Saham

Danantara Mulai Bangun PSEL Bogor Raya 1 Rp2,8 Triliun, Sasar Sampah 4.000 Ton per Hari

Ringkasan Cepat

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia resmi memulai pembangunan PSEL Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Kabupaten Bogor, dengan nilai investasi sekitar Rp2,8 triliun untuk mengatasi timbulan sampah 4.000 ton per hari. Fasilitas berstandar EU-IED ini ditargetkan mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun dan beroperasi penuh pada pertengahan 2028, sementara pemerintah menegaskan PSEL bukan jawaban instan karena baru mencakup sebagian kecil dari ratusan kabupaten/kota yang harus dit

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Danantara memulai pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik PSEL Bogor Raya 1 di Kabupaten Bogor

Ilustrasi Danantara memulai pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik PSEL Bogor Raya 1 di Kabupaten Bogor (Foto:OASA)

Emitenhub.com - Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) memasuki babak baru. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia resmi memulai pembangunan PSEL Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, untuk mengatasi timbulan sampah 4.000 ton per hari di kawasan tersebut.

Proyek yang digarap PT DIM dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) ini memasuki tahapan penting lewat penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PT PLN (Persero). Hal itu disampaikan CIO Danantara Indonesia sekaligus CEO Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir.

"Hal ini menandai kesiapan untuk mendorong realisasi solusi pengolahan sampah terintegrasi di Indonesia yang dilanjutkan di Bogor Raya, setelah kita melakukan di Kota Bekasi dan Denpasar Raya pada dua bulan terakhir ini," kata Pandu dalam peresmian pembangunan PSEL Bogor Raya 1, Kamis (17/9/2026).

Fasilitas ini dirancang mengacu pada standar lingkungan European Union Industrial Emissions Directive (EU-IED) dan ditargetkan mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun, atau sekitar 45% timbulan sampah terolah di Kota dan Kabupaten Bogor. Pengoperasiannya menggunakan teknologi moving grate incinerator dengan Air Pollution Control System (APCS) yang dirancang sesuai karakteristik sampah Indonesia dan standar EU-IED untuk mengendalikan emisi.

Dari sisi lingkungan, proyek ini diproyeksikan menurunkan emisi sampah dari tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80%, memangkas emisi karbon sekitar 640.000 ton setara CO2 per tahun, sekaligus mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 80%.

Dari sisi ekonomi, PSEL Bogor Raya 1 memiliki nilai investasi sekitar Rp2,8 triliun dan diproyeksikan menciptakan sekitar 1.200 lapangan kerja hijau, dengan perkiraan suplai listrik menjangkau hingga 100.000 rumah di Bogor Raya.

Fasilitas ini dikembangkan dan dijalankan oleh BUPP Nusantara Bogor New Energy, dengan target operasional penuh pada pertengahan 2028 serta kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari.

PSEL Bukan Jawaban Instan Persoalan Sampah

Di balik peresmian tersebut, pemerintah mengakui persoalan utama pengelolaan sampah selama ini terletak pada panjangnya proses birokrasi. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menuturkan pengusaha sebelumnya harus berurusan dengan berbagai lapis persetujuan, salah satunya terkait tipping fee.

Kondisi pengelolaan sampah yang kian darurat itulah yang mendorong perubahan tata kelola proyek PSEL, yang kini diamanatkan kepada Danantara. Secara total, Danantara akan menggarap 24 hingga 28 titik PSEL yang ditargetkan beroperasi pada rentang 2027 hingga 2028.

Khusus Bogor Raya, urgensinya dinilai lebih tinggi. Zulkifli menyebut timbulan sampah di Bogor mencapai sekitar 4.000 ton per hari, sementara TPA Galuga yang menjadi lokasi proyek ini sebelumnya sempat mengalami kebakaran.

"Ini yang PSEL, yang darurat. Dan ini baru menyelesaikan 22,5% [masalah sampah Indonesia]. Masih ada 77,5% lagi yang di bawah," katanya dalam kesempatan yang sama.

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat menambahkan pembangunan PSEL Bogor Raya 1 belum mengakhiri persoalan sampah. Fasilitas tersebut ditargetkan selesai maksimal dalam dua tahun, sedangkan timbulan sampah terus bertambah selama masa pembangunan.

"Persoalannya adalah juga dari sekarang sampai dua tahun sampah jalan terus," kata Jumhur.

Ia menyebut program PSEL yang berjalan di Tanah Air saat ini baru mencakup sekitar 60 kabupaten/kota. Artinya, masih terdapat sekitar 470 kabupaten/kota yang harus ditangani hingga target penyelesaian persoalan sampah pada 2029.

Untuk mengurangi beban persampahan yang dipikul tiap daerah, pemerintah menyatakan terbuka terhadap penggunaan berbagai teknologi pengolahan sampah sesuai skala dan karakteristik daerah. Selain menghasilkan listrik, teknologi yang dapat digunakan mencakup pirolisis, produksi solar, refuse-derived fuel (RDF), green coal, hingga pelletizing.

"Jadi, masih banyak bebannya, dan berbagai teknologi kita welcome," ujar Jumhur.

Dalam rantai proyek ini, PLN berperan sebagai pembeli listrik yang dihasilkan fasilitas PSEL. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo sebelumnya menyatakan perseroan telah memetakan titik interkoneksi terdekat dari lokasi PSEL untuk mempercepat proses penyambungan, sekaligus mempercepat pembahasan awal PJBL agar tahapan yang biasanya memakan beberapa bulan dapat dipersingkat. Kepastian offtake listrik dinilai menjadi elemen penting untuk memperkuat kelayakan proyek sekaligus membuka akses pembiayaan bagi pengembang.

Kepastian itu mengemuka lewat penandatanganan PJBL pada peresmian PSEL Bogor Raya 1, yang memberikan jaminan penyerapan listrik selama masa konsesi. Berdasarkan Perpres No. 109/2025, tarif pembelian listrik ditetapkan sebesar US$0,20 per kWh untuk seluruh kapasitas listrik yang dihasilkan.

Danantara juga telah menyiapkan kelanjutannya, yakni PSEL Bogor Raya 2 di kawasan Kayumanis, Kota Bogor, yang akan mengolah sampah dari Kota Bogor dan Kota Depok.

Menilik keterangan pers Danantara, proyek PSEL secara keseluruhan direncanakan hadir di 17 titik yang mencakup 33 kabupaten/kota.

Iklan