Saham

Telkom (TLKM) Pangkas Anak Usaha dari 67 Jadi di Bawah 20, Ini Kata Analis

Ringkasan Cepat

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjalankan transformasi TLKM30 dengan menyederhanakan struktur grup dari 67 anak usaha menuju kurang dari 20 entitas untuk memperkuat fokus pada bisnis inti dan efisiensi alokasi modal. Analis menilai langkah ini positif secara konsep karena berpotensi mengerek ROIC dan akuntabilitas, tetapi mengingatkan risiko disrupsi serta tekanan margin pada fase transisi, dengan rekomendasi beli dan target harga di kisaran Rp3.350 hingga Rp3.500 per saham.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi Telkom menyederhanakan struktur grup dengan memangkas jumlah anak usaha sebagai bagian transformasi TLKM30

Ilustrasi Telkom menyederhanakan struktur grup dengan memangkas jumlah anak usaha sebagai bagian transformasi TLKM30 (Foto:TLKM)

Emitenhub.com - Emiten telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tengah memasuki babak baru lewat transformasi bertajuk TLKM30. Melalui streamlining unit usaha, Telkom berupaya menata ulang portofolio bisnis sekaligus kembali berfokus pada bisnis inti perseroan.

Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini menerangkan dengan struktur TelkomGroup yang lebih sederhana, risiko tumpang tindih bisnis maupun operasi dapat lebih dihindari. Selain itu, aksi ini juga disebut dapat membuat Telkom mengalokasikan kapital dan sumber daya yang lebih berfokus pada bisnis inti perseroan.

"Proses streamlining ini masih berjalan sehingga dampaknya terhadap kinerja akan terbentuk secara bertahap. Kami optimistis inisiatif ini akan mendukung margin yang lebih sehat, profitabilitas yang lebih kuat, serta penciptaan long term shareholder value ke depannya," tegasnya dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).

Melalui streamlining, Telkom berupaya menciptakan efisiensi operasional sekaligus memperkuat fokus realisasi belanja modal pada pengembangan bisnis inti di sektor telekomunikasi dan digital. Langkah ini sekaligus diharapkan menghasilkan struktur grup yang lebih ramping.

Tidak hanya itu, langkah ini juga diharapkan dapat menajamkan peran setiap entitas yang bertahan dan memperkuat transformasi Telkom dari operating holding menuju strategic holding dengan model holding company-operating company. Tidak tanggung-tanggung, Telkom menargetkan jumlah anak usaha menyusut dari 67 entitas menjadi kurang dari 20 entitas.

Adapun sepanjang 2025 hingga kuartal pertama 2026, Telkom telah menyederhanakan portofolio bisnis, termasuk divestasi non-core dan fokus kembali ke bisnis inti telekomunikasi dan digital. Sebanyak enam entitas telah dirampingkan, dengan transaksi divestasi AdMedika Group yang berhasil diselesaikan pada 2 Juni 2026.

Hingga saat ini, upaya streamlining Telkom telah mencakup divestasi 2 unit usaha, 8 penutupan bisnis, dan 2 konsolidasi unit usaha. Selain itu, aksi ini juga diiringi alokasi modal dengan sekitar 94% capex diarahkan untuk bisnis inti B2C dan B2B infrastruktur.

Ke depan, strategi streamlining masih akan dilanjutkan perseroan dengan menjalankan pemetaan dan kajian terhadap portofolio entitas berbasis segmen untuk melihat unit usaha yang memiliki kinerja positif dan prospek ke depan.

Bayang-Bayang Risiko di Balik Streamlining

Kalangan analis menilai streamlining yang dilakukan Telkom sebagai bagian dari transformasi TLKM30 memang cukup genting untuk dilakukan. Pasalnya, kompleksitas entitas usaha dan risiko overlap dapat mengurangi efektivitas perusahaan.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menerangkan penyederhanaan ini lebih bernada positif lantaran Telkom sebagai Hold-co dapat lebih fokus pada alokasi modal, governance, dan kebijakan strategis. Sementara itu, Op-co disebut dapat lebih berfokus pada eksekusi bisnis.

Menurutnya, dampak terbesar dari aksi streamlining ini datang dari efisiensi Opex dan optimalisasi Capex, yang pada gilirannya meningkatkan Return on Invested Capital (ROIC) perusahaan.

Meski begitu, kondisi ini bukan tanpa risiko. Elandry menilai risiko utama streamlining Telkom justru berada pada fase transisi. Menurutnya, konsolidasi bisnis, pemindahan aset, SDM, kontrak, hingga pelanggan dapat menimbulkan disrupsi secara temporer.

Belum lagi, biaya restrukturisasi menimbulkan risiko serupa yang menekan margin perusahaan dalam jangka pendek. Tidak hanya itu, Elandry turut menyoroti kualitas layanan hingga potensi munculnya layer birokrasi baru antara Hold-co dan Op-co seusai streamlining.

Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai risiko streamlining juga mencakup risiko eksekusi, mengingat skala reorganisasi melibatkan banyak entitas. Wafi menilai terdapat risiko disrupsi jangka pendek karena sumber daya teralihkan untuk proses transisi.

"Koreksi kinerja B2B ICT pada semester I juga menimbulkan pertanyaan apakah proses streamlining itu sendiri turut berkontribusi terhadap underperformance melalui efek distraksi atau ada masalah fundamental bisnis yang perlu dipisahkan analisisnya," katanya, Senin (7/9/2026).

Meski begitu, Wafi menilai kondisi ini memberikan dampak jangka panjang yang positif secara konsep karena kejelasan struktur biasanya dittranslasikan ke alokasi kapital dan akuntabilitas yang lebih jelas.

Selain itu, Wafi juga menyoroti manfaat yang paling tampak akan datang dari peningkatan ROIC jangka panjang ketimbang sekadar efisiensi Opex yang membutuhkan waktu cukup lama. Optimalisasi Capex juga dinilai relevan lantaran entitas usaha strategis berpeluang mendapatkan alokasi yang lebih besar ketimbang tersebar merata di semua entitas.

"Urgensi [streamlining] tinggi karena dalam konteks yang luas restrukturisasi BUMN. Karena strategi TLKM30 soal target ganda value, streamlining adalah enabler struktural yang diperlukan sebelum mencapai target ambisius tersebut," tegasnya.

KISI merekomendasikan beli saham TLKM dengan harga wajar Rp3.350 per saham. Sementara itu, Elandry merekomendasikan beli saham TLKM pada rentang Rp3.300-Rp3.500 per saham.

Elandry menyoroti risiko execution risk selama masa transformasi, kompetisi dengan industri, serta risiko tekanan margin selama periode restrukturisasi.

Lewat TLKM30, Telkom memangkas jumlah anak usaha dari 67 entitas menuju kurang dari 20 demi struktur yang lebih ramping dan alokasi modal yang lebih fokus. Para analis menilai arah ini positif secara konsep karena berpotensi mengerek ROIC dan menajamkan akuntabilitas, tetapi mengingatkan fase transisi menyimpan risiko disrupsi, biaya restrukturisasi, dan tekanan margin jangka pendek. Ujian sesungguhnya terletak pada eksekusi: apakah penyederhanaan ini benar-benar berbuah efisiensi dan profitabilitas, atau justru menambah lapisan birokrasi baru antara induk dan anak usaha di tengah koreksi kinerja yang sudah terlihat di lini B2B ICT.

Iklan