perusahaan terbuka. Namun, besaran kekayaan pribadi Haji Isam belum dapat dipastikan berdasarkan data yang tersedia.

Di sisi lain, penurunan tajam harga saham sejumlah perusahaan konglomerasi turut memunculkan perhatian terhadap tingkat valuasi emiten yang sebelumnya diperdagangkan dengan harga premium.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai valuasi premium pada saham-saham konglomerat masih dapat dibenarkan apabila didukung kualitas fundamental dan prospek pertumbuhan bisnis yang kuat.

"[Valuasi] Premium tersebut memang dapat dibenarkan apabila emiten memiliki prospek pertumbuhan laba yang kuat, diversifikasi bisnis yang baik, keunggulan kompetitif, arus kas yang sehat, serta kemampuan mengeksekusi ekspansi secara konsisten,” ujar Nafan.

Namun, apabila valuasi lebih banyak didorong ekspektasi pasar, sentimen terhadap pemilik perusahaan, maupun rencana ekspansi yang tidak disertai pertumbuhan kinerja keuangan sepadan, risiko saham diperdagangkan di atas nilai wajarnya (overvaluation) menjadi lebih besar.

Iklan