Emitenhub.com - PT Mitra Investindo Tbk (MITI) menjalin kerja sama strategis dengan PT CNEC Engineering Indonesia (CNEC INA) untuk menggarap proyek penambangan pasir silika. Langkah ini menautkan MITI dengan jaringan perusahaan negara asal China di sektor pertambangan mineral.
CNEC INA merupakan anak usaha China Nuclear Engineering & Construction Corporation, badan usaha yang sepenuhnya dimiliki pemerintah China.
Kedua pihak meneken Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 29 September 2026. Kesepahaman itu mencakup pengembangan sumber daya mineral, layanan teknis, serta kemitraan untuk menggarap tiga konsesi pasir silika milik anak usaha MITI.
Presiden Direktur MITI Andreas Tjahjadi menjelaskan MoU ini bertujuan menyusun kerangka kerja sama yang saling menguntungkan sepanjang rantai proyek. Cakupannya membentang dari tahap pra-proyek, termasuk pengambilan sampel awal, eksplorasi, dan studi pengembangan, hingga keterlibatan strategis pascaproyek.
Statusnya masih penjajakan. MoU tersebut belum memunculkan kemitraan, usaha patungan, maupun komitmen keuangan yang mengikat para pihak.
MITI mengantongi tiga Izin Usaha Pertambangan (IUP) pasir silika dengan total konsesi 9.895,03 hektare di Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Seluruh area itu belum digarap dan masih berada di tahap eksplorasi.
Pengelolaan ketiga IUP ada di tangan tiga anak usaha: PT Danau Buntar Kuarsa (DBK), PT Kendawangan Prima Silika (KPS), dan PT Kendawangan Berkah Bersih (KBB). DBK menguasai 4.888 hektare, KPS memegang 2.965 hektare, dan sisanya menjadi bagian KBB.
Untuk menggarap ketiganya, MITI menaksir kebutuhan belanja modal sekitar Rp500 miliar. Dari investasi itu, perseroan memperkirakan tambahan laba bersih hingga Rp75 miliar per tahun.
Bagi MITI, gandengan dengan CNEC INA membuka jalan menghidupkan konsesi silika yang selama ini menganggur di tahap eksplorasi. Karena ikatannya baru sebatas MoU tanpa komitmen keuangan, arah proyek ini masih menunggu hasil penjajakan dan kepastian belanja modal sebelum tambahan laba Rp75 miliar per tahun yang dibidik benar-benar bisa dihitung.


