Emitenhub.com - Susutnya produksi besi kasar nikel atau nickel pig iron (NPI) dari smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berisiko mengeringkan pasokan bahan baku pabrik baja nirkarat di China.
Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo Wahyu Laksono menilai gangguan operasional smelter RKEF di IMIP akibat defisit air tidak lantas memicu kelangkaan NPI seketika. Efek yang lebih terasa justru pengikisan surplus pasokan global yang selama ini menekan harga.
Pasokan Ketat
Head of Center of Industry Trade and Investment INDEF GTI Andry Satrio Nugroho, dihubungi terpisah, memperkirakan pasokan NPI bakal mengetat bila produksi terus menurun sementara permintaan pabrik baja nirkarat tetap tinggi.
Pihak yang paling merasakan pukulannya, menurut Andry, adalah pabrik pengolah baja nirkarat penyerap NPI dari IMIP, termasuk smelter di China.
Dampaknya juga terbaca di neraca global. Pasar semula meramal surplus logam nikel dunia tahun ini sekitar 32.000 metrik ton, dan penurunan produksi IMIP diperkirakan bakal memangkas angka tersebut.
Meski begitu, tekanannya belum tentu berlarut. Andry menilai durasi El Nino tidak otomatis menentukan lamanya pengurangan produksi, apalagi sejumlah pihak memperkirakan Sulawesi mulai diguyur hujan pada November-Desember 2026.
"Saya menilai produksi dapat kembali meningkat begitu kebutuhan air smelter terpenuhi. Jika pemulihan berlangsung cepat, kenaikan harga akan tertahan," tegasnya.
Besarnya taruhan di NPI terlihat dari data ekspor. Mengacu Kementerian Perdagangan, volume ekspor NPI Indonesia periode Januari-Juli 2025 mencapai 6.628.389 metrik ton, jauh melampaui feronikel (FeNi) yang hanya 37.006 metrik ton pada rentang sama. Selisihnya nyaris mutlak, sekitar 179 kali lipat.
Penelusuran lewat pos tarif memberi gambaran lebih rinci. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor NPI disebut masuk kode HS 72026000 (ferro nickel) yang sepanjang 2025 menembus 11,56 juta metrik ton, sementara kode HS 72015000 (alloy pig iron; spiegeleisen) tercatat 191.740 metrik ton.
Jejak Morowali pun kentara. Tahun lalu, ekspor NPI berkode HS 72026000 dari pelabuhan Morowali mencapai 1,22 juta metrik ton, sedangkan kode HS 72015000 sebanyak 13.864 metrik ton. Keduanya sama-sama berlabuh terbesar di China.
Adapun potensi penurunannya sudah dihitung. Produksi NPI dari smelter RKEF di IMIP diramal anjlok 50.000 hingga 70.000 metrik ton bila laju produksi terus melemah selama dua pekan. Riset Shanghai Metals Market (SMM) mencatat smelter RKEF di IMIP mulai memangkas produksi sejak Selasa (22/9/2026).
Riset SMM merinci sejumlah smelter memangkas tingkat produksi di beberapa lini menjadi sekitar 30% hingga 40% dari kapasitas normal.
"Jika tingkat operasional saat ini berlanjut selama setengah bulan, produksi nickel pig iron berpotensi berkurang sekitar 50.000-70.000 metrik ton berdasarkan metrik tonase fisik," ungkap SMM dalam riset terbarunya, dikutip Rabu (23/9/2026).
Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menautkan penurunan itu pada El Nino yang menyusutkan debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP. Pihaknya bersama para tenant kini menyesuaikan target produksi sekaligus memburu sumber air cadangan untuk meredam dampak.
Peran air dalam operasi ini terbilang luas. Menurut Dedy, sumber daya air menopang kerja smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, hingga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang memasok energi ke smelter.
Khusus di jalur NPI, air dipakai untuk mendinginkan komponen tungku listrik, mencetak slag, serta menyokong sistem PLTU. Kendati begitu, gangguan ini belum sampai menghentikan operasi smelter maupun memicu pengurangan tenaga kerja.
"Meski demikian, dampak tersebut tidak sampai menyebabkan operasional smelter di kawasan IMIP terhenti maupun disertai pengurangan tenaga kerja hingga saat ini," kata Dedy.
Sinyal pengurangan itu sudah sampai ke tenant. IMIP dikabarkan meminta perusahaan di kawasannya menekan produksi NPI sejak akhir pekan lalu akibat kekurangan air. Sebagai pembanding, kapasitas terpasang smelter nikel di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta metrik ton per tahun atau sekitar 350.000 metrik ton per bulan, menurut estimasi Wood Mackenzie.
Sebelumnya, Dedy juga mengakui smelter di kawasan IMIP terpapar El Nino tahun ini, dengan potensi pemangkasan produksi di sentra industri itu sekitar 30% hingga 40%. Ia tak menampik kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah, mengganggu operasional smelter yang mengandalkan air dalam proses produksinya.


