Saham

Laba JPFA Meledak 100% di Semester I/2026, Dua Sekuritas Kompak Revisi Naik Target

Ringkasan Cepat

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membukukan laba bersih Rp2,48 triliun pada semester I/2026, melonjak 100,2% secara tahunan, dengan pendapatan tumbuh 28,7% menjadi Rp35,36 triliun. Kinerja yang sesuai bahkan melampaui ekspektasi ini mendorong BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi beli di target Rp3.300, sementara Mirae Asset merevisi naik proyeksi 2026-2027, meski lonjakan belanja modal dan utang berbunga menjadi catatan.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi lonjakan laba bersih JPFA pada semester I/2026 yang mendorong analis merevisi naik target harga saham

Ilustrasi lonjakan laba bersih JPFA pada semester I/2026 yang mendorong analis merevisi naik target harga saham

Emitenhub.com - Emiten perunggasan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membukukan kinerja semester I/2026 yang sesuai ekspektasi analis, sekaligus mengerek prospek kinerja untuk sisa tahun ini.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), JPFA ditransaksikan di level Rp2.220 per lembar hingga Senin (24/8/2026) pukul 15:00 WIB, naik 0,45%. Secara year to date (YtD), banderol itu masih mencerminkan koreksi 15,27%.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, penjualan dan pendapatan usaha JPFA sepanjang semester I/2026 mencapai Rp35,36 triliun, tumbuh 28,7% secara tahunan atau year on year (YoY).

Pertumbuhan tersebut diiringi laba bersih sebesar Rp2,48 triliun, melonjak 100,2% YoY dari Rp1,24 triliun pada periode sama tahun lalu.

Jika diperinci, laba bersih kuartal II/2026 saja tercatat Rp659 miliar, naik 19% YoY tetapi turun 64% secara kuartalan. Meski kinerja kuartal II/2026 mengalami normalisasi dibandingkan lonjakan pada tiga bulan pertama tahun ini, keseluruhan rapor paruh pertama 2026 tetap sesuai ekspektasi analis.

Segmen pakan tetap tangguh, dengan pendapatan tumbuh 9% secara kuartalan (QoQ) dan 42% secara tahunan (YoY), serta margin laba operasional (OPM) yang relatif stabil di angka 9,5%. Kondisi ini mendorong kenaikan laba operasional sebesar 41% YoY menjadi Rp1,1 triliun, sekaligus meredam dampak margin hilir yang lebih lemah.

Sementara itu, pendapatan segmen ayam hidup turun 10% QoQ tetapi tumbuh 23% YoY. Laba operasional segmen ini berbalik menjadi rugi Rp496 miliar dari sebelumnya laba Rp862 miliar pada kuartal I/2026, sehingga OPM merosot menjadi -6,5% dari 10,1% pada tiga bulan pertama tahun ini.

Segmen makanan olahan tetap memberikan kontribusi positif, dengan pendapatan naik 34% YoY dan OPM yang membaik menjadi 6,1% dari 4,7% pada kuartal I/2026 atau 3,3% pada kuartal II/2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Sofi Wilastita dalam risetnya menyatakan kinerja laba dan pendapatan semester I/2026 telah menutupi 59% estimasi mereka untuk keseluruhan 2026.

"Hasil kinerja JPFA pada kuartal II/2026 secara umum sesuai dengan ekspektasi, profitabilitas segmen pakan dan DOC yang lebih kuat sebagian diimbangi oleh margin ayam hidup yang lebih lemah," ujar keduanya, dikutip Senin (24/8/2026).

Dibandingkan dengan pesaingnya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), JPFA mencatat penurunan profitabilitas ayam hidup yang lebih tajam, meski kedua perusahaan sama-sama mengalami normalisasi margin yang signifikan secara QoQ.

Kendati demikian, profitabilitas yang kuat pada semester I/2026 menjaga realisasi laba tahun fiskal 2026 tetap sesuai jalur.

BRI Danareksa mempertahankan peringkat beli dengan target harga yang juga tidak berubah di level Rp3.300 per lembar.

Proyeksi Kinerja Terkerek Naik

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga daging ayam ras naik di 205 kabupaten/kota pada pekan kedua Agustus 2026. Pada periode sama, harga daging ayam ras secara nasional mencapai Rp40.041 per kilogram.

Berdasarkan catatan BPS, harga daging ayam ras pada pekan kedua Agustus 2026 naik 4,92% menjadi Rp40.041 per kilogram dari Rp38.164 per kilogram pada Juli 2026.

Dengan kenaikan tersebut, harga daging ayam ras secara nasional sedikit berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan sebesar Rp40.000 per kilogram.

Terpisah, analis Mirae Asset Sekuritas melalui risetnya pada Senin (24/8/2026) menerangkan realisasi laba JPFA pada paruh pertama tahun ini berada di atas ekspektasinya, meski kuartal II/2026 tercatat lebih lemah.

Harga rata-rata DOC dan broiler masing-masing Rp4.976 per ekor, turun 27,0% QoQ, dan Rp18.681 per kilogram, terkoreksi 15,3% QoQ, tertekan permintaan pascalebaran yang melemah serta penghentian sementara program MBG.

JPFA juga membangun cadangan bahan baku dan menaikkan capex 132% YoY, sehingga utang berbunga naik 35,4% YoY menjadi Rp16,1 triliun.

Andreas menaikkan proyeksi kinerja 2026 dan 2027 seiring kinerja paruh pertama yang moncer tahun ini, yang sebagian diimbangi oleh belanja modal dan leverage yang lebih tinggi.

Andreas juga merevisi naik pendapatan pembibitan unggas dan pakan ternak lebih dari 20% dibandingkan estimasi sebelumnya, serta menaikkan pendapatan pertanian komersial pada kisaran belasan persen.

Dengan rapor semester I/2026 yang melampaui atau setidaknya sejalan dengan ekspektasi analis, JPFA memasuki paruh kedua tahun ini berbekal fondasi profitabilitas yang relatif kokoh, terutama dari segmen pakan dan makanan olahan. Meski begitu, lonjakan belanja modal dan utang berbunga menjadi faktor yang akan terus dicermati pasar, sejauh mana ekspansi tersebut mampu menjaga momentum kinerja tanpa membebani struktur keuangan perseroan pada tahun-tahun mendatang.

Iklan