Ramalan Harga Emas dan Perak Awal 2026: Arah Baru Logam Mulia
Harga emas dan perak memasuki awal 2026 dengan volatilitas tinggi setelah reli besar sepanjang 2025. Tekanan teknikal jangka pendek muncul, namun permintaan struktural dari bank sentral dan sektor industri masih menopang prospek jangka menengah.
Pergerakan harga emas dan perak global menjelang awal 2026
Emitenhub.com - Emas dan perak mengakhiri 2025 dengan tekanan harga sebelum kembali menunjukkan pemulihan pada awal perdagangan 2026. Pergerakan ini menempatkan pelaku pasar pada fase transisi, di mana euforia kinerja kuat tahun sebelumnya mulai berhadapan dengan dinamika baru di awal periode.
Pada penutupan 2025, harga spot emas bergerak di kisaran US$4.320 per ons, sementara perak melemah mendekati US$71 per ons. Meski terkoreksi di penghujung tahun, kedua logam mulia tersebut mencatatkan salah satu kinerja tahunan terbaik dalam lebih dari empat dekade, mencerminkan kuatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.
Memasuki awal 2026, sentimen pasar kembali membaik. Harga emas batangan menguat mendekati US$4.350 per ons, sementara perak naik sekitar 1,5 persen ke level US$72,71 per ons. Kenaikan awal ini mengindikasikan masih adanya minat beli di tengah ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.
Namun demikian, arah pergerakan jangka pendek belum sepenuhnya bebas dari risiko. Meski penurunan suku bunga AS lanjutan dan pelemahan dolar dinilai berpotensi menopang kinerja logam mulia sepanjang 2026, sebagian pelaku pasar mencermati potensi tekanan dari aksi penyeimbangan ulang indeks portofolio global. Faktor teknikal tersebut berpotensi menahan laju kenaikan harga dalam jangka pendek, meskipun tren jangka menengah masih dinilai konstruktif.
Setelah reli tajam sepanjang tahun sebelumnya, porsi emas dalam berbagai indeks dinilai berpotensi melampaui alokasi target. Kondisi ini membuka ruang terjadinya aksi penyesuaian portofolio, di mana dana pelacak pasif dapat melakukan penjualan sebagian kontrak untuk kembali ke bobot yang diinginkan.
Tekanan serupa juga membayangi pasar perak. Analis TD Securities, Daniel Ghali, memperkirakan sekitar 13 persen dari total posisi terbuka di pasar perak Comex berpotensi dilepas dalam dua pekan ke depan. Aksi tersebut dinilai dapat memicu tekanan harga yang signifikan dalam jangka pendek.
Volatilitas tinggi memang mewarnai perdagangan logam mulia menjelang pergantian tahun. Harga emas dan perak sempat anjlok, kemudian pulih, sebelum kembali melemah dalam rentang waktu yang singkat. Fluktuasi ekstrem tersebut bahkan mendorong operator bursa CME Group untuk menaikkan persyaratan margin sebanyak dua kali, sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya risiko pergerakan harga.
Permintaan Emas oleh Bank Sentral dan Sektor Perhiasan
Kinerja kuat emas dan perak ditopang oleh tingginya permintaan terhadap aset safe haven di tengah meningkatnya risiko geopolitik, serta dampak kebijakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS. Selain itu, debasement trade yang dipicu kekhawatiran inflasi dan membengkaknya beban utang di negara-negara maju turut mempercepat reli kedua logam mulia tersebut.
Di pasar emas, kombinasi faktor tersebut mendorong lonjakan aliran dana ke produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas batangan. Pada saat yang sama, bank sentral melanjutkan aksi pembelian dalam skala besar yang telah berlangsung selama beberapa tahun, memperkuat fondasi permintaan jangka menengah.
Sepanjang 2025, harga emas tercatat naik sekitar 63 persen. Pada September 2025, harga emas melampaui puncak yang telah disesuaikan dengan inflasi dari sekitar 45 tahun lalu, periode yang ditandai tekanan terhadap mata uang AS, lonjakan inflasi, dan resesi. Pada fase tersebut, harga emas sempat mencapai US$850 per ons. Dalam siklus kali ini, reli berkelanjutan mendorong harga emas menembus level US$4.000 pada awal Oktober.
John Reade, Kepala Strategi World Gold Council, menilai dinamika pasar emas kali ini berada di luar pola historis. Menurutnya, frekuensi pencapaian rekor tertinggi baru serta kinerja emas yang jauh melampaui ekspektasi banyak pihak menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perjalanan pasar emas modern.
Sasaran Harga Emas dari Berbagai Bank Investasi dan Analis
Broker | 2025 | 2026 |
|---|---|---|
Morgan Stanley | US$3.398 | US$4.400 |
Citi Research | US$3.400 | US$3.250 |
JP Morgan | US$3.468 | US$5.000 |
HSBC | US$3.455 | US$4.600 |
ANZ | US$3.494 | US$4.445 |
Bank of America | US$3.352 | US$4.438 |
Goldman Sachs | US$3.400 | US$4.900 |
Deutsche Bank | US$3.291 | US$4.000 |
Di tengah volatilitas yang meningkat, tekanan jangka pendek pada harga emas dinilai masih berpotensi berlanjut. Sejumlah spekulan diperkirakan terpaksa mengurangi eksposur atau bahkan keluar dari posisi mereka, terutama setelah meningkatnya kebutuhan likuiditas akibat pengetatan aturan perdagangan. Kondisi ini dapat menambah tekanan jual dalam jangka pendek.
Ross Norman, Kepala Eksekutif Metals Daily, menilai faktor teknikal saat ini memainkan peran besar dalam pergerakan harga. Menurutnya, pendorong utama pelemahan terbaru berasal dari keputusan CME Group yang kembali menaikkan persyaratan margin dalam waktu yang relatif singkat. Kenaikan margin tersebut memaksa pelaku pasar menyediakan dana tambahan untuk mempertahankan posisi, sehingga mendorong penyesuaian posisi secara cepat.
Meski tekanan jangka pendek meningkat, pandangan berbagai bank investasi, analis, dan broker terhadap prospek emas cenderung tetap konstruktif. Penyesuaian harga dinilai lebih mencerminkan dinamika teknikal dan arus spekulatif, sementara faktor fundamental jangka menengah seperti kebijakan moneter yang lebih longgar, permintaan bank sentral, serta peran emas sebagai aset lindung nilai m
asih menjadi penopang utama arah harga ke depan.
Platinum dan Paladium
Antusiasme pasar terhadap emas dan perak sepanjang 2025 turut merembet ke logam mulia lainnya, terutama platinum. Setelah lama bergerak stagnan, platinum berhasil keluar dari pola tersebut dan mencatatkan level harga tertinggi baru, menandai perubahan sentimen yang signifikan di pasar logam mulia.
Platinum saat ini berada dalam jalur defisit tahunan untuk tahun ketiga berturut-turut. Kondisi tersebut dipicu oleh gangguan produksi di Afrika Selatan sebagai produsen utama, sementara pasokan global diperkirakan tetap ketat hingga terdapat kejelasan terkait arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat, khususnya potensi penerapan tarif di bawah pemerintahan Trump.
Meski sempat mengalami koreksi, tekanan harga dinilai belum mencerminkan pelemahan sentimen. Pada akhir Desember 2025, harga perak, platinum, dan paladium tercatat mengalami penurunan, namun minat pasar terhadap logam mulia secara umum dinilai masih bertahan kuat.
Menurut Charu Chanana, Head of Market Strategy Saxo Markets Singapura, dinamika pasar logam mulia tahun ini menunjukkan pergeseran karakter yang menarik. Ia menilai kejutan terbesar datang dari perubahan logam safe haven menjadi instrumen perdagangan berbasis momentum, dengan perak menjadi contoh paling menonjol dari fenomena tersebut.


