Saham

Dampak Turun Kelas dari MSCI, Nasib Saham CPIN Kini Bergantung pada MBG dan Harga Ayam

Setelah terdepak dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index, prospek saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) kini bergantung pada keberlanjutan program makan bergizi gratis (MBG) dan pemulihan harga ayam. Meski saham CPIN sudah tergerus 31,93% sepanjang tahun berjalan, analis BRI Danareksa dan Mirae Asset tetap merekomendasikan beli dengan target harga masing-masing Rp5.900 dan Rp3.550.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi prospek saham CPIN yang bergantung pada program makan bergizi gratis dan pemulihan harga ayam usai turun kelas dari MSCI (Foto:CPIN)

Ilustrasi prospek saham CPIN yang bergantung pada program makan bergizi gratis dan pemulihan harga ayam usai turun kelas dari MSCI (Foto:CPIN)

Emitenhub.com - Seusai turun kelas dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index, prospek saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) kini bertumpu pada keberlanjutan program makan bergizi gratis (MBG) dan pergerakan harga ayam.

Hasil MSCI August 2026 Index Review menunjukkan tak ada satu pun saham Indonesia yang masuk ke MSCI Global Standard Indexes. Sebaliknya, dua saham justru terdepak dari indeks tersebut, yakni GOTO dan CPIN.

CPIN selanjutnya bergeser ke MSCI Global Small Cap Indexes. Namun, pada indeks yang sama, sembilan saham Indonesia juga dikeluarkan, yaitu PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).

Hingga Jumat (14/8/2026), CPIN ditutup stagnan di level Rp3.070 per saham. Dalam sepekan terakhir, sahamnya terkoreksi 2,23%. Adapun sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD), CPIN sudah tergerus 31,93%.

Kendati begitu, kalangan analis cenderung tetap merekomendasikan beli saham CPIN, dengan prospek yang bertumpu pada keberlanjutan program MBG.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya, Jumat (15/8/2026), memperkirakan pemangkasan target penerima manfaat program MBG untuk tahun fiskal 2026 menjadi sekitar 63 juta, serta potensi pengurangan tambahan 6 juta pada tahun fiskal 2027, hanya akan berdampak terbatas pada permintaan produk unggas.

Pemerintah diketahui tengah meninjau ulang target penerima manfaat program MBG, seiring upaya Badan Gizi Nasional (BGN) membersihkan sekaligus merekonsiliasi data penerima manfaat.

Target penerima manfaat untuk 2026 telah direvisi turun sementara menjadi sekitar 63 juta, dari target awal 82,9 juta, dengan estimasi anggaran sekitar Rp268 triliun.

Hingga semester I/2026, pemerintah telah menyalurkan dana Rp101,1 triliun dari anggaran negara. Dana tersebut menjangkau 63,13 juta penerima manfaat.

"Pada 2027 (proyeksi), pemangkasan MBG dapat menurunkan permintaan hingga mendorong pasar kembali ke kondisi kelebihan pasokan sebesar 7%, yang menurut kami masih merupakan tingkat yang menguntungkan," kata para analis. Meski begitu, jika impor grand parent stock (GPS) turun menjadi 700.000 ekor, penyusutan pasokan itu akan mengimbangi berkurangnya permintaan akibat pemangkasan MBG. Alhasil, tingkat kelebihan pasokan pada 2027 diperkirakan turun menjadi hanya 2%, sesuai estimasi awal BRI Danareksa.

Sinyal Normalisasi Permintaan dari Kenaikan Harga Ayam

Di sisi lain, harga ayam hidup melonjak 25% secara bulanan (month on month/MoM) sepanjang Agustus 2026 berjalan. Kondisi ini mengindikasikan normalisasi permintaan sekaligus keseimbangan pasokan dan permintaan yang lebih sehat. Harga ayam hidup terkini menyentuh Rp25.100/kg, sementara rata-rata harga mingguan pada pekan kedua Agustus berada di Rp24.500/kg. Secara bulanan, rata-rata harga ayam hidup Agustus 2026 tercatat Rp23.009/kg, naik 25% dibandingkan Juli yang sempat tertekan pelemahan musiman.

"Pemulihan yang berlanjut hingga Agustus 2026 mengindikasikan normalisasi permintaan, sekaligus menjadi bukti tambahan adanya keseimbangan pasokan-permintaan yang lebih sehat," kata mereka.

Ada satu ketidakcocokan nama yang perlu kamu cek. Analis Mirae Asset di kiriman ini diperkenalkan sebagai Andreas Saragih, tapi kutipan penutup ditutup dengan "ujar Daniel". Kemungkinan salah satu nama keliru. Aku pertahankan keduanya persis seperti input di bawah, tapi sebaiknya kamu samakan sesuai riset aslinya.

Enam paragraf, dua di antaranya kutipan.

BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi beli saham CPIN sekaligus rating overweight untuk sektor perunggasan Indonesia. Target harga sahamnya dipatok Rp5.900.

Terpisah, analis Mirae Asset Sekuritas Andreas Saragih turut menyematkan rekomendasi beli saham CPIN dengan target harga Rp3.550.

Mirae mencatat sepanjang tujuh bulan 2026, harga day old chick (DOC) rata-rata Rp5.809 per ekor dan broiler Rp20.124/kg. Keduanya berada di atas rata-rata 2025. Adapun harga jagung Rp6.588/kg, melonjak 38,8% secara tahunan atau 27,7% di atas level 2025.

"Harga output yang kuat menunjukkan permintaan unggas yang tangguh, ditopang belanja MBG Rp101,1 triliun pada semester I/2026 dibandingkan Rp5 triliun setahun lalu," katanya.

Mirae juga mencatat sepanjang bulan lalu CPIN membukukan arus keluar dana asing Rp51 miliar. Meski begitu, posisinya tetap positif sepanjang tujuh bulan 2026 dengan net buy Rp257 miliar. Kepemilikan lokal pun naik 0,3 poin persentase menjadi 12,6% untuk CPIN.

"Kami mempertahankan overweight, didukung berlanjutnya pemulihan harga DOC dan broiler saat MBG kembali berjalan. Di coverage kami, CPIN Trading Buy dengan TP Rp3.550," ujar Daniel.

Iklan