Emitenhub.com - Harga emas dunia diproyeksikan melanjutkan tren kenaikan pada pekan depan dengan target 4.594-4.655, meski pelaku pasar perlu mewaspadai potensi koreksi sebelum harga kembali mendaki.
Dupoin Futures memproyeksikan pergerakan emas masih berada di jalur bullish dengan target resistance pada kisaran 4.594 hingga 4.655. Secara teknikal, struktur penguatannya masih terjaga setelah harga berhasil menembus resistance sebelumnya, lalu membentuk base area sebagai pijakan baru.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai struktur tersebut menandakan buyer masih memegang kendali atas arah pergerakan harga.
"Momentum bullish masih cukup kuat untuk membawa menguji resistance berikutnya," ujarnya dalam riset yang dikutip Minggu (23/8/2026).
Breakout dari resistance sebelumnya menjadi salah satu fondasi utama skenario kenaikan itu. Setelah keluar dari area yang sebelumnya membatasi pergerakan, emas memasuki fase konsolidasi dan membentuk base area, yang membuka ruang bagi harga untuk melanjutkan penguatan ke level lebih tinggi.
Area 4.594-4.655 pun menjadi zona yang bakal menyita perhatian pasar pekan depan. Jika buyer mampu mempertahankan dominasinya, pergerakan menuju area tersebut berpotensi berlanjut. Meski begitu, pasar juga akan mencermati kemungkinan koreksi akibat aksi ambil untung saat harga mendekati resistance.
Karena itu, Dupoin Futures menilai strategi mengejar harga di tengah kenaikan justru menyimpan risiko lebih besar. Pelaku pasar dapat menunggu koreksi menuju area 4.417, yang menjadi support sekaligus zona potensial untuk mencari peluang entry yang lebih optimal.
"Strategi entry yang lebih konservatif adalah menunggu koreksi menuju support 4.417 dan melihat apakah muncul konfirmasi buyer di area tersebut," kata Geraldo.
Koreksi menuju area itu, menurut analisis Dupoin Futures, tak serta-merta mengakhiri tren bullish. Retracement setelah breakout justru bisa menjadi bagian dari pengujian ulang level yang sebelumnya berperan sebagai resistance. Jika support 4.417 mampu bertahan dan harga membentuk sinyal pembalikan atau swing low, peluang emas untuk kembali mendaki tetap terbuka.
Dari sisi fundamental, prospek emas turut ditopang pelemahan dolar AS. Ketika mata uang Negeri Paman Sam tertekan, emas menjadi lebih menarik bagi investor yang memakai mata uang lain, sehingga berpotensi menjaga aliran dana menuju logam mulia.
Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat turut menebalkan daya tarik emas sebagai aset defensif. Ketidakpastian itu mendorong kebutuhan investor untuk mendiversifikasi portofolio, sementara emas kembali dilirik sebagai salah satu instrumen safe haven.
Namun, jalan emas menuju level lebih tinggi bukan tanpa hambatan. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik berpotensi menyulut kembali tekanan inflasi. Bila inflasi menanjak, ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga bisa menjadi lebih sempit.
Dinamika ini penting lantaran ekspektasi kebijakan suku bunga masih menjadi salah satu penggerak utama harga emas. Kebijakan moneter yang lebih longgar cenderung menguntungkan emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset tanpa imbal hasil. Sebaliknya, inflasi tinggi dan suku bunga ketat yang bertahan lebih lama dapat menjadi batu sandungan bagi penguatan harga.
Kendati begitu, Dupoin Futures melihat arus dana menuju emas masih cukup deras. Pelemahan dolar AS, kekhawatiran fiskal Amerika Serikat, dan ketidakpastian geopolitik masih membentuk fondasi yang menopang prospek bullish emas.
Dengan demikian, pekan depan emas berpeluang kembali membidik area 4.594-4.655. Namun, sebelum melanjutkan pendakian, pasar juga membuka kemungkinan harga lebih dulu menguji support 4.417. Selama pijakan itu mampu bertahan, peluang emas untuk kembali mengilap di jalur kenaikan tetap terbuka.
Harga Buyback Emas Antam Hari Ini
Harga buyback emas Antam kembali menguat dan memperlebar kenaikannya sepanjang 2026. Hingga Minggu (23/8/2026), harga pembelian kembali emas tersebut telah naik Rp240.000 dibandingkan posisi awal tahun.
Berdasarkan data harga yang berlaku pada periode berjalan, harga buyback emas Antam pada Minggu (23/8/2026) berada di level Rp2.600.000 per gram.
Posisi itu lebih tinggi Rp240.000 atau sekitar 10,17% dibandingkan harga buyback emas Antam pada awal 2026 yang berada di level Rp2.360.000 per gram.
Dengan demikian, harga buyback emas Antam masih membukukan kenaikan dua digit secara persentase sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD). Penguatan itu juga tecermin dari kenaikan Rp95.000 hanya dalam beberapa hari dibandingkan posisi Rp2.505.000 per gram pada Rabu (19/8/2026).
Kendati kembali menguat, harga buyback emas Antam masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) sebesar Rp2.989.000 per gram yang sempat dicapai pada akhir Januari 2026.
Artinya, harga buyback emas Antam pada Minggu (23/8/2026) masih lebih rendah Rp389.000 atau sekitar 13,01% dibandingkan rekor tertinggi tersebut.
Namun, jarak harga terhadap posisi awal tahun kini kian lebar. Kenaikan Rp240.000 per gram sejak awal 2026 mencerminkan emas masih memberikan tambahan nilai bagi pemilik yang telah membeli sejak awal tahun, meski pergerakannya sepanjang tahun diwarnai fluktuasi dan koreksi dari level tertinggi.
Harga buyback emas Antam merupakan harga acuan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ketika membeli kembali emas dari masyarakat. Dengan demikian, harga ini menjadi salah satu indikator yang dicermati investor untuk menghitung potensi keuntungan dari investasi emas yang telah dimiliki.
Pergerakan harga buyback emas Antam turut dipengaruhi dinamika harga emas dunia di pasar spot. Fluktuasi harga emas global, perubahan nilai tukar, serta sentimen pasar keuangan dapat memengaruhi pergerakan harga emas di dalam negeri.
Buyback emas merupakan transaksi ketika pemilik menjual kembali emasnya, baik berupa logam mulia maupun emas batangan. Harga buyback umumnya berbeda dengan harga jual emas pada waktu yang sama karena terdapat selisih antara harga penjualan dan harga pembelian kembali.
Kendati begitu, transaksi buyback tetap berpotensi memberikan keuntungan bagi investor apabila harga emas menanjak dibandingkan harga saat pembelian. Kian besar selisih antara harga beli dan harga buyback, kian besar pula potensi keuntungan yang diraih pemilik emas.


