Nasional

Prabowo Luncurkan 11 Proyek IWIP Rp180 Triliun, Pengamat Ingatkan Risiko Hilirisasi RI

Ringkasan Cepat

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 11 proyek hilirisasi senilai Rp180 triliun di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), termasuk empat proyek yang telah memasuki tahap komersial dan tujuh proyek baru. Ekspansi tersebut mencakup industri baterai kendaraan listrik, aluminium, truk listrik, hingga komponen panel surya. Namun, pengamat mengingatkan risiko Indonesia hanya menjadi lokasi produksi apabila investasi tidak diikuti penguasaan teknologi, keterlibatan industri lokal, dan peningkatan

• 7 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah menjadi lokasi pengembangan 11 proyek hilirisasi senilai Rp180 triliun.

Kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah menjadi lokasi pengembangan 11 proyek hilirisasi senilai Rp180 triliun.

Emitenhub.com - Ekspansi industri hilirisasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, memasuki tahap pengembangan manufaktur bernilai tambah tinggi. Sebanyak 11 proyek dengan total investasi Rp180 triliun diluncurkan untuk memperluas pengolahan mineral ke industri baterai kendaraan listrik, aluminium, dan komponen energi terbarukan.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan produk mineral olahan. Namun, peningkatan nilai tambah dalam negeri masih bergantung pada penguasaan teknologi, keterlibatan pemasok lokal, serta kemampuan industri domestik masuk ke rantai produksi.

Presiden Prabowo Subianto meresmikan empat proyek yang telah memasuki tahap komersial sekaligus memulai pembangunan tujuh fasilitas industri baru di kawasan IWIP, Kamis (8/10/2026). Dalam kesempatan yang sama, pemerintah juga melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan tersebut.

Empat proyek yang mulai beroperasi secara komersial meliputi PT Blue Sparking Energy yang bergerak dalam produksi material baterai kendaraan listrik dan PT REPT Battero Energy Indonesia sebagai produsen baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Dua perusahaan lainnya adalah PT Pioneer Aluminium Industries yang memproduksi aluminium elektrolitik serta PT XCMG Indonesia Manufacturing yang mengembangkan alat berat berbasis listrik.

Tujuh Proyek Baru Perluas Industri Hilirisasi di Weda Bay

Selain meresmikan fasilitas yang telah beroperasi, pemerintah memulai pembangunan tujuh proyek industri untuk memperkuat rantai pasok manufaktur di kawasan IWIP.

PT Guang Ching Nickel Cobalt akan mengembangkan fasilitas produksi material baterai berbasis nikel. Sementara itu, PT Inno Prima Material berfokus pada separator baterai dan PT Tinci Materials Indonesia menggarap produksi elektrolit baterai.

Pengembangan industri aluminium dilakukan melalui PT Weda Bay Aluminium dan PT Bintang Karya Aluminium. Kedua perusahaan tersebut menyiapkan pembangunan fasilitas peleburan aluminium sebagai bagian dari perluasan kapasitas industri di kawasan Weda Bay.

Pada sektor kendaraan listrik, PT Foton Guangqing Motor Indonesia akan mengembangkan fasilitas manufaktur truk listrik atau electric dump truck.

Adapun PT Flatsolar Energy Indonesia bergerak dalam produksi kaca fotovoltaik yang digunakan sebagai komponen panel surya. Kehadiran fasilitas tersebut memperluas kegiatan manufaktur IWIP ke sektor pendukung energi terbarukan.

Keseluruhan proyek mencakup berbagai tahapan industri, mulai dari pengolahan mineral hingga produksi komponen dan barang manufaktur. Pengembangan tersebut ditujukan untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya mineral yang diproses di Indonesia.

Prabowo menilai ekspor perdana baterai kendaraan listrik menjadi salah satu hasil dari kebijakan hilirisasi yang telah dijalankan pemerintah.

"Hari ini, ekspor perdana baterai kendaraan listrik adalah langkah penting. Ini adalah bukti nyata bahwa strategi hilirisasi kita benar dan akan kita teruskan dengan sebaik-baiknya," ujar Prabowo dalam sambutannya.

Pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga kepastian berusaha bagi investor yang terlibat dalam pengembangan industri nasional.

Menurut Prabowo, keberlanjutan investasi perlu didukung hubungan yang baik antara pemerintah dan mitra usaha. Ia menempatkan pemenuhan komitmen terhadap investor sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan terhadap Indonesia.

Peluncuran 11 proyek tersebut memperluas kegiatan industri hilirisasi di IWIP. Sementara itu, peningkatan kontribusinya terhadap perekonomian domestik akan bergantung pada pelaksanaan proyek baru serta keterlibatan industri nasional dalam rantai pasok yang terbentuk.

Pengembangan 11 proyek tersebut menjadi bagian dari strategi Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) untuk membangun ekosistem industri yang saling terhubung. Integrasi kegiatan usaha mencakup pengolahan bahan baku hingga manufaktur kendaraan listrik dan produk pendukung teknologi energi bersih.

Presiden Direktur IWIP Kevin He mengatakan kawasan Weda Bay kini tidak lagi hanya berfokus pada pengolahan dan pemurnian nikel. Aktivitas industri telah berkembang ke produksi material baterai, aluminium, kendaraan listrik, serta alat berat berbasis listrik.

"IWIP telah memasuki fase baru. Dari pengolahan dan pemurnian nikel, kini semakin banyak mata rantai industri hadir dan terhubung di dalam kawasan," ujar Kevin dalam siaran pers, Jumat (9/10/2026).

Menurut Kevin, pengembangan hilirisasi harus diikuti peningkatan kemampuan manufaktur dalam negeri. Keterlibatan teknologi, investasi, dan tenaga kerja menjadi bagian penting untuk memperbesar nilai tambah industri di Indonesia.

Saat ini, kawasan industri Weda Bay telah mempekerjakan lebih dari 100.000 karyawan. Sementara itu, pengembangan 11 proyek baru diproyeksikan membuka hingga 13.950 lapangan kerja.

Kevin berharap perluasan kegiatan industri tersebut dapat meningkatkan kapasitas produksi dan investasi sekaligus memperbesar penyerapan tenaga kerja. Pengembangan manufaktur juga diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Namun, keberlanjutan ekspansi masih memerlukan dukungan pemerintah dan koordinasi dengan pelaku usaha serta pemangku kepentingan lainnya.

Kevin menekankan pentingnya kepastian pasokan bahan baku, kesiapan infrastruktur, dan dukungan regulasi untuk menjaga kelangsungan operasional industri. Kolaborasi dengan tenaga kerja dan dunia usaha juga diperlukan dalam pengembangan kawasan.

Dengan bertambahnya fasilitas manufaktur, IWIP menargetkan penguatan keterhubungan antarlini produksi di dalam kawasan. Pelaksanaan proyek serta kesiapan infrastruktur dan pasokan bahan baku menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pengembangan tersebut.

Pasokan Mineral dan Keterlibatan Industri Lokal Jadi Tantangan

Keberlanjutan pengembangan industri di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) bergantung pada kepastian pasokan bahan baku dan kesiapan infrastruktur pendukung. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian seiring bertambahnya proyek manufaktur yang membutuhkan pasokan mineral secara berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bhaktiar menilai pemerintah perlu memastikan ketersediaan nikel, bauksit, silika, serta bahan kimia industri untuk mendukung operasional fasilitas baru.

Selain bahan baku, pasokan listrik dan infrastruktur logistik juga harus memadai. Kepastian perizinan menjadi faktor lain yang diperlukan agar pembangunan dan kegiatan produksi tidak mengalami hambatan.

Bisman menjelaskan bahwa pergeseran hilirisasi dari penjualan mineral dan produk setengah jadi menuju manufaktur dapat meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri.

"Nilai tambahnya akan sangat besar karena ini bergesernya hilirisasi, yg sebelumnya penjualan mineral dan produk antara [setengah jadi] menuju material baterai, aluminium, kendaraan listrik, dan produk lainnya," ujar Bisman kepada Bisnis, Minggu (11/10/2026).

Pengembangan industri tersebut juga dinilai membuka peluang perluasan basis manufaktur nasional. Bertambahnya kegiatan produksi dapat meningkatkan kebutuhan tenaga kerja serta barang dan jasa dari sektor pendukung.

Namun, Bisman mengingatkan bahwa nilai investasi yang besar belum tentu menghasilkan manfaat ekonomi yang merata apabila keterlibatan perusahaan domestik masih terbatas.

Menurutnya, industri lokal perlu memperoleh kesempatan menjadi pemasok komponen dan kebutuhan produksi bagi perusahaan yang beroperasi di kawasan IWIP.

Keterlibatan pemasok nasional menjadi penting agar manfaat hilirisasi tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan yang mengelola fasilitas industri. Aktivitas manufaktur juga diharapkan mampu memperkuat rantai pasok dan membuka peluang usaha bagi perusahaan dalam negeri.

Dengan demikian, keberhasilan ekspansi IWIP tidak hanya bergantung pada penyelesaian 11 proyek senilai Rp180 triliun. Kepastian pasokan bahan baku dan kemampuan industri lokal masuk ke rantai produksi menjadi faktor penting dalam menentukan besarnya nilai tambah yang dapat dinikmati perekonomian Indonesia.

Pengembangan tujuh proyek industri baru di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dinilai membuka peluang untuk memperkuat hilirisasi nasional. Namun, investasi tersebut perlu diikuti peningkatan penguasaan teknologi dan keterlibatan industri dalam negeri.

Pengamat kebijakan energi sekaligus Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi tempat pengolahan bahan mentah. Menurutnya, pengembangan manufaktur harus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi industri nasional.

“Jangan sampai Indonesia hanya menjadi lokasi pengolahan bahan mentah, sementara teknologi, pasar, dan keuntungan terbesar justru dikuasai pihak lain,” ujar Sofyano.

Ia menjelaskan bahwa setiap sektor manufaktur memiliki kebutuhan bahan baku yang berbeda. Karena itu, strategi pengadaan harus mempertimbangkan karakteristik produk dan proses produksi masing-masing industri.

Industri material baterai, misalnya, membutuhkan nikel, kobalt, litium, grafit, serta bahan kimia pendukung sesuai jenis produk yang dikembangkan.

Sementara itu, produksi aluminium memerlukan alumina dan pasokan listrik dalam jumlah besar. Industri truk listrik membutuhkan baterai, baja, aluminium, serta berbagai komponen elektronik.

Kebutuhan berbeda juga terdapat pada manufaktur kaca fotovoltaik yang menggunakan pasir silika berkualitas tinggi, soda abu, dan energi sebagai bahan serta penunjang produksi.

Sofyano menilai kepastian pasokan saja belum cukup untuk menjamin daya saing industri. Harga bahan baku yang kompetitif, kesiapan infrastruktur, dan kepatuhan terhadap standar lingkungan juga harus menjadi perhatian.

Persyaratan tersebut diperlukan agar fasilitas manufaktur dapat beroperasi secara berkelanjutan dan menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar.

Di luar kesiapan operasional, Sofyano menekankan pentingnya mengukur manfaat ekonomi dari investasi hilirisasi. Nilai investasi dan ekspor tidak dapat menjadi satu-satunya indikator keberhasilan pengembangan industri.

Menurutnya, pemerintah juga perlu memperhatikan tingkat kandungan lokal, penyerapan tenaga kerja, dan transfer teknologi kepada pelaku industri domestik.

Keterlibatan perusahaan nasional dalam rantai pasok menjadi salah satu ukuran penting. Tanpa penguatan kapasitas tersebut, peningkatan aktivitas manufaktur belum tentu diikuti penguasaan teknologi dan penciptaan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

Dengan total investasi Rp180 triliun pada 11 proyek di IWIP, tantangan berikutnya terletak pada realisasi pembangunan dan keberlanjutan operasional. Kepastian bahan baku, ketersediaan energi, serta pertumbuhan industri pendukung menjadi faktor yang perlu dipenuhi.

Keberhasilan hilirisasi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pengolahan mineral maupun besarnya nilai ekspor. Kemampuan Indonesia membangun industri manufaktur, meningkatkan penguasaan teknologi, dan memperluas manfaat ekonomi bagi pelaku usaha serta tenaga kerja domestik menjadi ukuran yang lebih menyeluruh.

Iklan