MINE Hadapi Risiko Kelangsungan Usaha, Kontrak WBN Berakhir Desember 2026 (53% Pendapatan)
PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) menghadapi tantangan kelangsungan usaha karena kontrak utama dengan PT Weda Bay Nickel akan berakhir 14 Desember 2026. Kontribusi WBN mencapai 53% pendapatan atau Rp1,25 triliun di 2025, sementara margin laba bruto turun tajam ke 17,2%. Manajemen sudah mulai diversifikasi pelanggan dan mencatat perbaikan gearing ratio pasca IPO.
pt sinar terang mandiri tbk mine risiko kontrak weda bay nickel 2026 (Foto:MINE)
Emitenhub.com - PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) mengungkapkan tengah menghadapi tantangan kelangsungan usaha seiring berakhirnya kontrak dengan pelanggan utama perseroan.
Kontrak jangka panjang bernomor WBN-K-19012 dengan PT Weda Bay Nickel (WBN) dijadwalkan berakhir pada 14 Desember 2026 setelah meneken kerja sama tujuh tahun lamanya sejak 2019.
Ketergantungan MINE atas WBN ditengarai cukup tinggi, di mana kontribusi pendapatan dari entitas tersebut mencakup hampir 53,0 persen dari total pendapatan bersih perseroan atau setara Rp1,25 triliun pada tahun 2025.
“Konsentrasi ini terjadi karena WBN merupakan pelanggan strategis utama dengan proyek pengembangan dan pengoperasian pertambangan nikel skala besar di Pulau Halmahera, Maluku Utara,” ungkap manajemen melalui keterbukaan informasi, Jumat (17/7).
Selain itu, piutang MINE kepada WBN menembus angka Rp328,89 miliar atau setara dengan 65,5 persen dari total piutang perseroan sebesar Rp502,42 miliar per akhir 2025.
Meski begitu, manajemen MINE mengatakan telah memulai diversifikasi dengan memperluas basis pelanggan melalui kerja sama dengan PT Sulawesi Cahaya Mineral dan PT Erabaru Timur Lestari untuk mengurangi konsentrasi risiko di satu pihak.
Di sisi profitabilitas, MINE melaporkan adanya tekanan besar akibat pembengkakan Beban Pokok Pendapatan (BPP) yang tumbuh 25,3 persen, jauh melampaui pertumbuhan pendapatan yang hanya sebesar 11,5 persen. Lonjakan beban ini utamanya dipicu oleh kenaikan biaya penyusutan aset tetap akibat ekspansi alat berat yang masif di lapangan, serta kenaikan biaya tenaga kerja dan bahan bakar.
Akibatnya, margin laba bruto MINE merosot tajam dari 26,3 persen di tahun 2024 menjadi 17,2 persen pada tahun 2025. Realisasi laba bruto perseroan sepanjang tahun lalu bahkan hanya mencapai 72,1 persen dari target proyeksi awal manajemen.
“Di tahun 2025, Perseroan menambah alat berat untuk proyek baru melalui skema sewa pembiayaan (leasing), terlihat dari timbulnya Liabilitas Sewa sebesar Rp422.673 juta. Hal ini berbeda dengan tahun 2024 yang lebih didominasi akuisisi aset secara tunai/pinjaman bank,” ungkap manajemen.
Langkah ini berdampak pada melonjaknya total beban keuangan/bunga perseroan sebesar 95,9 persen menjadi Rp66,26 miliar pada tahun 2025. Manajemen mengakui jika pembatasan utang (covenant) terlanggar, perseroan menghadapi risiko penarikan kredit seketika (recall) dan gagal bayar silang (cross-default).
Namun demikian, per 31 Maret 2026, posisi rasio utang terhadap modal (gearing ratio) MINE dilaporkan membaik ke angka 0,65x (berada di bawah batas maksimal kreditur sebesar 3,5x - 4x) berkat tambahan struktur modal pasca pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO).
Adapun hasil dari strategi diversifikasi yang telah dimulai perseroan tercermin dalam perolehan pendapatan pada kuartal I 2026.
“Efektivitas strategi ini terlihat pada Laporan Interim 31 Maret 2026, di mana kontribusi pendapatan dari PT Sulawesi Cahaya Mineral melonjak tajam menjadi Rp150.630 juta, sekitar 22,2 persen dari total pendapatan Q1,” ungkap manajemen.


