Emitenhub.com - Saham sektor perbankan dan komoditas masih menjadi pilihan analis di tengah tekanan suku bunga tinggi serta ketidakpastian ekonomi global. Emiten dengan fundamental kuat dan kemampuan mengelola biaya dinilai lebih siap menghadapi kondisi pasar yang bergejolak.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melemah 29,53% secara tahun berjalan atau year-to-date (YtD) hingga penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026). Tekanan juga terjadi pada sejumlah indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam sebesar 39,05%, diikuti sektor properti yang terkoreksi 36,53% sepanjang 2026.
Di tengah kondisi tersebut, analis menyoroti sektor energi, komoditas, dan perbankan sebagai alternatif investasi. Namun, ketahanan masing-masing saham tetap bergantung pada struktur biaya, kondisi keuangan, serta valuasi perusahaan.
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas Devi Praharsa menilai saham berbasis energi dan komoditas memiliki karakter relatif defensif ketika inflasi didorong kenaikan harga bahan baku serta energi.
Menurutnya, terdapat beberapa subsektor yang menarik dicermati, yakni batu bara, minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), pertambangan emas, dan logam industri.
Batu bara menjadi salah satu sektor yang diperhatikan karena Indonesia merupakan eksportir utama batu bara termal dunia. Kondisi keterbatasan pasokan energi global dapat memberikan keuntungan bagi produsen komoditas tersebut.
Sementara itu, harga CPO dipengaruhi dinamika pasokan dan permintaan serta tekanan inflasi. Karakteristiknya sebagai komoditas fisik menjadi salah satu pertimbangan dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Pada sektor pertambangan emas, kenaikan harga logam mulia dapat mendukung pendapatan emiten. Margin keuntungan juga dapat meningkat apabila biaya produksi dalam mata uang lokal tumbuh lebih lambat dibandingkan harga jual emas di pasar internasional.
Adapun logam industri tetap menjadi perhatian karena digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai kegiatan manufaktur.
Analis Soroti Saham Bank dengan Biaya Dana Rendah
Selain sektor komoditas, Devi menyarankan investor mempertimbangkan saham perbankan. Namun, kemampuan bank menghadapi suku bunga tinggi sangat dipengaruhi kondisi likuiditas dan pengelolaan biaya dana atau cost of fund (CoF).
Bank dengan biaya dana rendah dinilai memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan kinerja ketika suku bunga berada pada level tinggi.
“Bank ini tergantung dari likuiditas masing-masing bank, dan juga kemampuan bank itu sendiri menggunakan COF. COF rendah tentunya [suku bunga tinggi] tidak akan terlalu berdampak terhadap bank,” ujar Devi, akhir pekan lalu.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama turut menekankan pentingnya kualitas fundamental dalam pemilihan saham.
Menurut Nafan, investor ritel sebaiknya memprioritaskan perusahaan dengan kemampuan penetapan harga (pricing power) yang kuat, struktur keuangan sehat, serta pengelolaan biaya pendanaan yang efisien.
Ketiga faktor tersebut menjadi penting ketika pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global memberikan tekanan terhadap biaya operasional perusahaan.
Untuk sektor perbankan, Nafan menyoroti saham berkapitalisasi besar, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Ketiga emiten tersebut dinilai memiliki basis dana pihak ketiga yang relatif kuat serta kegiatan usaha yang terdiversifikasi. Kemampuan mempertahankan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga menjadi salah satu keunggulannya.
Meski demikian, investor tetap perlu mengevaluasi kualitas aset, biaya kredit, pertumbuhan penyaluran pinjaman, dan tingkat valuasi masing-masing saham sebelum berinvestasi.
Saham Konsumer Primer Masuk Pilihan
Nafan juga memasukkan sektor barang konsumsi primer (consumer staples) sebagai alternatif di tengah tekanan ekonomi. Dua emiten yang menjadi perhatian adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR).
Kedua perusahaan memiliki portofolio produk dengan karakter permintaan yang relatif stabil. Kondisi tersebut dapat membantu menjaga penjualan ketika daya beli masyarakat menghadapi tekanan.
Kemampuan menyesuaikan harga jual juga memungkinkan perusahaan meneruskan sebagian kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen.
Namun, Nafan mengingatkan bahwa kekuatan penetapan harga bukan jaminan saham akan menghasilkan imbal hasil positif. Valuasi yang tinggi dan penurunan margin keuntungan tetap menjadi risiko yang perlu diperhitungkan investor.
Analis Sarankan Investor Ritel Atur Ulang Alokasi Portofolio
Investor ritel disarankan menyesuaikan komposisi portofolio dengan tingkat risiko dan kebutuhan likuiditas di tengah volatilitas pasar saham. Diversifikasi antar sektor dan instrumen menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi konsentrasi risiko investasi.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama memberikan ilustrasi alokasi portofolio bagi investor berprofil risiko moderat dengan horizon investasi menengah hingga panjang.
Menurut Nafan, sekitar 50% hingga 60% dana investasi dapat ditempatkan pada saham dengan fundamental kuat. Pilihannya mencakup emiten perbankan berkapitalisasi besar dan perusahaan barang konsumsi primer yang memiliki karakter bisnis defensif.
Porsi berikutnya sebesar 20% hingga 30% dapat dialokasikan pada instrumen pendapatan tetap, termasuk obligasi dan reksa dana pendapatan tetap.
Adapun 10% hingga 20% sisanya dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang atau kas. Alokasi tersebut ditujukan untuk menjaga likuiditas sekaligus menyediakan dana ketika muncul peluang investasi.
"Komposisi tersebut bukan alokasi yang berlaku untuk semua investor sehingga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dana, toleransi risiko, dan jangka waktu investasi," jelas Nafan.
Bagi investor yang membutuhkan dana dalam waktu dekat, Nafan menyarankan pengurangan eksposur terhadap saham. Sementara itu, investor dengan toleransi risiko lebih tinggi dapat mempertimbangkan porsi ekuitas yang lebih besar sesuai kondisi keuangannya.
Pemilihan emiten juga perlu mempertimbangkan kualitas fundamental dan tingkat valuasi. Nafan mengingatkan investor agar tidak menempatkan dana secara berlebihan pada saham dengan volatilitas tinggi.
Keputusan investasi yang didorong kepanikan atau sekadar mengikuti saham yang sedang ramai diperdagangkan juga perlu dihindari.
Dalam kondisi pasar yang belum stabil, Nafan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan modal, pendapatan investasi, dan ketersediaan dana tunai.
Dengan demikian, strategi portofolio tidak hanya ditentukan oleh pilihan sektor saham, tetapi juga kesesuaian alokasi aset dengan kemampuan investor menanggung risiko. Disiplin diversifikasi dan pengelolaan likuiditas tetap menjadi perhatian dalam menghadapi perubahan kondisi pasar.


