Emitenhub.com - Saham PT Amman Mineral International Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat sepanjang perdagangan kemarin, Selasa (8/9/2026).
Kinerja saham dua emiten tambang itu belakangan terdongkrak harga tembaga yang kembali menyentuh rekor atau all-time high (ATH) tahun ini.
Mengutip data bursa, saham kongsi Grup Salim dan Keluarga Panigoro (AMMN) menguat 5,9% ke level Rp4.670 per saham pada perdagangan kemarin.
Adapun saham AMMN telah menguat 41,95% selama tiga bulan terakhir, setelah sempat terpuruk di level Rp3.060 per saham akibat sentimen MSCI sejak awal tahun ini.
Tiga broker, yakni UBS Sekuritas Indonesia (AK), Mandiri Sekuritas (CC), dan CLSA Sekuritas Indonesia (KZ), mengumpulkan saham AMMN dalam jumlah besar kemarin.
AK memborong 203,9 ribu lot saham AMMN dengan nilai bersih Rp92,9 miliar di harga rata-rata Rp4.561 per saham.
Sementara itu, CC membeli 102,1 ribu lot saham AMMN dengan valuasi Rp46,6 miliar di harga rata-rata Rp4.581 per saham. Selanjutnya, KZ membeli 25 ribu lot saham dengan valuasi Rp11,6 miliar di harga perolehan Rp4.655 per saham.
Selain itu, saham kongsi Grup Saratoga dan Garibaldi 'Boy' Thohir (MDKA) turut menguat mengikuti sentimen ATH harga tembaga dunia.
Saham MDKA melejit 8,33% ke level Rp3.120 per saham pada perdagangan kemarin.
Saham MDKA telah menguat 21,4% selama tiga bulan terakhir, setelah sempat menyentuh level Rp2.420 per saham di tengah sentimen rebalancing indeks global.
Tiga broker asing kompak memborong saham induk PT Merdeka Gold Tbk (EMAS) dan PT Merdeka Battery (MBMA) tersebut.
KZ memborong 67,3 ribu lot saham MDKA dengan valuasi Rp20,7 miliar di harga rata-rata Rp3.081 per saham, sedangkan CGS International Sekuritas Indonesia (YU) memborong 61,2 ribu lot saham dengan valuasi Rp18,3 miliar di harga Rp3.008 per saham.
Sementara itu, AK membeli 44,8 ribu lot saham MDKA dengan valuasi Rp14 miliar, yang mengindikasikan rata-rata harga perolehan Rp3.008 per saham.
Sebelumnya, AMMN dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk melakukan pencatatan saham sekunder (dual listing) di bursa saham Hong Kong.
Informasi ini diungkapkan sejumlah sumber yang mengetahui rencana tersebut, mengutip Bloomberg News.
AMMN disebut-sebut tengah berupaya merekrut sejumlah bank untuk menggarap aksi korporasi tersebut.
Jika rencana ini terealisasi, Amman Mineral akan mengikuti jejak emiten tambang sejenis, PT Merdeka Gold Resources, yang pemegang sahamnya telah sukses melepas sekitar US$304 juta sertifikat penitipan efek (depositary receipts) Hong Kong pada Juni lalu dengan harga penawaran maksimal.
Di sisi lain, kinerja keuangan Amman Mineral menunjukkan tren positif dengan mencatatkan laba bersih kuartal pertama sekitar US$160 juta, membalikkan posisi rugi senilai US$139 juta pada periode sama tahun lalu. Aset inti perusahaan ini meliputi tambang Batu Hijau di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, serta proyek Elang.
Reli Harga Tembaga
Tembaga telah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pekan ini di atas US$14.700 per ton, mencerminkan ketatnya pasokan jangka pendek serta ekspektasi bahwa AS akan mengenakan tarif terhadap impor logam olahan.
Reli harga tersebut didukung ketidakseimbangan struktural jangka panjang antara pasokan tambang yang terbatas dan proyeksi permintaan yang melonjak, didorong oleh pusat data, energi terbarukan, dan jaringan listrik.
Mengutip Bloomberg News, analis di Societe Generale SA menilai kebijakan perdagangan AS dan arbitrase yang dipicu tarif akan terus memengaruhi harga tembaga, sementara arus pengiriman ke AS memperketat ketersediaan fisik tembaga di wilayah lain.
Meski harga yang tinggi dapat mendorong pengguna tembaga mencari alternatif yang lebih murah, tekanan dari sisi permintaan sejauh ini hanya memberikan sedikit dampak dalam menahan kenaikan harga tembaga.
Di luar ketidakpastian terkait tarif, prospek jangka panjang tembaga tetap ditopang permintaan baru yang muncul dari transisi menuju energi yang lebih bersih.
Logam merah ini merupakan komponen penting untuk panel surya, turbin angin, kendaraan listrik, dan jaringan listrik. Tembaga juga sangat penting bagi pusat data serta infrastruktur kelistrikan yang dibutuhkan untuk menjaga fasilitas-fasilitas tersebut tetap beroperasi.
Seiring pertumbuhan permintaan tembaga, belum ada kepastian bahwa pasokan akan mencukupi di tengah serangkaian gangguan produksi tambang yang membentang dari Chile hingga Indonesia, serta kesulitan dalam membangun tambang baru dan memperluas operasi yang sudah ada.
Produksi tembaga tambang global tahunan berpotensi turun untuk pertama kalinya sejak 2017 jika produksi tidak pulih pada paruh kedua tahun ini.
Ketatnya pasokan dari tambang mendorong China, konsumen tembaga terbesar di dunia, untuk meningkatkan impor logam olahan pada awal tahun ini, ketika smelter-smelter di negara tersebut menghadapi kekurangan konsentrat tembaga untuk diproses sekaligus minimnya pasokan bahan baku tembaga bekas (scrap). Kondisi tersebut menambah momentum kenaikan harga yang sebelumnya dipicu potensi tarif AS.


