Kata murah sering dilekatkan ke sebuah saham hanya karena satu angka: PBV di bawah 1. Banyak pemula membaca angka itu sebagai diskon dan langsung tertarik. Cara pandang ini melewatkan bagian terpenting, yaitu kualitas perusahaan di balik angkanya.
Artikel ini menjelaskan apa itu PBV, cara menghitungnya, dan bagian yang sering dilupakan: cara memasangkan PBV dengan ROE. Dengan pasangan ini, Anda akan paham kenapa PBV tinggi kadang tetap wajar, dan kenapa PBV rendah belum tentu murah. Untuk melihat PBV dalam kerangka rasio lain, kembali ke pilar Memahami Rasio Keuangan Saham.
Apa Itu PBV dan Rumusnya
Price to Book Value (PBV) membandingkan harga saham dengan nilai bukunya. Nilai buku adalah ekuitas perusahaan, yaitu total aset dikurangi total liabilitas, yang mencerminkan hak pemegang saham menurut catatan akuntansi. PBV menunjukkan berapa kali lipat harga pasar dibanding nilai buku itu.
Anda bisa menghitungnya dengan dua rumus yang memberi hasil sama. Cara pertama memakai basis per saham: harga saham dibagi nilai buku per saham. Cara kedua memakai basis agregat: kapitalisasi pasar dibagi total ekuitas. PBV 1 kali berarti pasar menghargai saham tepat sebesar nilai bukunya. Di bawah 1 berarti pasar menghargainya lebih rendah dari nilai buku, dan di atas 1 berarti pasar memberi premium di atas nilai buku.
Cara sederhana membayangkan nilai buku: seandainya perusahaan menjual seluruh asetnya pada nilai catatan, lalu melunasi semua utang, sisa uang untuk pemegang saham itulah nilai bukunya. PBV membandingkan harga pasar dengan angka sisa tersebut. Angka ini paling bermakna untuk perusahaan yang asetnya nyata dan mudah dinilai, dan kurang bermakna untuk perusahaan yang kekayaannya berupa hal tak berwujud.
Contoh Perhitungan PBV
Pakai data emiten ilustrasi PT Sumber Makmur Tbk. Harga sahamnya Rp2.000, total ekuitas Rp6.000 miliar, dan jumlah saham beredar 6,4 miliar lembar. Angka ekuitas Anda ambil dari baris total ekuitas di neraca, sedangkan jumlah saham beredar tercantum di catatan atas laporan keuangan atau di ringkasan data emiten.
Hitung Sendiri: PBV PT Sumber Makmur Langkah 1. Hitung nilai buku per saham. Nilai buku = ekuitas / jumlah saham = Rp6.000.000 juta / 6.400 juta lembar = Rp938 per saham. Langkah 2. Hitung PBV. PBV = harga / nilai buku = Rp2.000 / Rp938 = 2,1 kali. Cek silang (basis agregat). Kapitalisasi pasar = Rp2.000 x 6,4 miliar = Rp12.800 miliar. PBV = Rp12.800 miliar / Rp6.000 miliar = 2,1 kali. Hasilnya sama. |
PBV 2,1 kali berarti Anda membayar Rp2,10 untuk setiap Rp1 nilai buku perusahaan. Apakah premium sebesar itu wajar? Jawabannya bergantung pada seberapa produktif perusahaan mengelola ekuitasnya, dan di sinilah ROE masuk.
PBV di Bawah 1: Peluang atau Jebakan
PBV di bawah 1 berarti pasar menghargai perusahaan lebih rendah dari nilai buku akuntansinya. Secara kasar, Anda seolah membeli aset bersih perusahaan dengan harga diskon. Angka ini bisa menandakan peluang, tetapi lebih sering menandakan alasan yang pantas.
Pasar biasanya menetapkan PBV rendah karena tiga sebab. Pertama, perusahaan menghasilkan return yang tipis atau bahkan merugi, sehingga ekuitasnya tidak menciptakan nilai. Kedua, aset di neraca dicatat terlalu tinggi dibanding nilai jual sebenarnya, sehingga nilai buku itu sendiri kurang bisa dipercaya. Ketiga, perusahaan memikul risiko besar, seperti utang menumpuk atau bisnis yang menyusut.
PBV rendah menjadi peluang hanya ketika perusahaannya sehat tetapi harganya sedang tertekan sementara, misalnya karena sentimen pasar yang berlebihan. Untuk membedakan peluang dari jebakan, periksa ROE-nya. PBV di bawah 1 dengan ROE yang layak patut ditelaah lebih dalam. PBV di bawah 1 dengan ROE yang juga rendah biasanya adalah harga yang memang pantas, bukan diskon.
Bandingkan dua bank sebagai contoh. Bank pertama diperdagangkan pada PBV 0,8 kali dengan ROE 16 persen, tertekan karena kekhawatiran pasar yang sementara. Bank kedua juga berada di PBV 0,8 kali, tetapi ROE-nya hanya 4 persen karena kredit macet yang menumpuk. Angka PBV keduanya identik, namun yang pertama berpeluang murah dan yang kedua kemungkinan besar layak dihargai serendah itu.
Hubungan PBV dan ROE
PBV dan ROE adalah dua sisi dari koin yang sama. ROE mengukur berapa laba yang dihasilkan perusahaan dari setiap rupiah ekuitas. PBV mengukur berapa yang Anda bayar untuk ekuitas itu. Karena keduanya berpusat pada ekuitas, mereka harus dibaca bersama.
Logikanya lurus. Perusahaan dengan ROE 25 persen mengubah setiap Rp1 ekuitas menjadi Rp0,25 laba per tahun, sehingga pasar rela membayar premium dan PBV-nya naik di atas 1. Perusahaan dengan ROE 5 persen, di bawah imbal hasil yang diminta investor, pantas dihargai di bawah nilai bukunya. Inilah alasan PBV tinggi bisa tetap wajar: bila ditopang ROE yang tinggi, premium itu punya dasar.
Lihat dua emiten dengan PBV sama tetapi ROE berbeda:
Emiten | PBV | ROE | Penilaian |
PT Sumber Makmur | 2,1 kali | 21 persen | Premium terbayar |
PT Karya Lamban | 2,1 kali | 8 persen | Premium mahal |
Keduanya dihargai pada PBV yang sama, tetapi Sumber Makmur menghasilkan laba jauh lebih besar dari ekuitas yang sama. Membayar 2,1 kali nilai buku untuk ROE 21 persen jauh lebih masuk akal daripada membayar harga yang sama untuk ROE 8 persen. Kebiasaan yang perlu Anda bangun sederhana: jangan pernah membaca PBV tanpa melihat ROE di sebelahnya.
Ada satu ambang yang membantu. Investor umumnya meminta imbal hasil tertentu atas modalnya, katakanlah sekitar belasan persen. Ketika ROE perusahaan berada di atas ambang itu, perusahaan menciptakan nilai dan pantas diperdagangkan di atas nilai buku. Ketika ROE berada di bawahnya, perusahaan menggerus nilai dan wajar diperdagangkan di bawah nilai buku. PBV pada dasarnya adalah cara pasar menerjemahkan selisih antara ROE dan imbal hasil yang diminta itu menjadi sebuah angka.
PBV per Sektor: Kenapa Bank dan Teknologi Berbeda
Rentang PBV yang wajar berbeda tajam antarsektor, dan penyebabnya terletak pada isi neraca masing-masing.
Bank sangat cocok dinilai dengan PBV. Neracanya berisi aset finansial seperti kredit dan surat berharga yang nilainya dekat dengan nilai pasar, sehingga nilai buku bank cukup mencerminkan kondisi sebenarnya. Bank dengan ROE tinggi kerap diperdagangkan pada PBV 1,5 sampai 3 kali, sedangkan bank yang bermasalah bisa jatuh di bawah 1 kali. Bagi investor bank, PBV yang dipasangkan dengan ROE adalah ukuran valuasi utama.
Perusahaan teknologi berada di ujung yang berlawanan. Aset fisiknya sedikit, sementara nilai sesungguhnya ada pada merek, basis pengguna, dan kekayaan intelektual yang tidak tercatat di neraca. Akibatnya nilai bukunya kecil dan PBV-nya secara alami tinggi, kerap di atas 10 kali. Menyebut saham teknologi mahal hanya karena PBV-nya tinggi akan keliru, karena ukuran ini memang kurang relevan untuk model bisnis yang ringan aset.
Properti menunjukkan sisi lain lagi. Tanah dan bangunan sering dicatat pada nilai perolehan lama yang jauh di bawah harga pasar sekarang, sehingga banyak emiten properti diperdagangkan di bawah PBV 1 tanpa benar-benar murah. Sebagian analis menyiasatinya dengan menghitung ulang nilai aset ke harga pasar, lalu membandingkan harga saham dengan nilai aktiva bersih yang sudah disesuaikan itu. Karena perbedaan karakter ini, bandingkan PBV hanya di dalam sektor yang sejenis.
Poin Kunci • PBV membandingkan harga dengan nilai buku (ekuitas per saham). • PBV di bawah 1 belum tentu murah. Cek ROE untuk memisahkan peluang dari jebakan. • ROE tinggi membuat PBV tinggi tetap wajar, karena ekuitasnya lebih produktif. • Bandingkan PBV hanya dalam sektor sejenis. Bank, teknologi, dan properti punya rentang wajar yang berbeda. |
PBV adalah alat yang kuat untuk menilai harga, selama Anda tidak membacanya sendirian. Pasangkan selalu dengan ROE untuk menilai apakah premium atau diskonnya beralasan, dan bandingkan hanya dalam sektor yang sama. Latih kebiasaan ini pada emiten yang Anda kenal: hitung PBV dan ROE-nya, lalu tanyakan apakah pasar menghargainya secara adil. Untuk melihat PBV berdampingan dengan PER, ROE, dan DER dalam satu kerangka, kembali ke pilar Memahami Rasio Keuangan Saham: PER, PBV, ROE, DER.


