Saham

FUTR Melebar ke Bisnis Air Minum, Bidik Peluang Rp183 Triliun

Ringkasan Cepat

PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR) memperluas fokus bisnis dari energi terbarukan ke infrastruktur air minum yang kebutuhan pendanaannya mencapai Rp183,7 triliun pada 2026-2030. Manajemen menilai kedua sektor punya karakter ekonomi serupa dan saling menyeimbangkan portofolio. Rencana ini masih menunggu persetujuan pemegang saham lewat RUPS.

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Instalasi pembangkit energi terbarukan PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) terkait ekspansi ke infrastruktur air minum

Instalasi pembangkit energi terbarukan PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) terkait ekspansi ke infrastruktur air minum (Foto:FUTR)

Emitenhub.com - Langkah PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR) merambah infrastruktur air minum menandai pelebaran fokus yang selama ini tertambat di energi terbarukan. Ekspansi ke penyediaan air ini membawa perseroan ke medan bisnis baru di ranah infrastruktur berkelanjutan.

Perubahan arah bukan hal asing bagi FUTR. Perusahaan yang dulu bernama PT Lini Imaji Kreasi Ekosistem Tbk. ini sudah lebih dulu berpindah haluan dari sektor kreatif menuju solusi energi hijau lewat entitas anaknya, dan kini menambah air minum ke dalam portofolionya.

Air dan Energi, Dua Bisnis Satu Keluarga

Direktur Utama FUTR Anggara Suryawan menautkan pilihan itu pada kemiripan karakter ekonomi antara dua sektor. Air dan energi, menurutnya, sama-sama layanan dasar, sama-sama terikat kontrak panjang, dan sama-sama dibutuhkan tanpa henti.

"Kami melihat energi dan air sebagai dua hal yang satu keluarga. Keduanya layanan dasar. Keduanya berkontrak panjang. Keduanya dibutuhkan terus menerus. Arah ini yang ingin kami bangun secara bertahap dan sesuai aturan," kata Anggara melalui keterangan tertulis, Selasa (22/9/2026).

Kedua bidang ini ia sebut sebagai aset berumur panjang yang melayani kebutuhan pokok masyarakat lewat perjanjian jangka panjang dengan pendapatan berulang. Dari situ lahir arus kas yang cenderung lebih stabil ketimbang usaha yang tersandera naik-turunnya harga komoditas.

Daya tarik lain datang dari ukuran pasarnya. Anggara menunjuk besarnya kebutuhan investasi sebagai pendorong FUTR masuk ke bisnis air minum.

Angkanya tidak kecil. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 6 Tahun 2026 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum Tahun 2026-2030 mematok kebutuhan pendanaan sektor air minum pada 2026-2030 sebesar Rp183,7 triliun.

Beban itu tak mungkin ditanggung negara sendiri. APBN diproyeksikan hanya menutup 14,2% dari total kebutuhan, sementara sisanya diharapkan mengalir dari BUMN, BUMD, skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta jalur pembiayaan lain.

Ruang itu makin lebar bila menengok target pemerintah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 mematok akses air minum perpipaan tembus 40,20% pada akhir 2029, naik dari 30,15% pada 2025.

Di sisi lain, kabar ekspansi ini belum terlihat mengangkat harga sahamnya. Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham FUTR pada pukul 10.41 WIB Rabu (23/9/2026) berada di Rp252 per lembar, turun dari harga pembukaan Rp264. Sejak awal tahun, harganya sudah anjlok 403 poin atau 61,53%, meski dalam enam bulan terakhir masih mencatat kenaikan 22 poin atau 9,57%.


Cakrawala kebijakannya bahkan lebih jauh. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 menargetkan seluruh rumah tangga perkotaan menikmati akses air siap minum melalui jaringan perpipaan pada 2045.

Bagi Anggara, peta kebijakan seperti itu membuka pintu bagi swasta untuk ikut menggarap infrastruktur air minum nasional. Ia menilai perpaduan energi terbarukan dan air minum justru menyeimbangkan rencana portofolio perseroan.

Alasannya terletak pada beda tempo. Proyek energi terbarukan berskala besar biasanya menuntut masa pengembangan panjang sebelum benar-benar beroperasi komersial, sedangkan proyek infrastruktur air yang sudah berjalan bisa menyumbang pendapatan lebih cepat.

"Kombinasi antara sektor energi terbarukan dan infrastruktur air minum dinilai memberikan keseimbangan pada rencana portofolio Perseroan," ujar Anggara.

Perpaduan itulah yang diharapkan menjadi pijakan portofolio yang lebih seimbang sekaligus berkelanjutan.

Rencana ini belum final. FUTR masih harus mengantongi restu pemegang saham lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebelum memperluas bidang usahanya, sesuai ketentuan yang berlaku.

Menyusul persetujuan itu nantinya, perseroan akan merapikan perizinan berusaha agar sejalan dengan bidang kegiatan yang disepakati.

Anggara menutup dengan jaminan keterbukaan. Setiap aksi korporasi maupun informasi dan fakta material akan disampaikan ke publik melalui kanal resmi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Jejak FUTR Sejak Lahir pada Juli 2021

Perjalanan Futura Energi berawal pada Juli 2021, lalu menapaki tonggak besar saat resmi menjadi perusahaan terbuka lewat pencatatan saham di BEI pada Februari 2023.

Titik balik kepemilikan datang pada Oktober 2024, ketika PT Hexa Prima Nusantara (HPN) mencaplok 51,22% saham dan menjadi pengendali. Empat bulan berselang, tepatnya Februari 2025, nama Lini Imaji Kreasi Ekosistem ditanggalkan dan berganti menjadi PT Futura Energi Global Tbk. demi mempertegas wajah barunya di sektor energi hijau.

Perpindahan haluan itu berbuah cepat. Per akhir September 2025, laba bersih FUTR melesat 444% secara tahunan berkat diversifikasi ke energi bersih.

Transformasi menuju energi baru terbarukan (EBT) kini digenjot lewat sederet rencana pembangkit dan bisnis karbon. Sampai saat ini, perseroan sudah memegang pipeline proyek EBT dengan kapasitas indikatif 350 megawatt (MW).

Anggara menggambarkan perusahaan sudah bergeser jauh dari akar bisnis kreatif dan konsultasinya menuju fokus penuh pada energi hijau. Mesin pertumbuhan baru itu, kata dia, digerakkan melalui anak-anak usaha yang menggarap panas bumi (geothermal), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), minihidro, perdagangan kredit karbon, sampai layanan efisiensi energi.

"Bisnis baru ini akan dilakukan melalui anak usaha, termasuk layanan efisiensi energi," ujar Anggara.

Momentumnya ditopang kebijakan sektor listrik. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 membuka ruang lebih lapang bagi pengembangan pembangkit terbarukan.

Salah satu andalan yang tengah digarap adalah PLTS berkapasitas 130 MW di Bali. Untuk proyek ini, FUTR meneken nota kesepahaman bersama Zhejiang Energy PV-Tech Co., Ltd. dan PT Hypec International.

Sokongan juga datang dari lini pengendali. PT Aurora Dhana Nusantara, pemegang saham pengendali FUTR, sudah menggenggam aset panas bumi lewat anak usahanya, PT Sejahtera Alam Energy (SAE). Menurut Anggara, SAE telah mengantongi perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) berkapasitas 220 MW dengan nilai investasi US$80 juta.

Ambisinya tidak berhenti di proyek yang sudah jalan. FUTR turut menjajaki sejumlah tender energi terbarukan lain: panas bumi sekitar 100 MW, PLTS 100 MW, dan minihidro sekitar 150 MW. Ketiganya menambah pipeline penjajakan hingga total sekitar 350 MW.

Bagi manajemen, langkah diversifikasi ke energi hijau ini disiapkan sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang, sekaligus memperkuat pijakan FUTR saat kebutuhan investasi proyek energi bersih di Indonesia terus membesar.

Ke depan, ujian FUTR terletak pada kemampuannya mengubah pipeline 350 MW dan rencana masuk ke air minum menjadi proyek yang benar-benar beroperasi dan menyumbang pendapatan, bukan sekadar daftar rencana.

Iklan