Emitenhub.com - PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) membuka jalan untuk ikut dalam program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) yang digagas pemerintah. Pengelola kawasan industri nikel itu sudah menjajaki peran lewat BPI Danantara. Langkah ini menyambungkan ekspansi hilirisasi nikel dengan agenda energi bersih nasional.
CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengungkap pembicaraan itu di sela Groundbreaking Ekosistem Hilirisasi Nikel dan Ekspor Perdana Baterai EV di IWIP, Kamis (8/10/2026). Ia menyebut IWIP mengantongi portofolio PLTS di sejumlah daerah dengan kapasitas sekitar 2 gigawatt (GW). Rencana keterlibatan itu akan dibahas lebih lanjut bersama Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi Bahlil Lahadalia.
"Mereka juga sudah bicara dengan Danantara untuk berpartisipasi aktif untuk program 100 gigawatt solar panel," ujar Rosan.
Tsingshan Group, induk usaha IWIP, lebih dulu membangun PLTS berpadu battery energy storage system (BESS) di Pulau Gili Labak dan Pulau Pagerungan Kecil, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Rosan menyebut kontribusi Tsingshan di Sumenep menembus 2 GW. Satu fasilitas sudah beroperasi, sedangkan satu lagi menyentuh progres 75% dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
Perusahaan menghibahkan kedua PLTS beserta BESS-nya kepada masyarakat Sumenep, dengan BPI Danantara sebagai inisiator. Lewat Yayasan Torang IWIP Berbakti, Tsingshan meneken kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sumenep dan PT PLN (Persero) pada 13 Maret 2026.
Acara di IWIP menjadi panggung bagi tujuh proyek yang memulai peletakan batu pertama. Salah satunya pabrik photovoltaic glass atau komponen panel surya milik PT Flat Solar Energy Indonesia. Enam sisanya adalah PT Guang Ching Nickel Cobalt, PT Inno Prima Material, PT Tinci Materials Indonesia, PT Weda Bay Aluminium, PT Bintang Karya Aluminium, dan PT Foton Guangqing Motor Indonesia. Nilai investasi ketujuh proyek itu sekitar US$6,8 miliar.
PT REPT Batero Indonesia meresmikan ekspor perdana komponen baterai kendaraan listrik pada acara yang sama. Tiga pabrik lain memulai operasi komersial perdananya, yakni pabrik mixed hydroxide precipitate (MHP) PT Blue Sparking Energy, smelter aluminium elektrolitik PT Pioneer Aluminium Industries, dan pabrik komponen alat berat berbasis EV PT XCMG Indonesia Manufacturing. Nilai gabungan tiga proyek komersial dan satu ekspor perdana itu mencapai US$3,4 miliar atau sekitar Rp60 triliun.
Program 100 GWp dan Hitungan Investasinya
Program PLTS 100 GWp berangkat dari peluncuran resmi oleh Presiden Prabowo Subianto. Tahap awalnya mencakup 14 PLTS berkapasitas total 5,3 GWp di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Prabowo menandai peluncuran dan peletakan batu pertamanya di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.
"Saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi meluncurkan program PLTS 100 GWp," kata Prabowo.
Kepala negara mematok target rampung dalam tiga tahun. Ia bahkan menantang tim energi menuntaskannya dalam dua tahun. Pengembangannya memakai tiga konsep, yaitu PLTS Ground Mounted di lahan terbuka, PLTS Atap di bangunan, dan PLTS Terapung di waduk atau badan air.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan kebutuhan investasi program ini mencapai US$73 miliar atau sekitar Rp1.140 triliun. Ia menghitung PLTS yang terintegrasi BESS mampu memangkas biaya operasional hingga Rp73,9 triliun per tahun dibanding pembangkit diesel. Program ini juga diproyeksikan membuka 5,52 juta lapangan kerja serta menekan emisi 140 juta ton CO2 per tahun, setara nilai ekonomi karbon Rp6,31 triliun.
"Untuk PLTS-nya saja yang sekarang kita resmikan, itu nilainya kurang lebih sekitar 5 sampai 6 sen. Namun, itu belum termasuk baterai," kata Bahlil.
Pembahasan peran IWIP dalam program 100 GWp masih menanti kelanjutan bersama Kementerian ESDM.


