Emitenhub.com - Harga kedelai global menghadapi tekanan ketidakpastian perdagangan dan pasokan setelah China mempertahankan tarif tambahan 10% terhadap kedelai Amerika Serikat (AS). Keterlambatan musim tanam di Brasil turut menjadi perhatian pasar, sementara harga kedelai berjangka di Chicago sempat menembus US$13 per gantang.
Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), kontrak berjangka kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) bergerak pada kisaran US$12,91 hingga US$13,01 per gantang. Pergerakan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian permintaan dari China dan perkembangan produksi di Amerika Selatan.
China tetap mengenakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap kedelai AS, meskipun kedua negara telah mencapai kesepakatan pengurangan tarif untuk sejumlah komoditas pertanian lainnya.
Kesepakatan yang diumumkan pada 28 September 2026 itu mencakup pengurangan tarif atas produk senilai US$60 miliar. Sejumlah komoditas yang memperoleh keringanan meliputi daging, susu, jagung, gandum, sorgum, dan minyak nabati.
Pengecualian kedelai dari kebijakan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan China memenuhi komitmen pembelian komoditas asal AS. Dalam kesepakatan yang dicapai pada Oktober 2025, China menyatakan komitmen membeli 25 juta ton kedelai AS setiap tahun selama tiga tahun.
Tarif tambahan tersebut menjadi hambatan bagi perusahaan pengolahan kedelai swasta di China. Sejumlah pelaku industri menilai biaya impor kedelai AS masih terlalu tinggi dibandingkan pasokan dari negara pesaing.
Meski demikian, aktivitas pembelian oleh perusahaan milik negara China terus berlangsung.
Berdasarkan data yang dikutip S&P Global, China telah mencatat komitmen pembelian 10,17 juta ton kedelai AS untuk tahun pemasaran 2026/2027. Transaksi tersebut terutama dilakukan oleh COFCO dan Sinograin.
Analis S&P Global CERA memperkirakan sekitar 3 juta hingga 4 juta ton dari total 6 juta ton pesanan dengan negara tujuan yang belum ditentukan akan dialihkan ke China.
Apabila perkiraan tersebut terealisasi, total komitmen pembelian kedelai AS oleh China dapat mencapai 13 juta hingga 14 juta ton.
Musim Tanam Brasil Terhambat Cuaca
Ketidakpastian pasokan kedelai global juga dipengaruhi perkembangan musim tanam di Brasil. Curah hujan yang tidak merata menyebabkan aktivitas penanaman pada awal Oktober 2026 berjalan lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sejumlah wilayah produksi, kondisi cuaca menghambat pekerjaan lapangan. Aktivitas penanaman di Paraná menghadapi gangguan cuaca, sementara beberapa lahan di Rio Grande do Sul dilaporkan mengalami kerusakan akibat embun beku.
Mato Grosso, salah satu wilayah penghasil biji-bijian terbesar di Brasil, juga menghadapi keterbatasan penanaman pada awal musim. Sebagian aktivitas baru dapat dilakukan di lahan yang memiliki fasilitas irigasi.
Data konsultan pertanian AgRural menunjukkan penanaman kedelai Brasil baru mencapai 7,3% dari luas lahan yang direncanakan hingga awal Oktober. Angka tersebut berada di bawah realisasi 9% pada periode yang sama tahun lalu.
Risiko cuaca turut dipengaruhi fenomena El Nino. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sebelumnya memperkirakan peluang lebih dari 90% terjadinya El Nino sangat kuat pada musim gugur dan dingin 2026/2027.
S&P Global CERA memproyeksikan produksi kedelai Brasil pada tahun pemasaran 2026/2027 mencapai sekitar 177 juta ton. Perkiraan tersebut lebih rendah 2,7% dibandingkan produksi musim sebelumnya.
Tekanan terhadap prospek produksi juga berasal dari tingginya biaya pupuk, suku bunga, serta risiko perubahan cuaca. Kondisi tersebut memengaruhi margin keuntungan petani dan keputusan pengembangan lahan.
Proyeksi Pasokan Kedelai AS dan Brasil
Di Amerika Serikat, Departemen Pertanian AS atau United States Department of Agriculture (USDA) menaikkan perkiraan produksi kedelai untuk tahun pemasaran 2026/2027.
Dalam laporan September 2026, proyeksi produksi meningkat 16 juta gantang menjadi sekitar 4,5 miliar gantang. Kenaikan tersebut didukung penambahan luas lahan serta perbaikan estimasi produktivitas.
Luas lahan tanam diperkirakan mencapai 86,9 juta acre, sedangkan luas panen sebesar 85,9 juta acre. Keduanya mengalami kenaikan masing-masing 0,1 juta acre dibandingkan perkiraan sebelumnya.
National Agricultural Statistics Service (NASS) juga meningkatkan proyeksi rata-rata hasil panen kedelai dari 52,7 menjadi 52,8 gantang per acre.
Dengan pasokan yang lebih tinggi, USDA menaikkan proyeksi ekspor kedelai AS sebesar 25 juta gantang menjadi 1,69 miliar gantang.
Sementara itu, perkiraan stok akhir untuk tahun pemasaran 2026/2027 turun sebesar 10 juta gantang menjadi 310 juta gantang.
Di Brasil, proyeksi produksi dari sejumlah lembaga menunjukkan peluang pencapaian rekor panen meskipun musim tanam mengalami keterlambatan.
Badan Pasokan Nasional Brasil (CONAB) memperkirakan produksi kedelai 2026/2027 mencapai sekitar 181,6 juta ton. Luas lahan yang diproyeksikan digunakan untuk penanaman mencapai 49,3 juta hektare.
Perkiraan AgRural berada pada level lebih tinggi, yakni 182,7 juta ton berdasarkan pembaruan awal Oktober 2026. Konsultan tersebut memperkirakan luas tanam mencapai 49,159 juta hektare.
Analis AgRural Adriano Gomes menjelaskan bahwa estimasi produktivitas masih menggunakan pendekatan tren historis. Perhitungan tersebut belum sepenuhnya didasarkan pada kondisi tanaman di lapangan karena proses penanaman masih berada pada tahap awal.
Perbedaan proyeksi antarlembaga memperlihatkan ketidakpastian yang masih menyertai prospek produksi kedelai Brasil. Realisasi musim tanam, perkembangan cuaca, dan pembelian China akan menjadi faktor penting dalam menentukan keseimbangan pasokan dan permintaan kedelai global.


