Saham

Protelindo Buka Suara soal 10,86% Saham Bakrie Telecom, Tegaskan Hasil Konversi Obligasi

Ringkasan Cepat

Protelindo menegaskan perolehan 10,86% saham Bakrie Telecom (BTEL) merupakan pelaksanaan konversi obligasi wajib konversi berdasarkan perjanjian perdamaian PKPU 2014, bukan repurchase agreement. Perseroan menyatakan kepemilikan tersebut tidak bersifat material dan tetap fokus pada bisnis utamanya, setelah sebelumnya menyerap 4,84 miliar saham senilai Rp969,35 miliar.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Protelindo menegaskan perolehan saham Bakrie Telecom sebagai hasil konversi obligasi wajib konversi

Ilustrasi Protelindo menegaskan perolehan saham Bakrie Telecom sebagai hasil konversi obligasi wajib konversi (Foto:BTEL)

Emitenhub.com - Protelindo merespons perolehan 10,86% saham Bakrie Telecom (BTEL). Perolehan saham BTEL oleh perseroan secara langsung merupakan pelaksanaan konversi obligasi wajib konversi, bukan pelaksanaan repurchase agreement. Hal itu berdasar pada perjanjian perdamaian 8 Desember 2014 antara BTEL dan para kreditur, termasuk Protelindo.

Perjanjian perdamaian tersebut merupakan tindak lanjut atas putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengenai Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara BTEL pada 10 November 2014. Kepemilikan saham itu tidak bersifat material terhadap kegiatan usaha maupun kondisi keuangan perseroan.

"Dalam menjalankan strategi bisnis, Protelindo tetap fokus pada pengembangan kegiatan usaha utama, dan senantiasa mempertimbangkan setiap peluang bisnis secara selektif dengan memperhatikan kepentingan jangka panjang perseroan, dan para pemangku kepentingan," tegas Wakil Direktur Utama Protelindo Anita Anwar.

Eksekusi Saham BTEL Sebelumnya, Protelindo menggenggang 10,86 persen saham Bakrie Telecom (BTEL). Itu dengan menyerap 4,84 miliar saham produsen telepon seluler merek Esia tersebut pada harga Rp200 per lembar. Dengan skema harga itu, perusahaan penyediaan infrastruktur telekomunikasi tersebut dipaksa merogoh dana Rp969,35 miliar. Transaksi Grup Djarum itu, dilakukan berkenaan dengan penerimaan hasil konversi kepemilikan obligasi wajib konversi oleh anak usaha Bakrie Group tersebut. Menyusul penuntasan transaksi itu, Protelindo menjadi salah satu pemegang saham BTEL. Per akhir Juli 2026, pemegang saham BTEL antara lain Raiffeisen Bank 5,77 persen, Bakrie Global 6,89 persen, Huawei Tech 16,13 persen, Bioful 8,21 persen, Mahinda Agung 13,05 persen, pemegang saham warkat kurang 5 persen yaitu 49,65 persen, dan saham treasuri 0,3 persen. Jumlah saham free float 19,03 miliar eksemplar setara dengan 49,65 persen. Jumlah pemegang saham nasabah pemilik SID 99,2 pihak dari bulan sebelumnya nihil. Pemilik manfaat akhir BTEL Anindya Novyan Bakrie.

Eksekusi Saham BTEL oleh Protelindo

Sebelumnya, Protelindo menggenggam 10,86% saham Bakrie Telecom (BTEL). Kepemilikan itu diraih dengan menyerap 4,84 miliar saham produsen telepon seluler merek Esia tersebut pada harga Rp200 per lembar. Dengan skema harga itu, perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi tersebut merogoh dana Rp969,35 miliar.

Transaksi Grup Djarum itu dilakukan berkenaan dengan penerimaan hasil konversi kepemilikan obligasi wajib konversi oleh anak usaha Bakrie Group tersebut. Menyusul penuntasan transaksi itu, Protelindo resmi menjadi salah satu pemegang saham BTEL.

Per akhir Juli 2026, pemegang saham BTEL antara lain Raiffeisen Bank 5,77%, Bakrie Global 6,89%, Huawei Tech 16,13%, Bioful 8,21%, Mahinda Agung 13,05%, pemegang saham warkat kurang dari 5% sebesar 49,65%, serta saham treasuri 0,3%.

Jumlah saham free float tercatat 19,03 miliar eksemplar atau setara 49,65%. Adapun jumlah pemegang saham nasabah pemilik SID sebanyak 99,2 pihak, dari sebelumnya nihil pada bulan sebelumnya. Pemilik manfaat akhir BTEL adalah Anindya Novyan Bakrie.

Iklan