Ekonomi

Kelas Menengah RI Susut 10,6 Juta Orang, Target Ekonomi 8% Terancam? Mirae Soroti MAPA dan ERAL

Ringkasan Cepat

Mirae Asset Sekuritas menyoroti tantangan Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 di tengah penyusutan kelas menengah sebanyak 10,6 juta orang dan lemahnya konsumsi rumah tangga. Tingginya pekerja informal, pengangguran usia muda, serta penuaan penduduk turut membatasi potensi bonus demografi. Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, Mirae Asset melihat peluang pada emiten gaya hidup dan kebugaran seperti MAPA dan ERAL, sekaligus mencermati dampak demografi terhadap obligasi peme

• 6 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi penyusutan kelas menengah Indonesia sebanyak 10,6 juta orang dan tantangan mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas.

Ilustrasi penyusutan kelas menengah Indonesia sebanyak 10,6 juta orang dan tantangan mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas.

Emitenhub.com - Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% pada 2029 menghadapi tantangan dari pelemahan daya beli masyarakat dan persoalan struktural di pasar tenaga kerja. Penyusutan jumlah penduduk kelas menengah serta tingginya proporsi pekerja informal dinilai menjadi hambatan bagi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menilai perekonomian Indonesia belum mampu keluar dari kisaran pertumbuhan 5% sejak pandemi Covid-19. Salah satu penyebab yang menjadi perhatian adalah pemulihan konsumsi rumah tangga yang masih terbatas.

Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar dalam perekonomian Indonesia dengan kontribusi sekitar 53% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dalam riset tertanggal 8 Oktober 2026, Jessica mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga rata-rata masih berada di bawah 5% sejak pandemi. Kondisi tersebut berlangsung meskipun pemerintah meningkatkan dukungan melalui belanja negara sepanjang 2024–2026.

Di sisi lain, tingkat pengangguran telah turun menjadi 4,7%, yang menurut riset tersebut merupakan posisi terendah dalam rangkaian data yang digunakan.

Namun, penurunan angka pengangguran dinilai belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kualitas lapangan kerja maupun kemampuan masyarakat dalam meningkatkan daya beli.

Kelas Menengah Indonesia Berkurang 10,6 Juta Orang

Salah satu persoalan yang disoroti Mirae Asset adalah berkurangnya jumlah penduduk kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2019, populasi kelas menengah Indonesia tercatat mencapai 57,3 juta orang. Jumlah tersebut menyusut menjadi 46,7 juta orang pada 2025.

Artinya, jumlah penduduk dalam kelompok kelas menengah berkurang sekitar 10,6 juta orang selama enam tahun.

Penyusutan tersebut menjadi perhatian karena kelas menengah memiliki peran penting dalam menopang konsumsi domestik, terutama untuk pembelian barang dan jasa di luar kebutuhan pokok.

Tekanan terhadap konsumsi juga berkaitan dengan struktur pasar tenaga kerja. Berdasarkan riset tersebut, sekitar 57% pekerja Indonesia masih berada di sektor informal.

Besarnya proporsi pekerja informal menunjukkan bahwa penurunan pengangguran belum otomatis diikuti peningkatan kualitas pekerjaan. Kondisi pendapatan dan perlindungan kerja menjadi faktor yang turut memengaruhi kemampuan konsumsi rumah tangga.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting di tengah periode bonus demografi Indonesia. Besarnya populasi usia produktif belum tentu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi apabila tidak didukung kesempatan kerja dengan produktivitas dan pendapatan memadai.

Ketimpangan Pendapatan Kembali Meningkat

Mirae Asset juga menyoroti perkembangan ketimpangan ekonomi sebagai tantangan lain dalam memperkuat konsumsi domestik.

Dalam risetnya, Jessica mencatat koefisien Gini Indonesia meningkat dari 0,36 pada 2025 menjadi 0,37 pada 2026.

Kenaikan indikator tersebut menunjukkan distribusi pengeluaran atau pendapatan yang diukur dalam riset menjadi lebih timpang.

Kondisi ini dikaitkan dengan pola pemulihan ekonomi berbentuk K atau K-shaped recovery, yakni ketika kelompok masyarakat tertentu mengalami perbaikan kondisi ekonomi lebih cepat, sementara kelompok lainnya tertinggal.

Perbedaan laju pemulihan tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi tidak dirasakan secara merata. Pada saat yang sama, kemampuan konsumsi sebagian rumah tangga masih tertahan meskipun indikator ekonomi secara agregat menunjukkan perbaikan.

Bagi Indonesia, persoalan tersebut menjadi tantangan dalam mengejar target pertumbuhan 8% pada 2029. Peningkatan aktivitas ekonomi perlu disertai perbaikan kualitas pekerjaan dan kemampuan belanja rumah tangga agar konsumsi domestik dapat tumbuh lebih kuat.

Bonus Demografi Indonesia Hadapi Tantangan Penuaan Penduduk

Indonesia diperkirakan mencapai puncak bonus demografi pada 2030 dengan jumlah penduduk sekitar 294,1 juta jiwa. Pada periode tersebut, proporsi penduduk usia produktif masih relatif besar dibandingkan kelompok usia anak-anak dan lanjut usia.

Namun, besarnya populasi produktif belum menjamin percepatan pertumbuhan ekonomi. Mirae Asset Sekuritas menilai manfaat bonus demografi sangat bergantung pada kemampuan Indonesia meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperluas kesempatan kerja.

Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menjelaskan bahwa perubahan struktur penduduk dapat mendorong konsumsi rumah tangga apabila disertai peningkatan pendapatan per kapita.

Dengan PDB per kapita Indonesia sebesar US$5.059,6, riset tersebut memperkirakan faktor demografi berpotensi memberikan tambahan pertumbuhan konsumsi sekitar 2 poin persentase.

Dari jumlah tersebut, penurunan tingkat fertilitas diperkirakan berkontribusi sekitar 0,6 poin persentase. Sementara itu, tambahan 1,4 poin persentase berpotensi berasal dari penduduk lanjut usia yang tetap aktif bekerja dan menunda masa pensiun.

Meski demikian, potensi tersebut belum tentu terealisasi apabila kondisi pasar tenaga kerja dan daya beli tidak mengalami perbaikan.

Jessica memperkirakan konsumsi rumah tangga perlu tumbuh setidaknya 7% untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada 2029.

Kebutuhan pertumbuhan konsumsi tersebut tetap tinggi meskipun investasi diasumsikan meningkat 12,8% secara tahunan dan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB mencapai target 28%.

Sektor manufaktur menjadi salah satu tumpuan peningkatan produktivitas ekonomi. Namun, pertumbuhan investasi dan kapasitas produksi juga perlu menghasilkan lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang memadai.

Tanpa perbaikan kualitas tenaga kerja, Indonesia berisiko kehilangan sebagian manfaat bonus demografi sebelum struktur penduduk bergeser menuju masyarakat yang semakin menua.

Pengangguran Didominasi Usia Muda, Banyak Lansia Masih Bekerja

Ketimpangan kesempatan kerja antarkelompok usia menjadi persoalan lain yang disoroti dalam riset Mirae Asset.

Sebanyak 73% pengangguran di Indonesia berasal dari kelompok usia 15–34 tahun. Pada saat yang sama, sekitar 54,21% penduduk berusia 60 tahun ke atas masih bekerja.

Data tersebut memperlihatkan tantangan pasar tenaga kerja Indonesia dari dua sisi. Sebagian penduduk usia muda belum memperoleh pekerjaan, sedangkan banyak penduduk lanjut usia masih berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi.

Tingginya proporsi pengangguran muda menunjukkan bahwa besarnya populasi usia produktif belum sepenuhnya terserap oleh pasar tenaga kerja.

Sementara itu, keberadaan pekerja lanjut usia dapat mencerminkan berbagai kondisi, termasuk pilihan untuk tetap produktif maupun kebutuhan mempertahankan penghasilan setelah memasuki usia pensiun.

Situasi tersebut menjadi penting karena perubahan struktur penduduk juga berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan lansia.

Apabila penciptaan lapangan kerja produktif tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja, potensi tambahan konsumsi dari bonus demografi dapat menjadi lebih terbatas.

Mirae Asset Soroti Peluang MAPA dan ERAL

Di tengah pertumbuhan konsumsi yang masih tertahan, Mirae Asset melihat adanya perubahan pola belanja masyarakat yang dapat membuka peluang bagi sejumlah emiten sektor konsumer.

Konsumen dinilai dapat mengalihkan pengeluaran ke produk atau aktivitas dengan biaya lebih terjangkau tanpa sepenuhnya meninggalkan kebutuhan gaya hidup.

Pergeseran tersebut berkaitan dengan fenomena lipstick effect, yakni kecenderungan konsumen tetap membeli produk atau menikmati pengalaman tertentu dalam skala lebih kecil ketika menghadapi keterbatasan anggaran.

Salah satu tren yang menjadi perhatian adalah meningkatnya minat terhadap aktivitas olahraga dan kebugaran.

Dalam risetnya, Mirae Asset menyoroti PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dan PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) sebagai emiten yang memiliki eksposur terhadap pasar tersebut.

MAPA memiliki portofolio produk olahraga, termasuk sepatu lari dan pakaian olahraga. Sementara itu, ERAL memiliki bisnis ritel yang mencakup perlengkapan olahraga serta perangkat teknologi yang dapat dikenakan atau wearables.

Perkembangan aktivitas kebugaran dinilai dapat memperluas peluang penjualan bagi kedua perusahaan, baik melalui peningkatan kunjungan ke gerai maupun pembelian produk pelengkap.

Meski demikian, pertumbuhan pendapatan dari tren tersebut tetap bergantung pada kemampuan masing-masing emiten menjangkau konsumen dan mempertahankan permintaan di tengah tekanan daya beli.

Penuaan Penduduk Berpotensi Memengaruhi Pasar Obligasi Pemerintah

Selain sektor konsumsi, Mirae Asset turut menyoroti dampak perubahan demografi terhadap pasar surat utang negara atau Indonesian Government Bonds (INDOGB).

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia diperkirakan akan menambah kebutuhan pembiayaan untuk program pensiun, kesehatan, dan layanan sosial dalam jangka panjang.

Kebutuhan belanja tersebut berpotensi memengaruhi posisi fiskal pemerintah. Apabila tambahan pengeluaran dibiayai melalui penerbitan surat utang, pasokan obligasi pemerintah dapat meningkat.

Dengan demikian, perubahan struktur demografi tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan konsumsi dan ketersediaan tenaga kerja, tetapi juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai kebutuhan pembiayaan negara.

Iklan