Emitenhub.com - PER adalah rasio yang paling sering dikutip saat orang membicarakan mahal atau murahnya sebuah saham. Banyak pemula membaca PER rendah sebagai sinyal murah, lalu langsung membeli. Jalan pintas itu kerap menyesatkan.
Artikel ini menunjukkan cara menghitung PER saham dengan dua metode, lalu menekankan bagian yang lebih penting, yaitu cara membacanya agar angka rendah tidak menjebak. Untuk melihat PER dalam konteks rasio lain, Anda bisa kembali ke pilar Memahami Rasio Keuangan Saham.
Apa Itu PER dan Rumusnya
Price to Earnings Ratio (PER) membandingkan harga saham dengan laba yang dihasilkan perusahaan. Anda bisa menghitungnya dengan dua rumus yang memberi hasil sama. Cara pertama memakai basis per saham: harga saham dibagi laba per saham (EPS). Cara kedua memakai basis agregat: kapitalisasi pasar dibagi laba bersih setahun.
Angka PER menjawab satu pertanyaan sederhana: berapa rupiah yang Anda bayar untuk setiap satu rupiah laba tahunan perusahaan. PER 10 kali berarti Anda membayar Rp10 untuk setiap Rp1 laba. Bila laba perusahaan stabil, angka itu juga bisa dibaca sebagai sepuluh tahun laba untuk menutup harga yang Anda bayar hari ini.
PER memakai laba, bukan pendapatan, karena laba mencerminkan apa yang benar-benar tersisa untuk pemegang saham setelah semua biaya. Dua perusahaan bisa memiliki pendapatan sama besar, tetapi yang satu jauh lebih menguntungkan. PER menangkap perbedaan itu dan meletakkannya berdampingan dengan harga saham.
Contoh Perhitungan PER Langkah demi Langkah
Pakai data emiten ilustrasi PT Sumber Makmur Tbk. Harga sahamnya Rp2.000, laba bersih setahun Rp1.280 miliar, dan jumlah saham beredar 6,4 miliar lembar.
Hitung Sendiri: PER PT Sumber Makmur Langkah 1. Hitung EPS. EPS = laba bersih / jumlah saham = Rp1.280.000 juta / 6.400 juta lembar = Rp200 per saham. Langkah 2. Hitung PER. PER = harga / EPS = Rp2.000 / Rp200 = 10 kali. Cek silang (basis agregat). Kapitalisasi pasar = Rp2.000 x 6,4 miliar = Rp12.800 miliar. PER = Rp12.800 miliar / Rp1.280 miliar = 10 kali. Hasilnya sama. |
Kedua metode selalu menghasilkan angka yang sama karena keduanya membandingkan hal yang sama, hanya dari sudut per lembar dan sudut keseluruhan perusahaan. Gunakan metode per saham saat Anda hanya punya harga dan EPS, dan metode agregat saat Anda bekerja dari kapitalisasi pasar dan laba bersih.
Perhatikan dua hal saat mengambil EPS. Emiten biasanya melaporkan dua versi, yaitu EPS dasar dan EPS dilusian. EPS dilusian memperhitungkan potensi tambahan saham dari opsi atau obligasi konversi, sehingga lebih konservatif. Selain itu, bila Anda hanya punya laba satu kuartal, jangan langsung memakainya. Setahunkan dulu labanya, misalnya dengan menjumlahkan empat kuartal terakhir, agar PER tidak terlihat empat kali lebih besar dari seharusnya.
PER Rendah Sama dengan Murah? Tidak Selalu
Di sinilah banyak investor tersandung. PER rendah memang bisa menandakan saham yang murah, tetapi bisa juga menjadi peringatan. Pasar sering menetapkan PER rendah karena memperkirakan laba perusahaan akan turun. Ketika laba benar-benar menyusut, harga yang tadinya terlihat murah ternyata wajar, bahkan mahal.
Ada tiga sebab umum PER terlihat rendah secara menipu. Pertama, laba tahun lalu terdongkrak pos sekali jadi seperti penjualan aset, sehingga penyebut PER membesar dan rasionya turun secara semu. Kedua, bisnisnya menurun struktural dan pasar sudah memperhitungkan penurunan itu. Ketiga, perusahaan menanggung risiko tinggi, misalnya utang besar, sehingga investor menuntut harga yang lebih murah sebagai kompensasi risiko.
Kondisi ini disebut value trap, saham yang tampak murah tetapi harganya terus melemah karena kualitas bisnisnya memang memburuk. Sebaliknya, PER tinggi tidak otomatis berarti mahal. Perusahaan yang labanya tumbuh cepat pantas dihargai lebih mahal, karena laba tahun depan akan membuat PER-nya turun dengan sendirinya. Perlakukan PER sebagai pertanyaan awal tentang harga, lalu cari tahu alasan di balik angkanya sebelum menyimpulkan.
Sebagai gambaran, sebuah emiten menjual anak usahanya dan mencatat keuntungan besar sekali jadi, sehingga laba tahun itu melonjak dan PER-nya turun ke 6 kali. Investor yang hanya melihat angka menyimpulkan saham ini murah. Tahun berikutnya, tanpa keuntungan sesaat itu, laba kembali normal dan PER melompat ke 14 kali. Sahamnya tidak pernah semurah yang terlihat.
PER Trailing vs PER Forward
PER hadir dalam dua versi, tergantung laba mana yang Anda pakai sebagai penyebut. PER trailing memakai laba dua belas bulan terakhir yang sudah terjadi. Angkanya faktual karena berdasarkan data nyata, tetapi menoleh ke belakang.
PER forward memakai proyeksi laba ke depan, biasanya estimasi konsensus analis untuk tahun berjalan atau tahun depan. Bila para analis memperkirakan EPS PT Sumber Makmur naik dari Rp200 menjadi Rp250, maka PER forward = Rp2.000 / Rp250 = 8 kali, lebih rendah dari PER trailing 10 kali. Selisih ini menandakan pasar mengharapkan laba tumbuh.
Untuk perusahaan yang tumbuh, PER forward biasanya lebih kecil dari PER trailing. Untuk perusahaan yang labanya diperkirakan turun, PER forward justru lebih besar. Kelemahan PER forward terletak pada keakuratan estimasi. Bila proyeksi analis meleset, angkanya ikut menyesatkan. Gunakan keduanya berdampingan: trailing untuk fakta, forward untuk ekspektasi.
Estimasi laba forward bisa Anda temukan di laporan riset sekuritas, ringkasan konsensus di aplikasi broker, atau paparan publik manajemen. Karena angka ini berupa perkiraan, periksa berapa banyak analis yang menyusunnya dan seberapa lebar rentang perkiraannya. Konsensus dari banyak analis lebih dapat diandalkan daripada proyeksi satu sumber.
Cara Membandingkan PER dengan Rata-rata Sektor
PER 10 kali tidak berarti apa-apa sampai Anda punya pembanding. Ada dua patokan yang berguna. Pertama, median PER emiten lain di sektor yang sama. Kedua, PER historis perusahaan itu sendiri selama beberapa tahun.
Andaikan median PER sektor barang konsumsi berada di 15 kali, sementara PT Sumber Makmur berada di 10 kali. Saham ini terlihat lebih murah daripada pesaingnya. Namun angka itu justru menjadi awal penyelidikan, bukan kesimpulan. Anda perlu bertanya kenapa pasar menghargainya lebih rendah. Bila jawabannya pertumbuhan yang lebih lambat atau utang yang lebih besar, diskon itu wajar. Bila tidak ada alasan jelas, saham itu mungkin memang terabaikan pasar.
Aturan pentingnya tetap sama: bandingkan hanya dengan emiten sesektor. PER wajar sebuah bank berbeda dari PER wajar perusahaan teknologi, sehingga menyandingkan keduanya akan memberi kesimpulan yang keliru.
Satu patokan tambahan yang berguna adalah PER pasar secara keseluruhan, misalnya PER rata-rata indeks. Angka ini memberi gambaran apakah pasar sedang mahal atau murah secara umum. Ketika PER sebuah emiten jauh di bawah PER pasar tanpa alasan fundamental, saham itu layak ditelaah lebih dalam. Sebaliknya, saat seluruh pasar diperdagangkan pada PER tinggi, PER emiten yang tampak wajar pun perlu dinilai ulang.
Kapan PER Tidak Bisa Dipakai
PER punya dua titik buta yang perlu Anda kenali.
Pertama, emiten yang merugi. Ketika laba bersih negatif, PER menjadi negatif dan kehilangan makna. Anda tidak bisa menilai perusahaan rugi lewat PER. Banyak perusahaan teknologi tahap awal justru sengaja merugi demi mengejar pertumbuhan, sehingga PER sama sekali tidak relevan untuk menilainya. Untuk kasus seperti ini, beralihlah ke ukuran lain seperti PBV atau rasio harga terhadap penjualan, yang tetap bekerja meski laba minus.
Kedua, emiten siklikal seperti tambang, komoditas, dan properti. Laba perusahaan siklikal berayun tajam mengikuti siklus harga komoditas atau ekonomi. Pada puncak siklus, labanya melonjak sehingga PER-nya terlihat sangat rendah, tepat pada saat harga saham sebenarnya rawan berbalik turun. Pada dasar siklus, labanya anjlok sehingga PER-nya melonjak tinggi, padahal saat itu harganya bisa jadi justru murah. PER siklikal membalik logika biasa: angka rendah menjadi tanda bahaya, angka tinggi kadang menjadi peluang.
Untuk emiten siklikal, analis kerap memakai laba rata-rata sepanjang satu siklus penuh, bukan laba satu tahun, agar PER-nya tidak menipu. Cara ini menghaluskan efek puncak dan dasar siklus. Misalnya, bila laba per saham sebuah emiten batu bara berayun antara Rp100 pada dasar siklus dan Rp600 pada puncaknya, memakai rata-rata sekitar Rp350 memberi PER yang jauh lebih realistis daripada memakai angka puncak yang sesaat. Investor berpengalaman bahkan membalik nalurinya di sektor ini: mereka waspada saat PER siklikal terlihat murah dan mulai tertarik saat PER-nya melebar karena laba sedang berada di titik terendah.
Ringkasnya, membaca PER dengan benar berarti tidak berhenti pada angkanya. Hitung PER-nya, bandingkan dengan sektor dan sejarahnya sendiri, periksa apakah labanya bersih dari pos sekali jadi, dan pastikan perusahaannya bukan tipe siklikal atau sedang merugi. Empat langkah singkat ini menyaring sebagian besar jebakan yang menimpa pemula. PER bukan alat yang buruk, hanya alat yang sering disalahpahami saat dipakai sendirian tanpa konteks.
PER adalah titik awal yang baik untuk menilai harga, selama Anda membacanya bersama pertumbuhan, kualitas laba, dan konteks sektor. Untuk melihat PER berdampingan dengan PBV, ROE, dan DER dalam satu kerangka, kembali ke pilar Memahami Rasio Keuangan Saham: PER, PBV, ROE, DER.


