Emitenhub.com - Sejumlah analis memproyeksikan prospek saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dalam jangka menengah akan kembali bergantung pada kemampuan perseroan mempertahankan perbaikan profitabilitas dan arus kasnya.
Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas minimum harga saham Rp50 atau gocap juga berpotensi membuka ruang pergerakan baru bagi saham emiten teknologi tersebut. Hilangnya batas itu membuka ruang bagi harga saham GOTO untuk bergerak lebih fleksibel mengikuti keseimbangan permintaan dan penawaran.
Belum lama ini, Morgan Stanley & Co International Plc memborong saham GOTO pada harga Rp23 per saham. Tak tanggung-tanggung, kepemilikan Morgan Stanley di GOTO bahkan menembus lebih dari 5% dari total hak suara perseroan.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Rabu (26/8/2026), Morgan Stanley & Co International Plc tercatat memiliki 59,37 miliar saham GOTO atau setara 5,1563% hak suara.
Kepemilikan tersebut meningkat dari sebelumnya 55,57 miliar saham atau setara 4,8267% hak suara. Dengan demikian, Morgan Stanley menambah sekitar 3,8 miliar saham GOTO.
Dalam laporan tersebut, transaksi dilakukan secara tidak langsung melalui skema pembelian pada 21 Agustus 2026. Rinciannya, Morgan Stanley membeli 3,14 miliar saham biasa GOTO pada harga Rp23 per saham serta tambahan 657,34 juta saham pada harga yang sama.
Jika dihitung berdasarkan harga transaksi, total nilai pembelian mencapai sekitar Rp87,30 miliar.
Adapun saham GOTO terpantau masih stagnan pada level Rp50 per saham sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026. Di sisi lain, dari sisi kinerja, GOTO mampu mencatatkan laba bersih selama dua kuartal secara beruntun.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelaskan penghapusan batas minimum ini dapat membuka antrean saham yang selama ini tertahan di level Rp50, sehingga memberi jalan keluar bagi investor sekaligus memungkinkan harga terbentuk sesuai kekuatan permintaan dan penawaran.
Ia mencontohkan saham GOTO yang saat ini dihargai Rp50 per saham dapat bergerak di bawah Rp50 apabila BEI membuka perdagangan saham hingga Rp1 di pasar reguler dan pasar tunai. Namun, arah pergerakan saham emiten teknologi tersebut tetap akan ditentukan oleh fundamental, sentimen, serta kekuatan permintaan dan penawaran.
"GOTO, misalnya, secara teori memang bisa turun perlahan sampai Rp1, tapi tentu tidak otomatis hanya gara-gara aturannya berubah. Tetap tergantung fundamental, sentimen, serta kekuatan jual-belinya," kata Liza, dikutip pada Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, penghapusan batas harga minimum bukan sekadar mengubah nominal yang terlihat di layar perdagangan. Kebijakan tersebut benar-benar membuka kemungkinan saham ditransaksikan hingga Rp1 dalam mekanisme continuous auction di pasar reguler dan pasar tunai.
Bagi saham-saham yang selama ini tertahan di level Rp50, Liza menilai kebijakan ini dapat membuka kembali proses pembentukan harga atau price discovery. Investor yang ingin menjual saham tak lagi harus mengantre di harga minimum yang berlaku saat ini, sementara harga berpeluang bergerak lebih mencerminkan kondisi permintaan dan penawaran.
Namun, Liza mengingatkan harga yang lebih rendah tidak selalu berarti saham tersebut menjadi lebih menarik. Risiko ini terutama perlu diperhatikan investor ritel yang berpotensi menganggap saham berharga murah sebagai peluang investasi.
"Dari sisi investor ritel, risikonya lumayan besar karena harga nominal rendah gampang menimbulkan kesan sudah murah, padahal bisa saja kondisi fundamentalnya memang terus memburuk dan nilai investasinya nyaris habis," ujarnya.
Selain itu, rentang harga Rp1 hingga Rp10 juga berpotensi menciptakan volatilitas yang jauh lebih ekstrem. Perubahan harga sebesar Rp1 dapat menghasilkan persentase perubahan yang besar. Saham yang naik dari Rp1 menjadi Rp2, misalnya, mencatatkan kenaikan 100%, sedangkan penurunan dari Rp2 ke Rp1 berarti kerugian 50%.
Liza menilai kebijakan tersebut dapat meningkatkan aktivitas perdagangan saham berharga rendah, tetapi lonjakan frekuensi dan nilai transaksi tidak otomatis menunjukkan likuiditas pasar menjadi lebih sehat. Aktivitas yang meningkat justru dapat mencerminkan spekulasi yang kian ramai pada saham-saham bermasalah.
Di sisi lain, perubahan batas harga minimum juga belum tentu membuat saham-saham tersebut lebih menarik bagi investor institusi maupun asing.
Menurut Liza, kelompok investor tersebut tetap mempertimbangkan fundamental perusahaan, tata kelola, transparansi free float, kedalaman likuiditas, serta kemudahan keluar dan masuk ke saham tanpa menggerakkan harga secara signifikan.
Adapun BEI telah melakukan pembahasan dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), serta investor global terkait rencana menghapus batas minimum harga saham Rp50 per saham yang berlaku di pasar reguler dan pasar tunai.
Penghapusan Batas Minimum Rp50 Jadi Sentimen Positif bagi GOTO
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai perubahan mekanisme tersebut pada dasarnya positif bagi GOTO dari sisi pembentukan harga. "Menurut kami penerapan batas harga minimum saham menjadi Rp1 pada dasarnya positif untuk GOTO, terutama dari sisi mekanisme price discovery dan persepsi investor," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (21/8/2026).
Menurut Andrey, batas minimum Rp50 selama ini membuat saham berharga rendah memiliki ruang penurunan yang terbatas secara nominal. Ketika tekanan jual meningkat, kondisi tersebut dapat memicu antrean jual yang panjang karena harga tak dapat bergerak lebih rendah.
Dengan batas minimum Rp1, harga saham GOTO memiliki ruang lebih besar untuk menemukan titik keseimbangan baru antara pembeli dan penjual. Mekanisme tersebut dinilai dapat membuat proses pembentukan harga berlangsung lebih natural.
Namun, perubahan itu tetap membawa risiko bagi GOTO dalam jangka pendek. Investor tak lagi memiliki persepsi bahwa Rp50 merupakan floor harga, sehingga tekanan jual secara teoretis dapat membawa harga saham bergerak di bawah level tersebut.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan kehati-hatian investor sekaligus selling pressure menjelang penerapan aturan baru.
Kendati demikian, Andrey menilai tekanan tersebut lebih berkaitan dengan faktor teknikal dan psikologis dibandingkan dengan perubahan fundamental perseroan.
Setali tiga uang, Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia menilai perubahan batas minimum harga saham berpotensi menambah tekanan jual dalam jangka pendek, terutama dengan posisi harga GOTO saat ini dan antrean jual yang masih berlanjut.
"Menurut kami, penerapan batas minimum harga saham menjadi Rp1 berpotensi menambah selling pressure terhadap GOTO dalam jangka pendek, terutama mengingat posisi harga saham saat ini dan antrean jual yang terus berlanjut," ujarnya.
Di satu sisi, lanjutnya, saham GOTO juga mengalami overhang karena posisi free float yang besar di pasar, sehingga sentimen fundamental saat ini belum sepenuhnya tecermin pada pergerakan harga saham.
Kinerja GOTO sendiri menunjukkan perbaikan. Pada kuartal II/2026, perseroan membukukan laba bersih Rp252 miliar, melanjutkan laba Rp171 miliar pada kuartal I/2026. Dengan demikian, GOTO telah mencatatkan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut.
Pada periode sama, pendapatan bersih GOTO tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun. EBITDA Grup yang disesuaikan melonjak 137% secara tahunan hingga menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya, sedangkan Gross Transaction Value (GTV) inti tumbuh 83% menjadi Rp164 triliun.
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo pun mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun sepanjang 2026. Target tersebut tetap dipertahankan meski perseroan harus menyesuaikan proyeksi kontribusi masing-masing lini usaha setelah kebijakan komisi baru bagi ojol sebesar 8% mulai berlaku pada paruh kedua tahun ini.
Perbaikan kinerja tersebut menjadi faktor utama yang akan menentukan prospek GOTO seusai perubahan batas minimum harga saham.
RHB Sekuritas menilai apabila pertumbuhan bisnis tetap sehat, EBITDA dan arus kas terus membaik, serta profitabilitas kian berkelanjutan, perubahan batas harga minimum semestinya kian kecil pengaruhnya terhadap investment case GOTO.
"Jadi, kami melihat aturan Rp1 lebih sebagai perubahan market structure daripada katalis fundamental negatif bagi GOTO," kata Andrey.
Akan tetapi, prospek tersebut masih menghadapi risiko dari sisi regulasi. Sarkia menilai pasar telah mengantisipasi potensi tekanan terhadap kinerja GOTO pada paruh kedua 2026 setelah pemerintah membatasi komisi platform transportasi online maksimal 8% dari sebelumnya sekitar 20%.
Kebijakan tersebut berpotensi menekan monetisasi bisnis On Demand Services GOTO. Risiko itu akan kian besar apabila cakupan pembatasan diperluas ke layanan food dan goods delivery, yang menurut Sarkia dapat menekan laba perseroan yang baru mulai positif sejak awal tahun.
"Kami melihat pasar saat ini sudah price in atau telah mengantisipasi potensi tekanan terhadap kinerja GOTO pada semester II/2026 terutama dari regulasi pembatasan komisi platform transportasi online menjadi maksimal 8% dari sebelumnya sekitar 20%," ujarnya.
Tekanan terhadap harga saham juga berpotensi datang dari faktor eksternal perusahaan. Sarkia menyebut keluarnya GOTO dari MSCI menjadi sinyal potensi outflow besar, terutama ketika sentimen pasar turut dibayangi kekhawatiran terhadap dampak regulasi.
Pada akhirnya, penghapusan batas gocap lebih banyak dibaca analis sebagai perubahan struktur pasar ketimbang katalis fundamental, sehingga arah saham GOTO ke depan tetap akan ditentukan oleh keberlanjutan perbaikan profitabilitas dan arus kasnya. Di tengah masuknya investor sekelas Morgan Stanley serta laba yang bertahan dua kuartal beruntun, perseroan masih harus membuktikan ketahanannya menghadapi tekanan dari pembatasan komisi ojol dan potensi outflow pascakeluar dari MSCI, dua faktor yang akan menguji sejauh mana momentum positif GOTO dapat bertahan.


