Emitenhub.com - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih menghadapi tekanan keuangan meskipun pendapatannya tumbuh lebih dari 50% sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Perseroan mencatat rugi bersih Rp3,26 triliun, sementara akumulasi defisit membesar menjadi Rp22,53 triliun per 30 September 2026.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang dipublikasikan Selasa (13/10/2026), pendapatan usaha Waskita meningkat 53,73% secara tahunan menjadi Rp8,13 triliun. Pada periode Januari hingga September 2025, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp5,29 triliun.
Pertumbuhan tersebut belum mampu mengembalikan profitabilitas perusahaan. Rugi periode berjalan memang menyusut sekitar 9,09% dari Rp3,58 triliun menjadi Rp3,26 triliun, tetapi beban operasional dan keuangan masih membatasi perbaikan kinerja.
Adapun rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp2,87 triliun, dibandingkan Rp3,17 triliun pada sembilan bulan pertama tahun sebelumnya.
Di tengah peningkatan pendapatan, laba bruto Waskita justru melemah menjadi Rp959,44 miliar dari sebelumnya Rp979,97 miliar.
Penurunan tersebut terjadi seiring kenaikan beban pokok pendapatan dari Rp4,31 triliun menjadi Rp7,17 triliun. Kenaikan biaya ini lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan pendapatan perseroan.
Akibatnya, margin laba bruto Waskita menyusut dari sekitar 18,5% menjadi 11,8%.
Beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp1,06 triliun, sedangkan beban penjualan mencapai Rp87,54 miliar selama sembilan bulan pertama 2026.
Beban Keuangan Waskita Masih Rp2,79 Triliun
Salah satu tekanan terbesar terhadap kinerja WSKT berasal dari beban keuangan yang mencapai Rp2,79 triliun hingga September 2026.
Meski lebih rendah dibandingkan Rp2,84 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, nilai tersebut masih jauh melampaui laba bruto yang dihasilkan perseroan.
Selain beban keuangan, Waskita membukukan bagian rugi bersih dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp149,41 miliar. Angka itu membaik dibandingkan kerugian Rp328,49 miliar pada periode Januari hingga September 2025.
Perbaikan pada sejumlah pos kerugian tersebut turut menekan rugi periode berjalan. Namun, peningkatan pendapatan belum cukup untuk menutup keseluruhan beban yang ditanggung perusahaan.
Defisit Membesar, Ekuitas WSKT Tinggal Rp1,04 Triliun
Tekanan keuangan Waskita juga terlihat dari posisi neraca perseroan pada akhir September 2026.
Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya tercatat negatif Rp22,53 triliun, dibandingkan defisit Rp20,22 triliun pada 31 Desember 2025.
Dalam periode sembilan bulan, akumulasi defisit tersebut bertambah sekitar Rp2,31 triliun.
Sejalan dengan kondisi itu, total ekuitas Waskita turun menjadi Rp1,04 triliun dari Rp3,67 triliun pada akhir tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk semakin negatif, dari minus Rp1,03 triliun menjadi minus Rp3,34 triliun.
Di sisi aset, Waskita mencatat kenaikan dari Rp70,73 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp73,07 triliun per September 2026.
Namun, peningkatan aset tersebut diikuti pertumbuhan total liabilitas yang lebih besar, yakni dari Rp67,06 triliun menjadi Rp72,03 triliun.
Dari keseluruhan kewajiban tersebut, liabilitas jangka pendek mencapai Rp25,66 triliun, sedangkan liabilitas jangka panjang tercatat sebesar Rp46,37 triliun.
Dengan total liabilitas yang mendekati nilai aset, ruang ekuitas Waskita semakin terbatas. Kondisi ini memperlihatkan besarnya tekanan pada struktur permodalan perseroan.
Kas Waskita Menyusut Rp2,94 Triliun
Selain kerugian dan penurunan ekuitas, posisi kas Waskita turut melemah sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Kas dan setara kas pada akhir September tercatat sebesar Rp1,50 triliun, dibandingkan Rp4,41 triliun pada akhir Desember 2025.
Dalam laporan arus kas, perseroan membukukan penurunan bersih kas dan setara kas sebesar Rp2,94 triliun selama periode berjalan.
Arus kas bersih dari aktivitas operasi masih negatif Rp1,14 triliun. Meski demikian, kondisi tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan arus kas operasi negatif Rp1,36 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Sementara itu, aktivitas investasi menggunakan kas bersih sebesar Rp1,17 triliun.
Sejumlah pengeluaran investasi mencakup perolehan aset takberwujud senilai Rp1,05 triliun serta pembelian kembali saham entitas anak sebesar Rp631,97 miliar.
Dari aktivitas pendanaan, Waskita mencatat arus kas bersih negatif Rp625,55 miliar.
Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan hingga September 2026 belum diikuti pemulihan laba maupun arus kas operasi yang positif. Waskita masih menghadapi kebutuhan pengelolaan kewajiban yang besar di tengah penurunan kas dan semakin terbatasnya ekuitas perusahaan.


