Saham

LQ45 Ungguli IHSG di Awal September, Asing Serbu BBRI hingga BBCA

Ringkasan Cepat

Indeks LQ45 mengawali September 2026 dengan penguatan 1,64%, melampaui IHSG yang naik 1,14%, seiring kembalinya dana asing yang mencatatkan net buy sekitar Rp2 triliun dengan BBRI, BBCA, dan TPIA sebagai saham paling diburu. Analis menilai fenomena ini sebagai indikasi awal rotasi dana ke saham kapitalisasi besar yang likuid dan berfundamental kuat, dengan sektor perbankan seperti BBRI dan BBNI menjadi pilihan utama, meski keberlanjutannya masih perlu dikonfirmasi arus asing dan katalis makro.

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi penguatan indeks LQ45 yang melampaui IHSG seiring kembalinya dana asing ke saham berkapitalisasi besar

Ilustrasi penguatan indeks LQ45 yang melampaui IHSG seiring kembalinya dana asing ke saham berkapitalisasi besar (Foto:IHSG)

Emitenhub.com - Indeks LQ45 mengawali September 2026 dengan penguatan yang lebih tinggi dibandingkan IHSG. Kondisi ini seiring kembalinya dana asing ke pasar domestik, dengan saham berkapitalisasi besar menjadi incaran.

Pada perdagangan awal September 2026, data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat LQ45 ditutup menguat 1,64% pada Selasa (1/9/2026). Sementara itu, IHSG membukukan kenaikan 1,14% menuju level 6.599,94.

Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp2 triliun. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi saham yang paling banyak dibeli.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai performa LQ45 yang melampaui IHSG menjadi indikasi awal adanya pergeseran preferensi atau rotasi dana investor menuju saham berkapitalisasi besar, likuid, dan berfundamental relatif kuat.

"Namun, kondisi ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa telah terjadi rotasi dana yang bersifat struktural karena masih perlu dikonfirmasi oleh konsistensi net buy asing dan kinerja LQ45 dalam beberapa pekan ke depan," ujar Nafan saat dihubungi Bisnis, Selasa (2/9/2026).

Dari sisi sektoral, pelaku pasar juga cenderung memburu saham yang menawarkan visibilitas pertumbuhan laba, neraca keuangan sehat, likuiditas tinggi, serta valuasi yang masih menarik. Faktor-faktor inilah yang menjadikan saham perbankan seperti BBCA dan BBRI masuk radar perburuan investor.

Adapun keberlanjutan tren net buy asing dinilai bakal sangat bergantung pada arah suku bunga acuan global maupun domestik, ekspektasi kebijakan Bank Sentral AS The Fed, stabilitas nilai tukar rupiah, pergerakan yield obligasi, hingga persepsi pasar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Nafan, apabila katalis-katalis makro tersebut bergerak kian kondusif dan net buy asing mengalir secara konsisten, penguatan indeks LQ45 berpeluang berlanjut hingga penghujung 2026.

Sebaliknya, jika arus modal masuk saat ini hanya bersifat tactical rebound atau aksi bargain hunting sesaat, pergerakan indeks berpotensi kembali volatil.

"Investor sebaiknya tidak hanya melihat besarnya net buy asing, tetapi juga mencermati keberlanjutan volume transaksi, revisi proyeksi laba emiten, valuasi relatif terhadap historis, serta katalis fundamental saham," pungkas Nafan.

Secara fundamental, kinerja keuangan sebagian emiten LQ45 juga memperlihatkan tren ekspansif, dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 22,48% secara tahunan (year on year/YoY) dan median 18,42%.

Emiten berbasis komoditas dan energi mendominasi jajaran pertumbuhan laba bersih tertinggi. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memimpin lonjakan laba bersih hingga 919,6% berkat kenaikan pendapatan sebesar 59,30% YoY.

Posisi tersebut disusul PT Indika Energy Tbk (INDY) dengan kenaikan laba bersih 354,30% YoY dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang tumbuh 313,41% YoY.

Deretan Saham Perbankan yang Dijagokan

Sementara itu, data kinerja keuangan semester I/2026 dari emiten berkapitalisasi besar di sektor perbankan cenderung mencatatkan pertumbuhan stabil dan defensif seiring berlanjutnya konsistensi fundamental.

Saham BBCA, misalnya, membukukan kenaikan pendapatan tipis di rentang 2,20% hingga 6,49%. Di sisi lain, BBRI mengantongi kenaikan pendapatan 4,20% disertai pertumbuhan laba bersih 17,50%, yang mengonfirmasi pola kinerja berisiko rendah dengan memprioritaskan ketahanan rasio keuangan.

Investment Analyst Lead Stockbit Edi Chandren menilai sektor perbankan menawarkan prospek investasi yang solid dalam 3-6 bulan ke depan.

Momentum ini ditopang kondisi likuiditas yang tetap longgar, ekspansi kredit yang mulai menguat, serta kualitas aset yang terjaga secara konsisten.

"Di antara big four banks, preferensi kami jatuh pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dan BBRI," ujar Edi dalam publikasi riset terbarunya.

Untuk BBNI, ia melihat potensi penguatan kinerja laba bersih seiring pencadangan yang diproyeksikan mulai melandai pada paruh kedua tahun ini. Langkah perseroan mempertebal cadangan secara agresif pada paruh pertama 2026 dinilai memberikan ruang ekspansi margin yang lebih longgar.

Sementara itu, untuk BBRI, sinyal pemulihan bisnis mulai terlihat jelas dari optimisme manajemen dalam memacu kembali ekspansi penyaluran kredit di segmen mikro. Kembalinya pertumbuhan mikro diyakini menjadi motor penggerak utama bagi pemulihan valuasi saham emiten pelat merah ini.

"Mulai optimisnya manajemen untuk kembali menumbuhkan segmen mikro dapat menjadi sentimen positif bagi BBRI, setelah mengalami derating valuasi yang paling signifikan di antara bank Himbara," ungkapnya.

Dengan kombinasi penurunan beban pencadangan di BBNI serta dorongan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan mikro di BBRI, kedua saham perbankan negara tersebut dijagokan sebagai pilihan utama di sektor perbankan.

Pada semester I/2026, BBNI tercatat membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp10,80 triliun. Realisasi itu tumbuh 6,33% secara tahunan dari periode sama tahun lalu sebesar Rp10,16 triliun.

Sementara itu, BBRI meraih laba bersih Rp31,2 triliun dengan total aset melesat 11,7% YoY. Pertumbuhan aset ditopang penyaluran kredit dan pembiayaan yang mendaki 16,2% YoY menjadi Rp1.646 triliun, serta diimbangi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7% YoY.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan perseroan tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan ekspansi tersebut dapat berjalan dengan fundamental yang kian sehat.

Penguatan LQ45 yang melampaui IHSG pada awal September menandai kembalinya minat asing pada saham berkapitalisasi besar, dengan perbankan seperti BBRI, BBCA, dan BBNI di garis depan perburuan. Namun para analis menahan diri menyebutnya sebagai rotasi dana struktural, karena tren ini masih perlu dikonfirmasi oleh konsistensi net buy asing dalam beberapa pekan ke depan. Arah indeks pada sisa 2026 akan bergantung pada kombinasi kebijakan The Fed, stabilitas rupiah, pergerakan yield obligasi, serta apakah kinerja emiten mampu menopang valuasi yang mulai diburu kembali.

Iklan