Saham

Saham BIKE Melesat 260%, Borong 2 Tambang Batu Bara dan Bidik Produksi 4 Juta Ton

Ringkasan Cepat

PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) mempercepat transformasi bisnis ke sektor batu bara melalui akuisisi 45% saham PT Sumber Bara Abadi dan 72% saham PT Berau Usaha Mandiri. Ekspansi tersebut berlangsung ketika saham BIKE telah menguat 260% sejak awal 2026, dengan target produksi Sumber Bara Abadi mencapai 4 juta ton per tahun mulai 2029. Perseroan juga menjajaki tambahan konsesi tambang seluas 27.786 hektare, meskipun bisnis batu bara belum memberikan kontribusi pendapatan

• 6 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara di Kalimantan Timur terkait akuisisi dua perusahaan tambang oleh PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE).

Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara di Kalimantan Timur terkait akuisisi dua perusahaan tambang oleh PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE).

Emitenhub.com - PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) mempercepat transformasi bisnis dari perdagangan sepeda dan peralatan olahraga menuju sektor pertambangan batu bara. Perseroan mengakuisisi kepemilikan di dua perusahaan tambang Kalimantan Timur dengan target produksi jutaan ton per tahun, di tengah kenaikan harga saham BIKE yang mencapai 260% sejak awal 2026.

Pada penutupan perdagangan Senin (12/10/2026), saham BIKE berada di level Rp2.670 per saham, naik dari harga pembukaan hari itu sebesar Rp2.270.

Secara year-to-date (YtD), saham perseroan telah menguat 260% atau 1.930 poin. Dalam enam bulan terakhir, kenaikannya bahkan mencapai 512%, sedangkan dalam satu bulan saham BIKE melesat 175,26%.

Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar BIKE tercatat sekitar Rp3,45 triliun.

Penguatan saham itu berlangsung ketika perusahaan yang sebelumnya bernama PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk tersebut mulai merealisasikan ekspansi ke sektor energi melalui sejumlah transaksi akuisisi.

Langkah terbaru dilakukan melalui anak usaha BIKE, PT Prambanan Nusantara Energi (PNE), yang mengakuisisi 45% saham PT Sumber Bara Abadi pada 8 Oktober 2026.

Sebelumnya, perseroan juga mengumumkan pengambilalihan 72% saham PT Berau Usaha Mandiri, perusahaan yang memiliki konsesi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur.

BIKE Targetkan Produksi Batu Bara 4 Juta Ton pada 2029

Direktur BIKE Winston Mulyadi menyampaikan bahwa akuisisi Sumber Bara Abadi merupakan bagian dari strategi memperluas portofolio pertambangan dan memperkuat kegiatan usaha perseroan.

Menurutnya, BIKE akan memanfaatkan kemampuan manajemen dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional perusahaan tambang tersebut.

"Kami melihat potensi besar pada tata kelola aset tambang ini dan berkomitmen membawa keahlian teknologi serta manajemen kami untuk mengoptimalkan efisiensi produksi," ujar Winston dalam keterbukaan informasi, dikutip Selasa (13/10/2026).

Sumber Bara Abadi merupakan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi dengan wilayah konsesi seluas 4.909 hektare.

Lokasi pertambangannya berada di Kecamatan Sebulu dan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, termasuk kawasan Desa Manunggal Daya.

Manajemen menyebut kandungan batu bara di area tersebut mencapai sekitar 86 juta metrik ton.

Dengan asumsi produksi rata-rata 2 juta metrik ton per tahun, BIKE memproyeksikan pendapatan Sumber Bara Abadi dapat mencapai US$84 juta.

Perseroan menargetkan peningkatan produksi menjadi 4 juta metrik ton per tahun mulai 2029, atau dua kali lipat dari asumsi produksi sebelumnya.

Akuisisi kepemilikan Sumber Bara Abadi juga berkaitan dengan sejumlah fasilitas pendukung operasional, termasuk pelabuhan, sistem conveyor belt, kantor, dan peralatan pertambangan.

Ketersediaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari strategi BIKE dalam memperkuat kegiatan produksi dan rantai pasok batu bara.

Akuisisi Tambang Berau dengan Cadangan 22 Juta Ton

Selain Sumber Bara Abadi, BIKE memperluas portofolio energi melalui akuisisi 72% saham PT Berau Usaha Mandiri.

Perusahaan tambang tersebut memiliki wilayah konsesi sekitar 500 hektare di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Berdasarkan hasil eksplorasi pada area seluas 400 hektare, Berau Usaha Mandiri dilaporkan memiliki cadangan batu bara terbukti atau proven reserves sekitar 22 juta metrik ton.

Direktur BIKE Muhamad Kuswandi sebelumnya menjelaskan bahwa ekspansi pertambangan merupakan bagian dari perubahan arah bisnis perseroan untuk memperbesar eksposur terhadap sektor energi.

Manajemen menargetkan produksi batu bara dari wilayah Berau Usaha Mandiri mencapai 1,5 juta hingga 2,5 juta metrik ton per tahun.

"Manajemen menargetkan volume produksi batu bara dari area tersebut berkisar antara 1,5 juta hingga 2,5 juta metrik ton per tahun," kata Kuswandi dalam keterbukaan informasi, Jumat (9/10/2026).

Kuswandi menyatakan perkembangan proyek akan disampaikan lebih lanjut melalui keterbukaan informasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan dua transaksi tersebut, BIKE mulai membangun portofolio pertambangan melalui kepemilikan saham perusahaan pemegang konsesi.

Meski demikian, target produksi yang diumumkan masih merupakan rencana manajemen dan belum mencerminkan realisasi produksi maupun pendapatan batu bara perseroan.

Bisnis Sepeda Motor Listrik Masih Menopang Pendapatan BIKE

Sebelum memperluas bisnis ke batu bara, BIKE dikenal sebagai perusahaan perdagangan sepeda, sepeda motor listrik, dan perlengkapan olahraga.

Perseroan mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 21 Maret 2022 dengan nama PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk.

Perubahan nama menjadi PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk disetujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 2 Juli 2026.

Pergantian identitas tersebut sejalan dengan rencana diversifikasi usaha ke sejumlah sektor baru, terutama energi dan teknologi.

Namun, hingga semester I-2026, pendapatan konsolidasian BIKE masih ditopang kegiatan usaha sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan enam bulanan yang belum diaudit, segmen sepeda motor listrik menjadi penyumbang penjualan terbesar. Kontribusi berikutnya berasal dari segmen lain-lain dan sepeda, sedangkan penjualan kereta dorong bayi memiliki porsi paling kecil.

Pendapatan dari bisnis batu bara belum tercatat dalam laporan keuangan periode tersebut.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, BIKE membukukan pendapatan bersih sebesar Rp121,12 miliar dengan rugi bersih Rp19,18 miliar.

Dari sisi neraca, total aset perseroan mencapai Rp98,02 miliar, terdiri atas liabilitas Rp32,50 miliar dan ekuitas Rp65,52 miliar.

Dengan demikian, ekspansi batu bara menjadi bagian dari perubahan portofolio BIKE yang hasil keuangannya belum tergambar dalam laporan semester pertama 2026.

BIKE Jajaki Akuisisi Tambang hingga 27.786 Hektare

Selain dua transaksi yang telah diumumkan, BIKE masih menyiapkan sejumlah rencana ekspansi usaha sepanjang 2026.

Strategi pengembangan perusahaan dibagi ke dalam lima fokus, yakni mempertahankan bisnis eksisting, memperluas lini usaha, mengembangkan sektor energi dan teknologi, memperkuat sinergi kelompok usaha, serta meningkatkan struktur pendanaan.

Perseroan juga mulai menjajaki kerja sama dengan sejumlah mitra dan telah menandatangani beberapa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).

Dalam persiapan pengembangan bisnis, BIKE menyusun studi kelayakan atau feasibility study (FS) serta kajian kewajaran atau fairness opinion (FO) melalui Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).

Kajian tersebut menjadi bagian dari persiapan ekspansi dan penguatan modal kerja, termasuk evaluasi struktur pendanaan, perizinan, serta pemenuhan ketentuan yang berlaku.

BIKE turut mempertimbangkan penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) untuk memperluas cakupan kegiatan usaha ke sektor energi, teknologi informasi, golf, industri, dan investasi.

Di samping itu, perseroan sedang melakukan penjajakan serta uji tuntas atau due diligence terhadap beberapa calon anak usaha, termasuk PT RK, PT PEG, PT FDP, PT SMI, PT MTI, dan PT K.BI.

Pada sektor pertambangan, rencana ekspansi lainnya mencakup tiga perusahaan pemegang konsesi, yakni PT BSR dengan luas 9.660 hektare, PT TBM seluas 8.126 hektare, serta PT WCM seluas 10.000 hektare.

Jika dijumlahkan, ketiga area tersebut memiliki luas sekitar 27.786 hektare.

Rencana tersebut masih berada dalam tahapan penjajakan dan evaluasi, sehingga belum dapat diperlakukan sebagai tambahan konsesi yang telah dikuasai BIKE.

Realisasi ekspansi berikutnya akan bergantung pada penyelesaian uji tuntas, ketersediaan pendanaan, serta pemenuhan persyaratan perizinan dan regulasi.

Dengan target produksi dari Sumber Bara Abadi dan Berau Usaha Mandiri, bisnis pertambangan mulai menjadi fokus pertumbuhan baru BIKE. Namun, kontribusi segmen tersebut terhadap kinerja konsolidasian masih perlu dilihat setelah kegiatan operasional dan transaksi akuisisi tercermin dalam laporan keuangan perseroan.

Iklan