Ditendang MSCI, 6 Emiten Ini Malah Cuan Gede di Semester I-2026: AMMN Meledak 295%
Enam emiten Bursa Efek Indonesia yang ditendang dari MSCI Global Standard Index pada Mei 2026, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT, justru mencatatkan kinerja beragam yang mayoritas positif pada Semester I-2026. Amman Mineral (AMMN) memimpin dengan lonjakan laba bersih 295%, sementara hanya Chandra Asri (TPIA) yang masih membukukan rugi meski kerugiannya menyusut hampir separuh.
Ilustrasi kinerja enam emiten yang terlempar dari MSCI Global Standard Index dengan mayoritas laba bersih tumbuh positif di Semester I-2026
Emitenhub.com - Penyedia indeks global MSCI Inc. menendang enam emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) dari MSCI Global Standard Index dalam evaluasi berkala periode Mei 2026.
Keenam emiten yang terlempar pada 13 Mei lalu adalah Amman Mineral Intl (AMMN), Barito Renewables Energi (BREN), Chandra Asri Pacific (TPIA), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Sumber Alfaria Trijaya (AMRT).
Kendati terlempar dari indeks utama MSCI, kinerja keenamnya pada semester pertama 2026 tak semiris nasib mereka saat keluar dari indeks bergengsi itu. Sebagian memang masih bergelut dengan laba bersih negatif, tetapi mayoritas justru tumbuh positif.
1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
AMMN sukses mengemas laba bersih US$495,2 juta pada Semester I 2026, atau sekitar Rp8,91 triliun dengan kurs Rp18.000 per dolar AS. Perolehan itu melesat 295% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut menempatkan AMMN sebagai salah satu emiten metalurgi dengan laju paling masif pada paruh pertama 2026. Lonjakannya ditopang kenaikan volume produksi tembaga dan emas dari Fase 7 proyek Batu Hijau, serta tingginya harga jual rata-rata emas global sepanjang paruh pertama tahun ini.
2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
BREN membukukan laba bersih US$61,54 juta atau sekitar Rp1,11 triliun pada paruh pertama 2026. Dibandingkan Semester I 2025, angka itu tumbuh tipis 6,2%. Profitabilitas anak usaha Grup Barito di sektor energi hijau ini bergerak stabil. Kenaikan tipisnya disokong operasional penuh pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Wayang Windu, Salak, dan Darajat, kendati ada sedikit tambahan beban penyusutan dari modernisasi infrastruktur turbin.
3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
TPIA menjadi satu-satunya dari enam emiten terlempar itu yang mencatatkan laba bersih negatif pada Semester I 2026, dengan rugi bersih US$38,4 juta atau sekitar Rp691 miliar. Kendati masih merah, kerugian TPIA menyusut 48,6% dibandingkan Semester I 2025 yang menyentuh US$74,7 juta. Posisinya yang belum berbalik ke zona hijau bersumber dari masih lemahnya margin industri petrokimia regional Asia. Namun, kerugian berhasil dipangkas hampir separuh berkat optimalisasi efisiensi pabrik serta peningkatan kontribusi pendapatan dari lini bisnis baru di sektor infrastruktur pelabuhan dan tangki penyimpanan terintegrasi.
4. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
DSSA mengemas laba bersih US$194,3 juta atau sekitar Rp3,50 triliun pada Semester I 2026. Dibandingkan paruh pertama 2025, perolehan itu turun 12,4%. Penurunan laba lini bisnis utama Grup Sinarmas di sektor pertambangan batu bara dan energi ini dipicu pelandaian harga batu bara acuan global dari periode puncak tahun sebelumnya. Meski begitu, volume perdagangan batu bara perseroan dan penetrasi bisnis teknologi informasi berupa kabel serat optik tetap bertumbuh.
5. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
Laba bersih CUAN melonjak 122,5% pada Semester I 2026 menjadi Rp384,1 miliar dibandingkan enam bulan pertama 2025. Kenaikan lebih dari dua kali lipat pada emiten pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu ini ditopang keberhasilan konsolidasi penuh serta peningkatan kapasitas produksi pasca-akuisisi sejumlah tambang batu bara baru, salah satunya PT Mutuagung Lestari Tbk, ditambah optimalisasi logistik kontraktor internal.
6. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
AMRT menjadi satu-satunya dari enam emiten itu yang tak sepenuhnya terlempar, melainkan hanya turun kelas ke MSCI Global Small Cap Index (Indonesia). Pada Semester I 2026, AMRT mengemas laba bersih Rp1,76 triliun atau tumbuh 9,3% dibandingkan Semester I 2025. Pengelola jaringan ritel Alfamart ini memperlihatkan resiliensi kuat di sektor konsumsi domestik. Laba bersihnya tumbuh stabil mendekati dua digit berkat ekspansi pembukaan gerai baru di luar Pulau Jawa serta efisiensi manajemen rantai pasok digital yang menekan rasio susut barang dagangan.


