Market

El Nino Pukul Smelter Nikel Sulawesi, Produksi Bisa Anjlok 40%

Ringkasan Cepat

Fenomena El Nino menekan produksi sejumlah smelter nikel di Sulawesi akibat menyusutnya pasokan air, meski FINI memastikan belum ada yang menyatakan force majeure. PT IMIP memperkirakan produksi di kawasannya berpotensi turun 30% hingga 40%, sementara proyek ENC Nickel Industries dan smelter PT BMS ikut terdampak. Air menjadi elemen vital baik di fasilitas RKEF maupun HPAL.

• 3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Fasilitas smelter nikel di Sulawesi terkait penurunan produksi akibat krisis air dampak fenomena El Nino

Fasilitas smelter nikel di Sulawesi terkait penurunan produksi akibat krisis air dampak fenomena El Nino (Foto:IMIP)

Emitenhub.com - Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memastikan belum ada satu pun smelter nikel di Sulawesi yang menyatakan kondisi kahar alias force majeure, kendati produksi tergerus fenomena El Nino.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah membenarkan sejumlah smelter memang terpapar langsung dampak El Nino. Air menjadi biang persoalannya, sebab elemen ini vital dalam operasional fasilitas rotary kiln electric furnace (RKEF) maupun high pressure acid leaching (HPAL).

Kendati begitu, angka pastinya belum bisa dipatok. FINI belum mengantongi estimasi penurunan volume produksi karena tingkat dampak tiap smelter berbeda, bergantung pada lokasi hingga besaran kebutuhan airnya.

Kenapa Smelter Butuh Air

Pada smelter pirometalurgi berbasis RKEF, Arif menjelaskan air terutama bekerja di sistem pendinginan. Pasokannya harus mengalir konstan untuk menjaga dinding tungku tetap dingin, mencegah keretakan bahkan risiko ledakan.

Perannya berlanjut ke penanganan limbah leburan. Terak atau slag cair yang menyala panas disemprot air bertekanan tinggi agar seketika membeku dan pecah jadi butiran kecil, sehingga lebih gampang diolah maupun ditempatkan.

Kebutuhan itu membengkak di jalur hidrometalurgi. Menurut Arif, smelter berbasis HPAL menyedot air jauh lebih banyak ketimbang RKEF, sebab air menjadi media utama seluruh reaksi, mulai dari pelarut dan reaksi kimia, pencucian dan pemisahan logam, hingga proses pengenceran.

Smelter yang Kena Dampak

Konfirmasi dampak datang dari lapangan. PT IMIP mengakui sejumlah smelter di kawasan industrinya mengalami penurunan produksi, termasuk fasilitas RKEF penghasil besi kasar nikel atau nickel pig iron (NPI).

Meski begitu, hitungannya belum rampung. IMIP menyatakan masih menjumlah penurunan produksi tiap perusahaan di kawasan dan belum bisa memastikan produksi NPI turun sekitar 100.000 ton. Sebagai pembanding, kapasitas terpasang smelter di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta ton per tahun atau sekitar 350.000 ton per bulan, berdasarkan estimasi Wood Mackenzie.

Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menyebut penurunan produksi berakar dari susutnya debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP akibat El Nino. Ia tak menampik pihaknya bersama sejumlah tenant tengah menyesuaikan target produksi sekaligus memburu sumber air cadangan untuk meredam dampak.

Keterangan Dedy sebelumnya bahkan lebih gamblang. Ia mengakui smelter di kawasan IMIP terpapar El Nino tahun ini, dengan potensi pemangkasan produksi di sentra itu sekitar 30% hingga 40%.

Tekanan serupa memukul Nickel Industries Limited. Smelter HPAL milik perusahaan ini di IMIP tersendat dalam proses ramp up lantaran pasokan air seret akibat kemarau.

Angkanya cukup telak. Lewat keterangan resmi, Nickel Industries menyebut proyek excelsior nickel cobalt (ENC) sempat menyentuh sekitar 50% kapasitas terpasang hanya dalam empat pekan sejak komisioning dimulai. Namun kekeringan memaksa proyek itu diperkirakan cuma sanggup beroperasi di kisaran 30% sampai ketersediaan air pulih.

Sulawesi Selatan juga tidak luput. Smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, dikabarkan terganjal masalah operasional setelah pasokan listrik menurun akibat PLTA kekurangan air.

Imbasnya merembet ke tenaga kerja. Berbagai media lokal melaporkan BMS berencana merumahkan sekitar 570 pekerja, meski mereka disebut tetap berstatus karyawan aktif dengan hak dan kewajiban yang utuh. Seretnya listrik dari PLTA itu pula yang membuat produksi smelter RKEF 1 milik BMS ikut merosot.

Rentetan gangguan di Sulawesi ini menempatkan pasokan nikel olahan nasional dalam sorotan, terutama bila kemarau berkepanjangan terus menekan ketersediaan air di sentra-sentra produksi.

Iklan