Emitenhub.com - PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) menyiapkan dua aksi korporasi sekaligus, yakni penambahan modal melalui rights issue senilai maksimal Rp200 miliar dan pembelian kembali saham atau buyback dengan anggaran hingga Rp10 miliar. Langkah tersebut disiapkan di tengah upaya perseroan memperluas kapasitas produksi dan mengembangkan bisnis manufaktur di luar sektor otomotif.
Direktur PART Tjoeng Rino Saputra mengatakan dana hasil penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) akan digunakan untuk memperkuat modal kerja.
Alokasi dana tersebut mencakup pembelian bahan baku, peningkatan aktivitas produksi, serta pembiayaan kebutuhan operasional dan pengembangan usaha.
Perseroan menargetkan pelaksanaan rights issue pada kuartal I-2027, dengan mempertimbangkan kesiapan internal dan kondisi pasar modal.
"Perseroan menargetkan pelaksanaan aksi korporasi tersebut pada kuartal I 2027, dengan tetap memperhatikan kesiapan Perseroan dan kondisi pasar," ujar Tjoeng dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).
Selain menghimpun tambahan modal, PART berencana melakukan buyback hingga 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Untuk aksi korporasi tersebut, perseroan menyiapkan anggaran maksimal Rp10 miliar.
Pembelian kembali saham akan dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 bulan setelah memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Manajemen menyatakan pelaksanaan buyback akan mempertimbangkan kondisi pasar, ketersediaan dana, dan kebutuhan operasional perusahaan, serta mengikuti ketentuan pasar modal yang berlaku.
Meski keduanya merupakan aksi korporasi terkait permodalan, rights issue dan buyback memiliki mekanisme berbeda. Rights issue memungkinkan perseroan memperoleh tambahan dana melalui penerbitan saham baru, sedangkan buyback menggunakan dana perusahaan untuk membeli kembali saham yang beredar.
Rincian jumlah saham baru, harga pelaksanaan rights issue, serta harga pembelian kembali saham belum disebutkan dalam informasi yang tersedia.
Pendapatan PART Tumbuh 38% Sepanjang 2025
Rencana penguatan permodalan tersebut disampaikan setelah PART mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba sepanjang 2025.
Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp369,59 miliar, meningkat 38,23% dibandingkan Rp267,38 miliar pada 2024.
Pertumbuhan penjualan turut mendorong kenaikan laba kotor sebesar 20,93%, dari Rp58,53 miliar menjadi Rp70,78 miliar.
Sementara itu, laba usaha meningkat 29,93% menjadi Rp40,62 miliar, dibandingkan Rp31,26 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi laba bersih, PART mencatat kenaikan 29,97% menjadi Rp30,21 miliar dari Rp23,24 miliar pada 2024.
Meski seluruh indikator tersebut tumbuh, kenaikan laba kotor lebih rendah dibandingkan pertumbuhan penjualan. Dengan demikian, margin laba kotor PART turun dari sekitar 21,89% pada 2024 menjadi 19,15% pada 2025.
Tjoeng menyatakan pencapaian kinerja tersebut menjadi dasar bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi dengan tetap mempertahankan bisnis komponen otomotif sebagai kegiatan usaha utama.
Menurutnya, perusahaan juga berupaya meningkatkan kemampuan rekayasa teknik dan manufaktur agar dapat melayani kebutuhan industri yang lebih luas.
PART Kembangkan Mesin Pertanian hingga Pengolahan Limbah
Selain memperkuat bisnis komponen otomotif, PART mulai mengembangkan produk mesin dan peralatan untuk sektor non-otomotif.
Pengembangan tersebut memanfaatkan kemampuan perusahaan dalam bidang engineering, stamping, welding, fabrikasi, perakitan, dan pengendalian kualitas atau quality control.
Sejumlah produk yang tengah dikembangkan meliputi mesin pengering food tray, mesin panjat kelapa, gas oil water fryer, serta mesin penabur dolomit.
PART juga mengembangkan mesin digester Somya yang ditujukan untuk kebutuhan pengolahan limbah.
Tjoeng menjelaskan bahwa perluasan produk tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memanfaatkan kapasitas dan keahlian manufaktur yang telah dimiliki.
Bidang yang menjadi sasaran pengembangan mencakup pertanian, pengolahan pangan, pengelolaan limbah, serta kebutuhan peralatan industri lainnya.
Melalui diversifikasi tersebut, PART berupaya memperluas sumber pendapatan tanpa meninggalkan bisnis komponen otomotif yang selama ini menjadi penopang utama perusahaan.
Adapun rencana rights issue sebesar Rp200 miliar disiapkan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan pengembangan kegiatan usaha. Sementara itu, pelaksanaan buyback masih menunggu persetujuan pemegang saham dan akan dilakukan sesuai kondisi keuangan perseroan.
Dengan demikian, realisasi kedua aksi korporasi tersebut masih bergantung pada tahapan persetujuan serta ketentuan pasar modal yang berlaku.


