Sinyal Kuat Borong Saham INDF! Target Rp7.450 Menanti Usai Laba Indofood (Q1/2026) Tembus Rp2,96 T!
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) memancarkan sinyal bullish usai menembus MA20 dan MA60, dengan target resistance terdekat di Rp7.450 versi analis. Tak hanya jago secara teknikal, fundamental emiten milik Anthoni Salim ini juga sangat kokoh. Pada Kuartal I/2026, INDF sukses mencetak penjualan Rp33,89 triliun (naik 7%) dengan laba bersih yang meroket 9% menjadi Rp2,96 triliun, membuktikan ketahanannya di tengah konflik geopolitik global.
Pergerakan harga saham INDF yang menunjukkan tren kenaikan menuju target Rp7.450 (FOTO:Indofood)
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sukses unjuk gigi menjelang akhir pekan. Pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026), saham emiten consumer goods raksasa ini mantap parkir di zona hijau dengan catatan penguatan sebesar 2,21 persen, atau merangkak naik 150 poin menuju level Rp6.925 per lembar.
Merespons manuver impresif tersebut, tim analis BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa INDF tengah berada dalam fase kelanjutan tren penguatan. Secara teknikal, saham ini terkonfirmasi berhasil menembus dan bergerak solid di atas indikator rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) maupun 60 hari (MA60). Kondisi ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa tren pergerakan saham INDF dalam jangka pendek mulai kembali memancarkan aura positif.
"Indikator Relative Strength Index (RSI) yang merangsek naik ke kisaran 60 juga mengindikasikan bahwa momentum akumulasi beli dari pelaku pasar terhadap saham ini semakin menguat," papar tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya yang dirilis pada Jumat (3/7/2026).
Lebih lanjut, prospek pergerakan INDF dinilai masih menyimpan potensi upside yang cukup menarik untuk dicermati. Analisis BRI Danareksa menggarisbawahi bahwa apabila saham INDF mampu mendobrak level resistance krusial di Rp7.150 yang diiringi dengan lonjakan volume transaksi, maka gerbang peluang untuk melanjutkan reli menuju resistance berikutnya di kisaran Rp7.450 akan terbuka semakin lebar.
"Selama saham ini masih mampu bertahan di atas area MA20 dan MA60, kecenderungan pergerakannya akan tetap beraroma positif dengan peluang besar untuk melanjutkan tren kenaikan," terang tim analis tersebut lebih lanjut.
Tren Pergerakan Saham INDF Memoles Rapor Hijau
Mengutip rincian data perdagangan dari platform Stockbit, lonjakan yang dibukukan pada penutupan hari ini semakin memperpanjang napas tren positif INDF yang telah terbangun dalam beberapa waktu terakhir.
Kinerja saham emiten raksasa consumer goods ini secara konsisten terus menunjukkan performa impresif di lantai bursa. Berikut adalah rekam jejak penguatannya:
Kinerja Sepekan: Saham INDF tercatat berhasil tumbuh sebesar 2,97 persen, berayun stabil pada rentang pergerakan harga antara Rp6.600 hingga Rp6.925 per lembar.
Kinerja Sebulan: Tren apresiasi tampak jauh lebih solid dengan torehan kenaikan yang cukup signifikan, yakni sebesar 5,32 persen. Saham ini sukses merangkak naik meninggalkan titik terendah bulanannya yang sempat menjejak level Rp5.850.
Konsistensi pendakian harga saham ini tentu menjadi angin segar bagi para pelaku pasar, mengukuhkan posisi INDF sebagai salah satu saham blue chip yang patut terus dipantau pergerakannya.
Walau mencetak rapor hijau dalam jangka pendek, kinerja berjalan (year-to-date/YTD) saham INDF sepanjang tahun ini tercatat menguat sebesar 2,21 persen, seirama dengan laju performa harian terkininya. Membedah kinerja lebih lanjut, saham ini juga terpantau konsisten mendaki dalam beberapa bulan terakhir, menorehkan kenaikan 4,53 persen pada periode tiga bulanan dan 3,75 persen dalam enam bulan terakhir.
Meski demikian, apabila ditarik pada horizon investasi yang lebih panjang, performa saham INDF nyatanya masih menyisakan jejak koreksi yang patut menjadi catatan bagi para pelaku pasar.
Berikut adalah rincian kinerja jangka panjang saham INDF:
Kinerja 1 Tahun: Saham INDF masih tertekan cukup dalam dengan koreksi menembus -13,17 persen. Sebagai perbandingan, pada setahun yang lalu, harga saham ini sempat berjaya dan menyentuh level tertingginya di posisi Rp8.825.
Kinerja 3 Tahun: Secara akumulatif, pergerakan harganya masih tertahan di zona merah dengan pelemahan sebesar -5,78 persen.
Kinerja 5 Tahun: Barulah pada basis waktu lima tahunan, performa INDF secara keseluruhan mampu membuktikan resiliensinya dengan mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,32 persen.
Fakta ini menunjukkan bahwa kendati momentum jangka pendek INDF tengah menyala dan berpeluang menembus level resistance baru, perjalanannya untuk memulihkan kejayaan harga di masa lalu masih membutuhkan sentimen positif yang kuat dan berkelanjutan.
Rapor Keuangan Kuartal I/2026
Mengintip kinerja fundamentalnya, pada kuartal pertama tahun ini (periode yang berakhir pada 31 Maret 2026), INDF sukses membukukan pertumbuhan top line yang solid. Penjualan neto konsolidasi perseroan tercatat menembus Rp33,89 triliun. Raihan tersebut tumbuh meyakinkan sebesar 7 persen jika dibandingkan dengan torehan pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang berada di level Rp31,56 triliun.
Kendati pundi-pundi pendapatan melonjak, dari sisi profitabilitas, perseroan rupanya menghadapi sedikit tekanan. Laba usaha INDF tercatat mengalami penyusutan sebesar 6 persen, tergelincir dari Rp6,92 triliun menjadi Rp6,53 triliun. Manajemen perseroan mengungkapkan bahwa penurunan tipis pada pos laba usaha ini utamanya dipicu oleh perolehan laba selisih kurs dari aktivitas operasional yang lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya.
Meski pos laba usaha mengalami sedikit tekanan, kinerja bottom line perseroan justru membuktikan resiliensinya. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (laba bersih) tercatat sukses melonjak sebesar 9 persen, merangkak naik dari Rp2,72 triliun menjadi Rp2,96 triliun.
Direktur Utama dan CEO Indofood, Anthoni Salim, turut angkat bicara menanggapi pencapaian kuartal pertama ini. Ia menegaskan bahwa kinerja fundamental perseroan tetap terjaga kokoh di tengah tingginya ketidakpastian serta dinamika ekonomi global.
“Di tengah meningkatnya konflik geopolitik, Indofood tetap dapat mempertahankan kinerjanya di kuartal pertama tahun ini. Kami akan terus fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan, tetap menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan tingkat profitabilitas, serta mempertahankan posisi neraca yang sehat,” tegas Anthoni Salim dalam siaran pers resminya, dikutip pada Senin (4/5/2026).
Langkah adaptif dan strategi keseimbangan margin yang diusung oleh manajemen diyakini bakal menjadi penopang utama bagi pergerakan INDF, baik dari sisi fundamental operasional maupun daya tariknya sebagai salah satu saham blue chip defensif di pasar modal.


