Emitenhub.com - Investor asing terpantau kembali ke pasar saham Indonesia dengan nilai beli bersih mencapai Rp11,09 triliun sejak awal Agustus 2026. Pertanyaannya, mampukah kucuran dana asing itu mengerek IHSG pada September?
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks harga saham gabungan (IHSG) terparkir di level 6.518,13 pada Jumat (28/8/2026), mencerminkan penguatan 4,52% secara bulanan (month on month/MoM). Pada periode berjalan (month to date), investor asing membukukan beli bersih atau net buy senilai Rp11,09 triliun.
Kendati begitu, analis menilai gerak IHSG masih akan volatil memasuki September 2026, dengan pelaku pasar mencermati rebalancing indeks MSCI yang berlaku efektif bulan depan.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai rebalancing MSCI yang efektif pada 1 September 2026 dan FTSE pada 21 September 2026 dapat meningkatkan volatilitas pasar, terutama pada saham-saham yang terdampak langsung.
"Kami melihat IHSG pada September 2026 berpeluang bergerak volatil dengan bias netral hingga positif karena tekanan teknikal dari rebalancing indeks global berpotensi diimbangi oleh likuiditas domestik dan aliran dana asing yang masih cukup baik," katanya, Jumat (28/8/2026).
Samuel Sekuritas memprediksi arus dana asing masih berpeluang mengucur deras ke pasar saham Tanah Air. Hanya saja, net inflow akan terjadi dengan intensitas yang lebih fluktuatif dan selektif dibandingkan Agustus.
Menurutnya, keberlanjutan foreign flow akan sangat bergantung pada stabilitas rupiah, pergerakan yield AS, serta risk appetite investor global. Aliran dana dinilai tetap terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi jumbo yang likuid dan berfundamental kuat.
"Katalis utama IHSG pada September akan berasal dari arah kebijakan The Fed dan Bank Indonesia, pergerakan rupiah, yield US Treasury, perkembangan geopolitik, harga komoditas, serta implementasi rebalancing MSCI dan FTSE," katanya.
Senada, Head of Research RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya memprediksi IHSG masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi pada September 2026.
RHB memprediksi pergerakan IHSG berada pada level 6.300-6.800, dengan peluang menguji area 6.700-6.800 jika arus dana asing dan kinerja rupiah cukup stabil.
Sebaliknya, RHB memprediksi IHSG akan menguji area 6.300-6.400 jika kinerja rupiah kembali melemah disertai kenaikan imbal hasil acuan surat utang AS.
Ihwal rebalancing indeks global, RHB memprediksi besaran outflow asing berada pada level Rp1-Rp2,5 triliun. Prediksi tersebut dengan catatan bobot final, aset kelolaan dana pasif, dan posisi investor sebelum tanggal efektif berlaku.
"Angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan foreign net buy sekitar Rp10 triliun sepanjang Agustus. Oleh karena itu, rebalancing dapat meningkatkan volatilitas dan volume transaksi pada tanggal efektif, tetapi belum tentu membalikkan tren arus modal asing secara keseluruhan," katanya, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, sejumlah faktor yang lebih memengaruhi arah IHSG antara lain kinerja nilai tukar rupiah, arah kebijakan bank sentral, serta kepercayaan investor terhadap agenda reformasi transparansi pasar modal RI.
Hanya saja, secara historis, September kerap menjadi waktu yang menantang bagi IHSG. Selama 10 tahun terakhir, IHSG hanya mampu menguat sebanyak tiga kali dengan rata-rata return terkoreksi 0,9%. "Tahun ini, foreign inflow, valuasi yang lebih menarik setelah koreksi, dan perbaikan momentum ekonomi dapat menjadi penyangga. Oleh karena itu, koreksi akibat rebalancing lebih tepat dipandang sebagai peluang akumulasi selektif daripada sinyal untuk keluar sepenuhnya dari pasar," katanya.
Pilah-pilih Saham Berpotensi Cuan
Sektor perbankan masih menjadi salah satu rekomendasi utama para analis. Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menyampaikan perbankan merupakan salah satu sektor yang paling sensitif terhadap foreign inflow sekaligus arah likuiditas domestik.
Menurutnya, pasar saham RI sudah cukup menarik untuk kembali menerima inflow asing. Kondisi itu terutama lantaran valuasi sejumlah saham berkapitalisasi jumbo telah lebih masuk akal dan rupiah mulai menunjukkan stabilisasi.
"Agustus juga memberi sinyal bahwa asing mulai kembali melakukan akumulasi pada beberapa periode, meskipun arusnya belum sepenuhnya konsisten," katanya, Jumat (28/8/2026).
Ia menilai peluang inflow tetap terbuka, dengan syarat kombinasi rupiah yang stabil, pertumbuhan kinerja emiten yang terjaga, dan risk premium Indonesia yang tetap kompetitif. Ketiganya diperlukan agar arus dana asing masuk secara berkelanjutan.
Selain perbankan, Elandry menerangkan jika ekspektasi kebijakan moneter mulai lebih akomodatif, sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti dan consumer discretionary dapat kembali menarik untuk dikoleksi investor.
"Selain itu, consumer staples masih bisa menjadi pilihan defensif saat volatilitas meningkat, sedangkan sektor komoditas tetap menarik secara selektif mengikuti perkembangan harga energi dan geopolitik," katanya, Jumat (28/8/2026).
Sementara itu, Direktur Batavia Prosperindo Asset Management Eri Kusnadi menerangkan pihaknya masih berupaya menjaga eksposur terhadap saham berkapitalisasi besar sekaligus menambah saham bottom up untuk menghasilkan alpha.
"Kami prefer consumer staples dan sektor kesehatan. Harusnya masih berlaku untuk bulan depan," katanya saat dihubungi, Jumat (28/8/2026).
Di sisi lain, RHB Sekuritas menerapkan strategi dengan mengombinasikan saham berkualitas dan sektor yang memperoleh manfaat dari pertumbuhan domestik serta pelemahan rupiah, seperti perbankan, konsumer dan peternakan, telekomunikasi, energi dan perkebunan, hingga properti.
Menurutnya, saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, hingga BBRI memiliki CASA yang tinggi, likuiditas yang kuat, dan kualitas aset yang terjaga. Bank-bank tersebut dinilai lebih tahan dalam menghadapi tekanan biaya dana.
Adapun saham konsumer dan peternakan dinilai berpotensi memperoleh dukungan dari daya beli, program pemerintah, serta normalisasi permintaan pada semester kedua. Sektor telekomunikasi dinilai menawarkan karakter defensif, pendapatan berulang, dan sensitivitas yang rendah terhadap volatilitas eksternal.
Sektor energi dan perkebunan dinilai dapat menjadi lindung nilai terhadap pelemahan rupiah sekaligus memperoleh dukungan harga minyak dan CPO yang kuat. Terakhir, sektor properti dinilai menarik secara selektif, bergantung pada arah suku bunga.
Arah IHSG pada September bertumpu pada tarik-menarik antara aliran dana asing yang mulai kembali dan tekanan teknikal dari rebalancing MSCI serta FTSE. Para analis sepakat outflow akibat rebalancing relatif kecil dibandingkan net buy asing sepanjang Agustus, sehingga koreksi lebih dibaca sebagai peluang akumulasi selektif ketimbang sinyal keluar pasar. Pada akhirnya, stabilitas rupiah, arah kebijakan The Fed dan Bank Indonesia, serta pergerakan yield US Treasury akan menentukan apakah momentum inflow bisa bertahan menopang indeks.


