Bocoran BEI! 4 Saham Baru Siap IPO, Sektor Kesehatan Paling Mendominasi
Bursa Efek Indonesia (BEI) membocorkan pipeline aksi korporasi teranyar per pertengahan Juli 2026. Saat ini, masih ada 4 perusahaan yang mengantre untuk mencatatkan saham perdana (IPO), di mana sektor kesehatan (healthcare) mendominasi antrean tersebut. Di sisi lain, BEI juga mencatat pergerakan masif pada instrumen surat utang dengan antrean 11 emisi obligasi yang dipimpin oleh sektor energi, serta sisa satu emiten properti yang bersiap mengeksekusi rights issue.
Data pipeline pencatatan saham perdana IPO, emisi obligasi EBUS, dan rights issue di Bursa Efek Indonesia per Juli 2026.
Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan daftar antrean (pipeline) pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) masih dihuni oleh empat calon emiten per 17 Juli 2026. Antrean ini menyusul jejak tujuh perusahaan yang telah lebih dulu melantai di bursa saham sepanjang tahun berjalan. Rangkaian aksi korporasi tersebut sukses meraup akumulasi dana segar hingga menembus angka Rp2,16 triliun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, merinci postur aset perusahaan yang kini tengah mematangkan proses penawaran umum. Pipeline IPO saat ini terdiri atas dua perusahaan berskala aset besar dengan nilai pembukuan di atas Rp250 miliar. Sementara itu, dua entitas lainnya terklasifikasi dalam kategori skala kecil dengan kepemilikan aset di bawah Rp50 miliar.
Bila ditelisik dari kacamata sektoral, industri kesehatan (healthcare) tampil sebagai primadona yang mendominasi keranjang antrean IPO kali ini. Sektor potensial tersebut menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi mencapai 50 persen, yang secara langsung direpresentasikan oleh kehadiran dua calon emiten dari industri tersebut. Ke depan, pelaku pasar akan menantikan kiprah perusahaan pendatang baru ini di lantai bursa.
Melengkapi komposisi pipeline saham tersebut, dua calon emiten lainnya masing-masing merupakan representasi dari sektor barang baku (basic materials) dan barang konsumen nonprimer (consumer non-cyclicals).
Beralih pada instrumen surat utang, pergerakan antrean emisi obligasi justru memperlihatkan tren yang cukup pasif. Terhitung hingga 17 Juli 2026, otoritas bursa telah memfasilitasi penerbitan 114 emisi dari 62 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Akumulasi perolehan dana dari instrumen ini sukses menembus angka Rp103,86 triliun. Saat ini, BEI mencatat masih terdapat 11 emisi dari sembilan penerbit EBUS yang berada dalam daftar tunggu.
Berbanding terbalik dengan komposisi saham, dominasi antrean emisi obligasi justru dipimpin oleh sektor energi dengan kehadiran lima perusahaan (45,5%). Posisi selanjutnya diisi oleh sektor finansial dan infrastruktur yang masing-masing menyumbang porsi 18,2%, diikuti oleh sektor barang baku (9,1%), serta barang konsumen nonprimer (9,1%).
Pada lini aksi korporasi penambahan modal, skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue terpantau berjalan dengan stabil. Sebanyak 15 emiten tercatat telah menuntaskan eksekusi rights issue dengan total raupan dana mencapai Rp10,69 triliun. Rangkaian aksi korporasi ini menyisakan satu entitas perusahaan dari sektor properti dan real estat (properties & real estate) yang masih bersiap di dalam pipeline BEI.


