Emitenhub.com - Ketika harga saham terus bergerak menurun, investor kawakan Lo Kheng Hong justru kembali menekan pedal pembelian. Saham PT Intiland Development Tbk (DILD) menjadi salah satu yang terus dikoleksinya, dengan kepemilikan yang kini kian menebal sepanjang Agustus 2026.
Aksi borong saham Lo Kheng Hong di emiten properti tersebut masih berlanjut memasuki bulan ini. Teranyar, pria yang dijuluki Warren Buffett Indonesia itu kembali membeli 1,35 juta lembar saham DILD pada 20 Agustus 2026.
Seusai transaksi tersebut, kepemilikan Lo Kheng Hong di DILD bertambah menjadi 775,43 juta lembar saham atau setara 7,48%.
Sebelumnya, berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dikutip Senin (9/8/2026), Lo Kheng Hong kembali membeli 2,8 juta lembar saham DILD pada 6 Agustus 2026.
Seusai transaksi itu, jumlah saham DILD yang dipegang Lo Kheng Hong bertambah menjadi 774,08 juta lembar atau setara 7,47%.
Dengan tambahan pembelian terbaru, Lo Kheng Hong telah memborong sedikitnya 4,79 juta lembar saham DILD sepanjang periode berjalan Agustus 2026. Tercatat, jumlah saham yang dimilikinya masih sebanyak 770,63 juta lembar pada akhir Juli 2026.
Aksi akumulasi tersebut melanjutkan langkah Lo Kheng Hong yang sebelumnya juga getol memperbesar kepemilikan di saham DILD sepanjang Juli 2026. Transaksi jutaan lembar itu dilakukan di tengah pergerakan harga saham DILD yang terus menurun.
Pernyataan Lo Kheng Hong untuk kembali berbelanja saham seusai menerima guyuran dividen dari sejumlah emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2026 pun bukan isapan jempol belaka.
Investor yang dijuluki Warren Buffett Indonesia itu terpantau gencar memperbesar kepemilikan saham di sejumlah emiten pada semester II/2026. Salah satu yang mencuri perhatian adalah aksi borongnya di saham emiten properti PT Intiland Development Tbk (DILD).
Data menunjukkan Lo Kheng Hong kembali membeli saham DILD dalam sesi perdagangan 29 Juli 2026. Kala itu, ia memborong 1,70 juta lembar saham DILD sehingga kepemilikannya bertambah menjadi 769,74 juta lembar atau setara 7,43%.
Sehari sebelumnya, pada 28 Juli 2026, Lo Kheng Hong juga telah memborong 2,44 juta lembar saham DILD. Kemudian, ia terpantau membeli 365.600 lembar saham DILD pada 27 Juli 2026.
Ketika dimintai konfirmasi, Lo Kheng Hong mengungkapkan alasannya getol memborong saham DILD pada Juli 2026.
Lo Kheng Hong menyampaikan belum menikmati keuntungan dari investasinya di saham tersebut lantaran harga DILD terus mengalami penurunan.
"Saya terus membeli karena harga turun, artinya saya dikasih kesempatan beli lebih murah," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Jumat (24/7/2026).
Sebagai catatan, nama Lo Kheng Hong mulai tercatat sebagai pemegang saham DILD di atas 5% sejak 10 Agustus 2022. Bisnis mencatat Lo Kheng Hong kala itu membeli 453,1 juta lembar saham DILD dengan harga rata-rata Rp147, atau setara sekitar Rp66,6 miliar.
Kinerja DILD dan Target 2026
Di tengah aksi akumulasi saham oleh Lo Kheng Hong, PT Intiland Development Tbk (DILD) telah merilis kinerja keuangan semester I/2026. Hasilnya, terjadi penurunan baik dari sisi top line maupun bottom line.
Tercatat, Intiland Development membukukan pendapatan usaha Rp1,07 triliun per akhir Juni 2026. Realisasi itu lebih rendah dibandingkan Rp1,21 triliun pada akhir periode sama tahun lalu.
Dari sisi laba bersih, DILD membukukan Rp9,19 miliar pada akhir semester I/2026. Pencapaian tersebut turun dari Rp12,56 miliar per akhir Juni 2025.
Sementara itu, Intiland Development menargetkan marketing sales sebesar Rp1,95 triliun sepanjang 2026, naik sekitar 21,1% dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp1,61 triliun.
Direktur Utama Intiland Archied Noto Pradono menyampaikan target marketing sales Rp1,95 triliun itu disusun dengan mempertimbangkan prospek pasar properti yang masih bergerak selektif, meski tetap menyimpan peluang pertumbuhan, terutama pada segmen perumahan dan kawasan industri.
"Tahun ini kami masih cenderung konservatif dengan mengandalkan proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan baru tetap kami siapkan, tetapi pelaksanaannya akan sangat selektif, dengan mempertimbangkan kesiapan produk, momentum pasar, dan daya serap konsumen," ujar Archied dalam keterangan resmi, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, strategi pemasaran tahun ini akan difokuskan pada optimalisasi proyek eksisting, penjualan stok siap jual, penguatan segmen perumahan dan kawasan industri, serta penyusunan program pemasaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Perseroan juga tengah menyiapkan sejumlah proyek baru untuk menopang pertumbuhan penjualan, termasuk pengembangan kawasan industri baru di Jawa Timur serta peluncuran Tower E apartemen SQ Res pada semester II/2026.
Archied menilai peluang pertumbuhan masih terbuka di tengah kondisi pasar yang menantang, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan riil dan daya serap yang relatif kuat.
"Kami melihat peluang pertumbuhan masih terbuka, terutama pada segmen yang memiliki kebutuhan nyata dan daya serap pasar yang lebih kuat. Strategi pemasaran dan pengembangan kami jalankan secara lebih terukur agar dapat mendukung pencapaian target kinerja sekaligus menjaga fundamental perseroan tetap sehat," katanya.
Di sisi lain, Intiland tetap menempatkan strategi penurunan utang (deleveraging) sebagai prioritas utama tahun ini. Langkah tersebut bertujuan menjaga efisiensi operasional, memperkuat struktur keuangan, sekaligus memberikan ruang bagi perseroan untuk menangkap peluang pertumbuhan.
Kontras antara langkah Lo Kheng Hong yang terus mengakumulasi saham DILD dan kinerja perseroan yang tengah tertekan pun menjadi sorotan tersendiri. Bagi investor kawakan itu, penurunan harga justru dibaca sebagai peluang mengoleksi di harga lebih murah, sementara arah kinerja DILD ke depan akan sangat bergantung pada realisasi target marketing sales, eksekusi proyek baru, serta konsistensi strategi penurunan utang yang menjadi prioritas manajemen tahun ini.


