Saham

Target Saham ISAT Terbelah! Mirae Bidik Rp3.850, BRI Danareksa Rp2.500, Ada Apa?

Ringkasan Cepat

Prospek saham PT Indosat Tbk (ISAT) mendapat penilaian berbeda dari dua perusahaan sekuritas. Mirae Asset menaikkan target harga ISAT menjadi Rp3.850 per saham berkat potensi kontribusi laba dari bisnis AI Zankore dan Indosat Fiber Technology (IFT). Sebaliknya, BRI Danareksa menurunkan target menjadi Rp2.500 meski mempertahankan rekomendasi beli, menyusul kenaikan anggaran capex Indosat menjadi Rp23 triliun untuk pengembangan jaringan 5G.

• 7 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi saham PT Indosat Tbk (ISAT) dengan perbedaan target harga Mirae Asset Rp3.850 dan BRI Danareksa Rp2.500, di tengah ekspansi AI Zankore dan investasi jaringan 5G.

Ilustrasi saham PT Indosat Tbk (ISAT) dengan perbedaan target harga Mirae Asset Rp3.850 dan BRI Danareksa Rp2.500, di tengah ekspansi AI Zankore dan investasi jaringan 5G.

Emitenhub.com - Prospek saham PT Indosat Tbk (ISAT) mendapat perhatian analis seiring pengembangan bisnis di luar layanan telekomunikasi konvensional. Ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melalui Zankore by Indosat dan bisnis jaringan serat optik Indosat Fiber Technology (IFT) dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan laba baru bagi perseroan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja menaikkan target harga saham ISAT menjadi Rp3.850 per saham dari sebelumnya Rp2.700. Revisi tersebut mencerminkan peningkatan ekspektasi terhadap kontribusi kedua bisnis di luar operasional utama telekomunikasi.

Dalam riset tertanggal Rabu (14/10/2026), Daniel memperkirakan Zankore dan IFT berpotensi memberikan tambahan laba bersih tahunan bagi ISAT sebesar Rp1,2 triliun hingga Rp2,5 triliun pada periode 2027–2028.

Kontribusi tersebut dinilai dapat membuka peluang penilaian ulang atau rerating valuasi saham ISAT apabila pertumbuhan laba dari kedua bisnis terealisasi.

Zankore Siapkan Infrastruktur AI Berkapasitas 1 GW

Salah satu sumber pertumbuhan yang menjadi perhatian Mirae Asset adalah investasi Indosat pada Zankore, perusahaan pengembang infrastruktur AI berskala besar.

Zankore menargetkan pembangunan fasilitas NVIDIA DSX AI Factory dengan kapasitas hingga 1 gigawatt (GW). Pengembangan tahap awal direncanakan mencapai sekitar 200 megawatt (MW), dengan target mulai beroperasi pada semester I-2027.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, Zankore telah memperoleh fasilitas pinjaman berjangka senior sebesar US$3,1 miliar atau sekitar Rp54 triliun.

Pendanaan itu akan digunakan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur komputasi AI, termasuk pengembangan kapasitas awal sebesar 100 MW yang menjadi dasar proyeksi Mirae Asset.

Sebelumnya, ISAT mengungkapkan investasi ekuitas sebesar US$200 juta menggunakan kas internal untuk memperoleh kepemilikan 37% di Zankore.

Transaksi tersebut mengimplikasikan valuasi perusahaan setelah investasi atau post-money valuation sekitar US$540 juta.

Daniel menjelaskan valuasi tersebut lebih rendah dibandingkan estimasi awal Mirae Asset karena sebagian kontribusi Indosat telah diperhitungkan berdasarkan valuasi sebelum masuknya investasi baru.

Dengan kepemilikan 37%, ISAT berpotensi memperoleh kontribusi laba dari pengembangan bisnis AI Zankore.

Mirae Asset memperkirakan kapasitas awal sebesar 100 MW dapat menghasilkan laba sekitar US$126 juta pada tahun pertama operasional dan meningkat menjadi US$331 juta pada tahun kedua.

Berdasarkan porsi kepemilikannya, bagian laba yang berpotensi diterima Indosat diproyeksikan mencapai US$47 juta hingga US$122 juta pada 2027–2028.

Proyeksi tersebut masih bergantung pada realisasi pembangunan, waktu pengoperasian fasilitas, serta kinerja komersial Zankore setelah proyek berjalan.

IFT Kembangkan Kabel Bawah Laut 9.500 Kilometer

Selain Zankore, Mirae Asset turut menyoroti potensi pertumbuhan laba dari Indosat Fiber Technology (IFT).

Setelah Indosat melepas 50,1% kepemilikan IFT kepada Arsari Group, perusahaan tersebut tidak lagi dikonsolidasikan secara penuh dalam laporan keuangan ISAT.

Indosat kini mempertahankan kepemilikan sebesar 49,9% dan tetap memiliki eksposur terhadap perkembangan bisnis infrastruktur serat optik tersebut.

IFT mengelola jaringan kabel bawah laut sepanjang 6.632 kilometer, jaringan fiber to the home (FTTH) sepanjang 21.547 kilometer, serta jaringan backbone dan serat optik terestrial lainnya sepanjang 58.009 kilometer.

Dengan tingkat utilisasi jaringan sekitar 25%, IFT telah menghasilkan pendapatan sebesar Rp2,5 triliun dan EBITDA sekitar Rp1,6 triliun berdasarkan data yang digunakan Mirae Asset.

Indosat sendiri tetap menjadi pelanggan utama atau anchor tenant bagi jaringan yang dikelola IFT.

Perusahaan tersebut juga menyiapkan pembangunan kabel bawah laut sepanjang sekitar 9.500 kilometer untuk memperluas jangkauan infrastruktur telekomunikasi ke Indonesia bagian timur.

Proyek tersebut direncanakan berlangsung dalam tiga tahap dengan kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai US$450 juta.

Tahap pertama pengembangan ditargetkan dimulai pada kuartal I-2027.

Mirae Asset memperkirakan IFT dapat memberikan kontribusi laba bagi ISAT sekitar Rp485 miliar hingga Rp594 miliar pada periode proyeksi 2027–2029.

Dengan tetap mempertahankan kepemilikan minoritas yang signifikan, Indosat memiliki peluang memperoleh manfaat dari pertumbuhan bisnis jaringan serat optik tanpa harus mengonsolidasikan seluruh aset dan kewajiban IFT.

Mirae Asset Proyeksikan Laba ISAT Tembus Rp6 Triliun

Di tengah pengembangan bisnis AI dan infrastruktur serat optik, Mirae Asset juga memperkirakan kinerja operasional utama Indosat tetap bertumbuh sepanjang 2026.

Pendapatan ISAT diproyeksikan mencapai Rp61,11 triliun pada akhir tahun, meningkat 8,14% dibandingkan realisasi Rp56,51 triliun pada 2025.

Sementara itu, laba bersih diperkirakan tumbuh 9,76% secara tahunan menjadi Rp6,04 triliun dari sebelumnya Rp5,51 triliun.

Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis telekomunikasi masih menjadi bagian penting dari kinerja ISAT sebelum kontribusi Zankore dan IFT diproyeksikan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Pandangan positif terhadap kinerja Indosat juga disampaikan analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan.

Dalam riset sebelumnya, keduanya menilai pertumbuhan lalu lintas data yang kuat pada semester I-2026 berpotensi berlanjut hingga akhir tahun.

Selain perkembangan bisnis telekomunikasi, prospek Indosat turut dikaitkan dengan potensi kontribusi sekitar US$100 juta dari bisnis AI Neocloud.

Dengan demikian, pengembangan Zankore dan IFT menjadi dua faktor yang diperhitungkan analis dalam melihat peluang pertumbuhan laba ISAT pada 2027–2028.

Meski target harga telah dinaikkan, realisasi kontribusi kedua perusahaan masih akan ditentukan oleh penyelesaian proyek, pemanfaatan kapasitas infrastruktur, dan perkembangan permintaan layanan AI maupun jaringan serat optik.

BRI Danareksa Sekuritas turut merevisi proyeksi pendapatan PT Indosat Tbk (ISAT) pada 2026 dengan mempertimbangkan pertumbuhan konsumsi data yang diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menaikkan estimasi pendapatan ISAT sebesar 3,4% dari proyeksi sebelumnya. Revisi tersebut mencerminkan perkiraan pertumbuhan pendapatan 8,6% secara tahunan pada 2026.

Dalam perhitungannya, kedua analis menggunakan asumsi kenaikan lalu lintas data sebesar 2% secara semesteran pada paruh kedua 2026. Dengan asumsi tersebut, rata-rata konsumsi data pelanggan diperkirakan mencapai 19 GB per bulan.

Meski prospek pertumbuhan pendapatan masih dinilai positif, peningkatan kebutuhan investasi jaringan menjadi perhatian dalam penilaian terhadap saham ISAT.

Indosat menaikkan panduan belanja modal atau capital expenditure (capex) sepanjang 2026 dari Rp13 triliun menjadi Rp23 triliun.

Tambahan anggaran sebesar Rp10 triliun tersebut dialokasikan untuk pengadaan perangkat jaringan 5G setelah pelaksanaan lelang spektrum.

Nilai investasi tambahan itu melampaui perkiraan BRI Danareksa yang sebelumnya hanya memperhitungkan kebutuhan sekitar Rp5 triliun.

Menurut kedua analis, peningkatan capex tersebut mempersempit ruang bagi Indosat untuk membagikan dividen khusus dari hasil divestasi bisnis serat optik.

Kebutuhan investasi yang lebih besar juga menjadi pertimbangan dalam memperbarui valuasi saham perseroan, terutama karena pengembalian investasi jaringan 5G masih bergantung pada perkembangan pemanfaatan layanan tersebut.

BRI Danareksa akhirnya mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ISAT, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp2.500 per saham.

Revisi tersebut memperhitungkan peningkatan belanja modal pada 2026 dan 2027, serta ketidakpastian mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan tambahan dari pengembangan jaringan 5G.

Penilaian BRI Danareksa berbeda dengan Mirae Asset Sekuritas yang sebelumnya menaikkan target harga ISAT menjadi Rp3.850 per saham.

Perbedaan kedua target tersebut mencerminkan penekanan analisis yang berbeda. Mirae Asset memperhitungkan peluang kontribusi laba dari Zankore dan IFT, sedangkan BRI Danareksa memberi perhatian lebih besar terhadap kebutuhan investasi jaringan dan monetisasi 5G.

Zankore Peroleh Pendanaan US$3,1 Miliar untuk Infrastruktur AI

Di tengah peningkatan investasi telekomunikasi, Zankore by Indosat memperkuat pendanaan untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan berskala besar.

Perusahaan tersebut memperoleh fasilitas pinjaman berjangka senior senilai US$3,1 miliar untuk mendukung pembangunan infrastruktur komputasi AI.

Direktur sekaligus Chairman Zankore by Indosat Vikram Sinha menyatakan perkembangan teknologi AI membuka peluang bagi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara untuk memperkuat posisi dalam industri teknologi global.

Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi sebatas adopsi teknologi AI, melainkan kesiapan infrastruktur komputasi yang dapat mendukung pengembangannya.

Dengan dukungan NVIDIA, Zankore berupaya membangun kapasitas komputasi AI tingkat lanjut untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pengembangan fasilitas tersebut menjadi bagian dari rencana pembangunan NVIDIA DSX AI Factory yang ditargetkan memiliki kapasitas hingga 1 GW.

Pendanaan jumbo yang diperoleh Zankore juga mendapat perhatian dari industri perbankan internasional.

Head of Wholesale Banking Asia Pasifik ING Uday Sareen menilai transaksi tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam pembiayaan infrastruktur teknologi di kawasan Asia-Pasifik.

Menurutnya, kesepakatan tersebut menunjukkan terbukanya peluang pembiayaan proyek komputasi AI melalui pasar pinjaman sindikasi.

Citi hingga UOB Terlibat dalam Sindikasi Pinjaman Zankore

Dalam transaksi pembiayaan Zankore, Citi ditunjuk sebagai penasihat utang eksklusif sekaligus penasihat keuangan eksklusif.

Sementara itu, fasilitas pinjaman sindikasi didukung oleh lima lembaga keuangan internasional, yaitu Citi, ING, Natixis, Qatar National Bank (QNB) Group, dan United Overseas Bank (UOB).

Kelima lembaga tersebut bertindak sebagai senior mandated lead arrangers, underwriters, and bookrunners (SMLAUBs).

Keterlibatan perbankan internasional tersebut menjadi bagian dari struktur pendanaan untuk mendukung pembangunan fasilitas komputasi AI yang membutuhkan investasi besar.

Bagi Indosat, pengembangan Zankore membuka sumber pertumbuhan di luar bisnis telekomunikasi. Namun, peluang peningkatan laba dari investasi AI akan berjalan bersamaan dengan kebutuhan belanja modal yang lebih tinggi untuk memperluas jaringan 5G.

Dengan demikian, prospek kinerja ISAT pada beberapa tahun mendatang tidak hanya dipengaruhi pertumbuhan konsumsi data, tetapi juga oleh realisasi kontribusi bisnis AI, jaringan serat optik, dan kemampuan perusahaan menghasilkan pengembalian dari investasi infrastruktur baru.

Iklan