NANO Bentuk Anak Usaha Baru Nano Oxywater, Bidik Bisnis Air Minum dengan Modal Rp1 Miliar
PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO) mendirikan anak usaha baru bernama PT Nano Oxywater Internasional dengan modal disetor Rp1 miliar. Entitas anyar tersebut akan bergerak di bidang industri air kemasan, air minum isi ulang, hingga konstruksi bangunan sipil pengolahan air bersih.
Logo PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO) dengan ilustrasi produk air kemasan dan pengolahan air bersih Nano Oxywater Internasional (Foto:NANO)
Emitenhub.com - Ekspansi lini bisnis berbasis teknologi menjadi pijakan langkah terbaru PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO). Emiten tersebut membentuk entitas anak baru bernama PT Nano Oxywater Internasional.
Pendirian anak usaha itu diumumkan lewat keterbukaan informasi kepada otoritas. Pengungkapannya merujuk POJK Nomor 31/POJK.04/2015 tentang Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik.
Legalitas PT Nano Oxywater Internasional tertuang dalam Akta Pendirian Nomor 02 tanggal 9 Juli 2026. Akta tersebut dibuat di hadapan Dr. Nurnaningsih, S.H., M.Kn., Notaris di Kota Administrasi Jakarta Selatan. Entitas baru ini berkedudukan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.
Modal disetor anak usaha itu tercatat Rp1 miliar. Porsinya dibagi antara PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO) sebesar 99% dan Nurul Taufiqu Rochman sebesar 1%.
Ruang lingkup usaha PT Nano Oxywater Internasional mencakup industri air kemasan, industri air minum isi ulang, serta pengolahan dan penyediaan air minum. Lini kegiatannya juga merambah konstruksi bangunan sipil pengolahan air bersih.
Perseroan memandang kehadiran entitas anak ini akan menopang pengembangan bisnis. Cakupan variasi produk yang ditawarkan ke pasar juga diperluas.
Dalam keterbukaan informasi, Perseroan menyebut dampak dari pendirian anak usaha tersebut adalah, "Memperluas variasi produk perseroan berbasis teknologi yang dipasarkan kepada masyarakat." Sebagai catatan tambahan, ekuitas PT Nanotech Indonesia Global Tbk per 30 Juni 2026 tercatat Rp173,99 miliar.

